<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>opini - SamarindaNews</title>
	<atom:link href="https://samarindanews.com/tag/opini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://samarindanews.com</link>
	<description>Samarindanews.Com</description>
	<lastBuildDate>Fri, 31 Oct 2025 07:16:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.3</generator>
	<item>
		<title>Andreas Sumual: Satu Komando Kunci Kesuksesan Organisasi Setya Kita Pancasila</title>
		<link>https://samarindanews.com/kolom/3783/andreas-sumual-satu-komando-kunci-kesuksesan-organisasi-setya-kita-pancasila/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 31 Oct 2025 07:16:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[kolom]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=3783</guid>

					<description><![CDATA[<p>JAKARTA — Ketua Umum Setya Kita Pancasila, Andreas Sumual, menegaskan bahwa prinsip satu komando merupakan kunci utama dalam menjaga efektivitas dan kesuksesan organisasi. Menurutnya,</p>
<p>The post <a href="https://samarindanews.com/kolom/3783/andreas-sumual-satu-komando-kunci-kesuksesan-organisasi-setya-kita-pancasila/">Andreas Sumual: Satu Komando Kunci Kesuksesan Organisasi Setya Kita Pancasila</a> first appeared on <a href="https://samarindanews.com">SamarindaNews</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA —</strong> Ketua Umum <strong>Setya Kita Pancasila</strong>, Andreas Sumual, menegaskan bahwa prinsip satu komando merupakan kunci utama dalam menjaga efektivitas dan kesuksesan organisasi. Menurutnya, setiap anggota harus memahami dan menerapkan prinsip kesatuan komando agar tidak terjadi kebingungan dalam pelaksanaan tugas di lapangan.</p>
<p>“Ormas harus satu komando. Prinsip ini sangat penting dalam manajemen organisasi yang efektif. Setiap anggota hanya menerima arahan dari satu atasan, sehingga koordinasi berjalan jelas dan tidak tumpang tindih,” ujar Andreas di Jakarta, Jumat (31/10/2025).</p>
<p>Andreas menekankan bahwa koordinasi antar-pengurus di setiap wilayah perlu terus diperkuat. Selain itu, peningkatan kinerja untuk kepentingan masyarakat harus menjadi prioritas utama dalam setiap program kerja organisasi.</p>
<p>“Setya Kita Pancasila bukan hanya jembatan aspirasi masyarakat ke pemerintah, tetapi juga memiliki visi besar untuk menjaga keutuhan ideologi Pancasila dan menyesuaikannya dengan perkembangan zaman,” tegasnya.</p>
<p>Ia juga menyoroti pentingnya komunikasi yang intens antara pengurus daerah dengan pemerintah. Menurutnya, hubungan yang baik akan memudahkan organisasi berperan aktif dalam memberikan solusi atas berbagai persoalan sosial sebelum menjadi masalah besar.</p>
<p>“Koordinasi dan komunikasi dengan pemerintah harus terus dijaga. Kita ingin hadir sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar penonton,” kata Andreas.</p>
<p>Lebih lanjut, ia mengingatkan seluruh jajaran pengurus di daerah agar selalu mengikuti arahan pusat dalam satu komando. Sikap disiplin dan kebersamaan, menurutnya, akan menjadi fondasi kuat untuk mencapai tujuan organisasi secara nasional.</p>
<p>“Pesan saya jelas, semua pengurus di daerah harus mengikuti satu komando. Inilah yang akan memperkuat arah perjuangan kita,” tutupnya.</p>
<p>Andreas juga menegaskan bahwa Setya Kita Pancasila siap mendukung dan membantu program kerja Presiden Prabowo Subianto, terutama dalam memperkuat ideologi Pancasila di tengah masyarakat.(MJ)</p><p>The post <a href="https://samarindanews.com/kolom/3783/andreas-sumual-satu-komando-kunci-kesuksesan-organisasi-setya-kita-pancasila/">Andreas Sumual: Satu Komando Kunci Kesuksesan Organisasi Setya Kita Pancasila</a> first appeared on <a href="https://samarindanews.com">SamarindaNews</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Air Bah dan Krisis Resapan</title>
		<link>https://samarindanews.com/kolom/3770/air-bah-dan-krisis-resapan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2025 07:16:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=3770</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis: Letnan Jenderal TNI (Purn.) Besar Harto Karyawan BANJIR bukanlah kejadian alam yang tiba-tiba datang tanpa sebab. Ia adalah cerminan dari cara</p>
