Obama Soroti Bahaya AI yang Berkembang Cepat, Minta AS Segera Siapkan Aturan

by
Foto: Ilustrasi / Bertuahpos

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin cepat mendapat perhatian dari mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Ia mendorong para pembuat kebijakan di negaranya segera menyiapkan kerangka tata kelola yang jelas untuk mengantisipasi risiko sekaligus memastikan teknologi tersebut tetap memberikan manfaat.

Pernyataan Obama disampaikan dalam sebuah acara penggalangan dana tertutup Partai Demokrat di New York pada Kamis, 10 September 2026. Dalam kesempatan tersebut, Obama berdiskusi dengan Pemimpin Minoritas DPR AS Hakeem Jeffries mengenai arah kebijakan AI.

Menurut laporan yang dipublikasikan The New York Times, Obama menilai perkembangan AI yang berlangsung sangat cepat di sektor swasta membutuhkan perhatian serius dari pemerintah. Ia memperingatkan bahwa teknologi tersebut dapat menimbulkan bahaya apabila tidak dikelola dengan baik.

Obama meminta Partai Demokrat menyusun kerangka pembahasan publik mengenai AI apabila nantinya memperoleh kembali kendali DPR AS.

Menurutnya, isu AI perlu dibahas secara lebih terstruktur, bukan hanya dari sisi perkembangan teknologi, tetapi juga menyangkut keselamatan dan dampaknya terhadap masyarakat.

Ia juga menyebut kandidat presiden pada pemilu 2028 perlu memiliki rencana yang jelas mengenai bagaimana Amerika Serikat akan menghadapi perkembangan AI.

Meski menyoroti potensi risiko, Obama tidak menggambarkan AI semata-mata sebagai ancaman. Ia mengatakan teknologi tersebut juga dapat membawa manfaat besar apabila dikelola dengan tepat.

Salah satu manfaat yang disoroti Obama adalah kemampuan AI dalam mempercepat penelitian dan pengembangan obat.

Ia melihat teknologi tersebut berpotensi membantu ilmuwan menemukan pendekatan baru dalam pengobatan penyakit serta mendukung pencarian solusi untuk persoalan energi bersih.

Pandangan tersebut menunjukkan posisi Obama yang mencoba melihat dua sisi perkembangan AI: peluang yang dapat dimanfaatkan sekaligus risiko yang perlu dikendalikan.

Dalam pembicaraannya, ia menempatkan dirinya di antara kelompok yang mendorong percepatan pengembangan AI dan kelompok yang menginginkan penghentian atau perlambatan secara drastis.

Selain aspek keselamatan, Obama juga menyoroti konsekuensi ekonomi dari semakin luasnya penggunaan AI.

Otomatisasi berbasis AI berpotensi mengubah berbagai jenis pekerjaan. Karena itu, menurut Obama, pemerintah perlu memikirkan sejak awal bagaimana menghadapi kemungkinan berkurangnya pekerjaan tertentu akibat teknologi tersebut.

Persoalan yang perlu dibahas bukan hanya jumlah pekerjaan yang hilang, tetapi juga bagaimana masyarakat dapat beradaptasi apabila sebagian pekerjaan manusia digantikan atau berubah akibat AI.

Isu tersebut menjadi semakin relevan karena kemampuan AI terus berkembang dan penggunaannya meluas ke berbagai sektor ekonomi.

Obama turut menyinggung dampak AI terhadap generasi muda.

Menurut laporan mengenai pernyataannya, ia mendorong adanya pembahasan mengenai langkah untuk melindungi anak-anak dari dampak negatif teknologi tersebut.

Perhatian itu mencakup bagaimana AI digunakan oleh generasi muda serta bagaimana perkembangan teknologi dapat memengaruhi kehidupan sosial dan pendidikan mereka.

Dengan perkembangan AI yang berlangsung cepat, persoalan perlindungan pengguna menjadi salah satu aspek yang dinilai perlu masuk dalam pembahasan kebijakan.

Pernyataan Obama muncul ketika perdebatan mengenai keamanan dan pengawasan AI sedang menguat di Amerika Serikat.

Sejumlah pemimpin perusahaan AI juga belakangan menyampaikan kekhawatiran mengenai laju perkembangan teknologi tersebut. CEO Anthropic Dario Amodei, misalnya, menyerukan pendekatan yang lebih terkoordinasi terhadap pengembangan AI dan standar keselamatan.

Di sisi lain, terdapat pula pandangan yang menekankan pentingnya mempertahankan kecepatan inovasi agar Amerika Serikat tidak tertinggal dari negara pesaing, terutama China. Perdebatan tersebut membuat isu regulasi AI menjadi semakin kompleks.

Di Washington, belum terdapat kesepakatan tunggal mengenai sejauh mana pemerintah harus mengatur perkembangan AI.

Sebagian anggota Kongres mendorong aturan keselamatan yang lebih ketat, sementara pihak lain menekankan risiko regulasi terhadap inovasi dan daya saing industri teknologi AS. Perdebatan tersebut juga melibatkan kepentingan ekonomi, keamanan nasional, perlindungan tenaga kerja, dan perlindungan konsumen.

Dalam konteks tersebut, seruan Obama menambah perhatian terhadap kebutuhan membangun kerangka kebijakan AI yang lebih jelas.

Bagi Amerika Serikat, tantangannya bukan hanya bagaimana mengembangkan teknologi AI, tetapi juga menentukan mekanisme pengawasan yang dapat mengurangi risiko tanpa menghilangkan potensi manfaatnya.

Perdebatan mengenai masa depan AI pun diperkirakan akan terus menjadi salah satu isu penting dalam kebijakan teknologi dan ekonomi AS.