Olahraga lari kini tidak lagi sekadar aktivitas fisik untuk menjaga kebugaran. Di kalangan Generasi Z, lari berkembang menjadi tren gaya hidup yang memadukan kesehatan, ekspresi diri, hingga ruang sosial baru. Dari taman kota hingga event fun run, semakin banyak anak muda memilih lari sebagai bagian dari rutinitas harian mereka.
Fenomena ini terlihat dari meningkatnya jumlah komunitas lari Gen Z di berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, hingga Malang. Komunitas tersebut bukan hanya tempat berlatih, tetapi juga wadah berbagi pengalaman, motivasi, serta memperluas pertemanan.
Media sosial menjadi salah satu pendorong utama tren ini. Platform seperti Instagram, TikTok, dan Strava digunakan untuk membagikan aktivitas lari, jarak tempuh, hingga gaya berpakaian saat berlari. Konten seputar olahraga lari kini tampil lebih estetik dan menarik bagi anak muda.
“Olahraga lari itu sudah bukan cuma olahraga, tapi lifestyle. Banyak event seperti fun run, night run, sampai marathon yang bikin anak muda tertarik ikut. Posting foto after run di media sosial juga jadi kepuasan tersendiri,” ujar Tika, warga Malang yang aktif membagikan aktivitas larinya di Instagram, Kamis (16/10/2025).
Tagar seperti #MorningRun, #StravaAddict, dan #RunnerStyle ikut meramaikan tren ini. Dalam banyak kasus, unggahan tersebut mendorong orang lain untuk mencoba lari meski sebelumnya tidak tertarik olahraga.
Motivasi Gen Z untuk berlari pun tidak hanya soal kesehatan fisik. Banyak yang menjadikan lari sebagai sarana healing, mengurangi stres pekerjaan atau kuliah, sekaligus menjaga kesehatan mental.
“Motivasi saya sederhana, pengin hidup sehat dan menjadikan lari sebagai pelarian yang positif. Setelah lari, stres berkurang dan tidur lebih nyenyak,” lanjut Tika.
Daya tarik lain datang dari perkembangan fashion olahraga. Berbagai merek merilis sportwear dan sepatu lari yang nyaman sekaligus stylish. Sneakers lari bahkan kini menjadi bagian dari tren fesyen anak muda.
Lonjakan minat juga terlihat dari ramainya event lari seperti fun run, night run, charity run, hingga marathon amatir. Namun bagi Gen Z, kebersamaan dan pengalaman menjadi fokus utama, bukan sekadar kompetisi.
“Sekarang lari sudah seperti me time versi aktif. Bisa refleksi diri, jaga mental, dan ketemu orang-orang positif. Jadi bukan cuma olahraga, tapi cara menjaga mood tetap stabil,” jelasnya.
Tren ini menunjukkan bahwa olahraga lari telah bertransformasi menjadi bagian penting dari gaya hidup generasi muda. Dukungan komunitas, media sosial, serta meningkatnya kesadaran akan kesehatan fisik dan mental membuat tren lari diperkirakan terus berkembang.
“Lari itu simpel, tidak perlu alat ribet atau tempat khusus. Cukup pakai sepatu dan mulai. Hasilnya terasa, badan lebih fit dan pikiran lebih segar, apalagi kalau pagi,” tutup Tika.