<p>The post <a href="https://samarindanews.com/kolom/3770/air-bah-dan-krisis-resapan/">Air Bah dan Krisis Resapan</a> first appeared on <a href="https://samarindanews.com">SamarindaNews</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h6><em><b>Penulis: </b><span style="font-weight: 400;">Letnan Jenderal TNI (Purn.) Besar Harto Karyawan</span></em></h6>
<hr />
<p><b>BANJIR</b><span style="font-weight: 400;"> bukanlah kejadian alam yang tiba-tiba datang tanpa sebab. Ia adalah cerminan dari cara manusia memperlakukan bumi. Ketika curah hujan tinggi mengguyur, air yang seharusnya diserap tanah justru tumpah ruah ke sungai dan meluap menjadi air bah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di balik fenomena itu, tersembunyi krisis besar: rusaknya daerah aliran sungai (DAS) yang menjadi tulang punggung tata air di bumi.</span></p>
<p><a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Daerah_aliran_sungai"><span style="font-weight: 400;">Daerah aliran sungai</span></a><span style="font-weight: 400;"> adalah sistem alami yang mengatur perjalanan air dari hulu hingga ke hilir. Namun, kini banyak DAS kehilangan kemampuan dasarnya: menampung, menyerap, dan menyalurkan air secara seimbang. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kapasitas sungai menurun drastis akibat pendangkalan, penyempitan, serta sumbatan dari sedimen dan sampah yang menumpuk tanpa kendali.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika hujan deras datang, ribuan kubik air dari berbagai penjuru mengalir deras menuju DAS secara bersamaan. </span><span style="font-weight: 400;">Debit air </span><span style="font-weight: 400;">meningkat dalam waktu singkat, melampaui daya tampung aliran.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sungai yang tak lagi mampu menahan tekanan itu akhirnya meluap, melibas rumah-rumah, sawah, hingga jalan raya. Inilah awal dari bencana yang kita sebut banjir dan air bah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Salah satu penyebab utama kondisi ini adalah hilangnya fungsi resapan air di daratan. Dulu, air hujan memiliki waktu untuk meresap perlahan melalui akar-akar pohon dan pori-pori tanah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kini, hutan-hutan gundul membuat air hujan langsung jatuh ke permukaan tanah tanpa proses filtrasi alamiah. Air tak lagi punya waktu untuk masuk ke bumi. Ia mengalir cepat ke sungai, mempercepat peningkatan volume air dalam waktu bersamaan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ironisnya, urbanisasi memperparah keadaan. Permukaan kota yang tertutup aspal, beton, dan bangunan membuat air hujan kehilangan jalan untuk meresap.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setiap rumah tangga, industri, hingga kawasan komersial menyumbang volume air yang luar biasa besar ke sistem drainase kota. Satu rumah saja bisa menghasilkan 2–4 kubik air hujan yang langsung dibuang ke parit tanpa peresapan. Kalikan dengan ribuan rumah—hasilnya adalah tekanan luar biasa pada sungai.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Parit dan gorong-gorong yang seharusnya berfungsi sebagai jalur pengalir air sementara kini menjadi saluran utama yang mempercepat arus air ke DAS. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tanpa sistem penyaring dan penampungan, semua air ini berkumpul di sungai secara bersamaan. Ketika curah hujan ekstrem terjadi, tak ada lagi waktu atau ruang bagi air untuk mengendap. Sungai pun menjadi bom waktu yang siap meluap kapan saja.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Masalah ini diperparah dengan hambatan dari laut. Di banyak wilayah pesisir, banjir darat seringkali bertepatan dengan air pasang atau rob. Saat laut naik, air sungai tertahan dan tak bisa mengalir keluar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akibatnya, air justru berbalik ke daratan, menambah parah genangan. Kombinasi antara curah hujan tinggi dan pasang laut menciptakan bencana ganda yang sulit dikendalikan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun semua ini bukan tanpa solusi. Kuncinya ada pada mengembalikan fungsi peresapan air—baik melalui cara alami maupun buatan. Hutan harus direhabilitasi agar kembali menjalankan perannya sebagai penyimpan air.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di wilayah perkotaan, masyarakat dapat membangun sumur resapan, biopori, taman resapan, dan ruang hijau terbuka untuk menahan air sementara sebelum masuk ke sistem drainase.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain itu, penataan ulang lahan di daerah pegunungan sangat penting. Sistem sengkedan atau terasering bisa membantu memperlambat aliran air, memberi waktu bagi air untuk meresap. Pemerintah juga perlu memastikan setiap proyek infrastruktur besar memiliki sistem pengelolaan air yang berkelanjutan, bukan sekadar betonisasi saluran.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Proses peresapan ini diharapkan mampu menyerap 60–80% air hujan kembali ke tanah, sementara hanya 20% yang mengalir ke sungai. Dengan sistem seperti itu, air kembali menjalankan siklus panjang alami—meresap, mengisi cadangan air tanah, mengalir pelan ke sungai, dan akhirnya ke laut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Siklus ini bukan hanya mencegah banjir, tapi juga menjamin ketersediaan air di musim kemarau.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tanda-tanda keberhasilan upaya ini bisa terlihat jelas. Saat hujan deras, sungai tetap jernih, bukan coklat pekat karena erosi. Debit air stabil pada batas normal. Mata air yang lama mati bisa kembali memancar. Bahkan, di beberapa tempat akan muncul sumber air baru sebagai bukti bahwa alam mulai pulih.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kesadaran ini harus menjadi gerakan bersama. Pemerintah, akademisi, pebisnis, dan masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga DAS. Tidak cukup hanya menunggu proyek besar, setiap rumah tangga bisa berkontribusi dengan cara sederhana: membuat lubang biopori, menanam pohon, dan tidak membuang sampah ke parit.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menyelamatkan DAS bukan pekerjaan sehari dua hari. Ini adalah investasi jangka panjang untuk keberlangsungan hidup manusia. Tanpa sistem air yang sehat, pertanian gagal, kota lumpuh, dan kehidupan menjadi rapuh. Air adalah sumber kehidupan—dan sekaligus sumber bencana jika disalahgunakan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kini saatnya kita berhenti menyalahkan cuaca. Banjir bukan takdir alam, melainkan hasil dari keputusan manusia. Selama kita menutup tanah dari peresapan, membiarkan hutan gundul, dan mengabaikan sungai, maka setiap tetes hujan adalah ancaman. Tapi jika kita memulihkan siklus air, setiap hujan akan menjadi berkah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menata ulang DAS berarti menata ulang masa depan. Sebab dari sungai yang sehat, lahirlah kehidupan yang seimbang. Dan dari tanah yang mampu menyerap air, lahir pula harapan bahwa banjir bukan lagi kisah tahunan yang selalu kita ratapi, melainkan pelajaran yang akhirnya kita pahami.***</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seluruh materi dalam artikel ini tanggung jawab penulis</span></p><p>The post <a href="https://samarindanews.com/kolom/3770/air-bah-dan-krisis-resapan/">Air Bah dan Krisis Resapan</a> first appeared on <a href="https://samarindanews.com">SamarindaNews</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sumpah Pemuda di Era Modern: Menyatukan Cinta, Pikiran, dan Arah Bangsa</title>
		<link>https://samarindanews.com/kolom/3761/sumpah-pemuda-di-era-modern-menyatukan-cinta-pikiran-dan-arah-bangsa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Oct 2025 06:48:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Insight]]></category>
		<category><![CDATA[kolom]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=3761</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Andreas Sumual &#124; Ketum Setya Kita Pancasila SETIAP tanggal 28 Oktober, gema Sumpah Pemuda selalu menggugah kesadaran kolektif bangsa Indonesia tentang makna persatuan. Namun,</p>
<p>The post <a href="https://samarindanews.com/kolom/3761/sumpah-pemuda-di-era-modern-menyatukan-cinta-pikiran-dan-arah-bangsa/">Sumpah Pemuda di Era Modern: Menyatukan Cinta, Pikiran, dan Arah Bangsa</a> first appeared on <a href="https://samarindanews.com">SamarindaNews</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh</strong>: <em>Andreas Sumual<span lang="IN"> </span>| Ketum Setya Kita Pancasila</em></p>
<hr />
<p><strong>SETIAP</strong> tanggal 28 Oktober, gema Sumpah Pemuda selalu menggugah kesadaran kolektif bangsa Indonesia tentang makna persatuan. Namun, pertanyaan yang kerap muncul di era modern ini adalah: apakah semangat Sumpah Pemuda masih relevan di tengah dunia yang berubah begitu cepat? Jawabannya: justru kini, lebih dari sebelumnya, semangat itu dibutuhkan — bukan sekadar dihafal, tetapi dihidupkan kembali dalam tindakan nyata.</p>
<p>Sumpah Pemuda bukan hanya ikrar tiga kalimat yang mengandung “satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa”, tetapi juga sebuah pernyataan cinta: cinta pada tanah air, cinta pada sesama, dan cinta pada kehidupan. Ia lahir dari keberanian generasi muda untuk menyingkirkan sekat etnis, agama, dan kepentingan, lalu menyatukan tekad demi kemerdekaan dan kehormatan bangsa. Nilai-nilai itulah yang kini perlu diterjemahkan ulang oleh pemuda modern dalam konteks zaman yang serba digital, serba cepat, dan sarat informasi.</p>
<h5>Persatuan dalam Keberagaman: Menemukan Harmoni di Tengah Perbedaan</h5>
<p>Hari ini, tantangan bangsa tidak lagi datang dari penjajahan bersenjata, melainkan dari polarisasi dan perpecahan sosial di dunia maya maupun nyata. Media sosial yang seharusnya menjadi ruang ekspresi, sering berubah menjadi medan konflik opini dan ujaran kebencian. Di sinilah makna persatuan dalam keberagaman diuji.</p>
<p>Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa keberagaman bukan penghalang, melainkan kekayaan. Pemuda masa kini harus mampu menjembatani perbedaan dengan empati, menukar prasangka dengan dialog, dan mengganti rivalitas dengan kolaborasi. Semangat Bhinneka Tunggal Ika mesti kembali dihidupkan, bukan hanya dalam simbol, tetapi dalam tindakan — dalam cara kita berkomunikasi, bekerja, dan membangun masa depan bersama.</p>
<h5>Nasionalisme yang Adaptif: Cinta Tanah Air di Tengah Arus Global</h5>
<p>Cinta tanah air di era digital tidak cukup diwujudkan lewat slogan atau bendera di profil media sosial. Nasionalisme modern adalah kesadaran untuk menjaga bumi, menghormati budaya lokal, mendukung ekonomi rakyat, dan menolak segala bentuk ketidakadilan.</p>
<p>Pemuda yang nasionalis bukan yang menutup diri dari dunia luar, tetapi yang mampu berdiri tegak di tengah arus globalisasi tanpa kehilangan jati dirinya. Mereka memanfaatkan teknologi bukan untuk menyebar kebencian, melainkan untuk berbagi ilmu, menebar kebaikan, dan memperkuat solidaritas bangsa. Inilah nasionalisme yang adaptif — fleksibel terhadap kemajuan, namun kokoh dalam nilai.</p>
<h5>Bahasa Indonesia: Jembatan yang Menyatukan Pikiran dan Perasaan</h5>
<p>Bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi, melainkan ruang batin yang menyatukan ratusan bahasa daerah dalam satu suara. Di tengah derasnya pengaruh bahasa asing dan budaya global, menjaga kemurnian dan keindahan Bahasa Indonesia berarti menjaga martabat bangsa.</p>
<p>Pemuda masa kini harus bijak menggunakan bahasa — baik di ruang publik maupun digital. Sebab di era media sosial, kata-kata bisa menyatukan, tapi juga bisa memecah. Menggunakan bahasa yang santun, inklusif, dan penuh empati adalah wujud nyata dari semangat Sumpah Pemuda yang menjunjung tinggi persaudaraan dan kesetaraan.</p>
<h5>Gotong Royong dan Solidaritas: Jiwa Kolektif yang Tak Lekang Waktu</h5>
<p>Gotong royong adalah DNA bangsa Indonesia. Jika dulu ia diwujudkan melalui kerja bersama di ladang dan kampung, kini ia hadir dalam bentuk baru: kolaborasi digital, gerakan sosial, penggalangan dana daring, dan inisiatif kemanusiaan.</p>
<p>Di tengah krisis dan bencana, generasi muda membuktikan bahwa semangat saling tolong-menolong tidak pernah padam. Mereka bergotong royong dengan teknologi, menjangkau yang jauh, membantu yang tak dikenal, dan memulihkan yang terdampak. Inilah bentuk baru solidaritas yang melampaui ruang dan waktu — semangat lama dengan wajah baru.</p>
<h5>Pancasila: Kompas Moral dalam Keberagaman</h5>
<p>Sumpah Pemuda dan Pancasila adalah dua jiwa yang tak terpisahkan. Pancasila menjadi fondasi untuk menjaga kesepahaman di tengah keberagaman. Nilai Ketuhanan menuntun manusia untuk menghormati ciptaan Tuhan, baik manusia maupun alam. Nilai Kemanusiaan dan Keadilan mengajarkan kita untuk hidup selaras, bukan hanya dengan sesama, tapi juga dengan bumi, tumbuhan, dan fauna yang menopang kehidupan.</p>
<p>Jika semangat Sumpah Pemuda adalah api, maka Pancasila adalah minyak yang membuatnya terus menyala. Keduanya membentuk arah moral bangsa: bersatu tanpa menyeragamkan, beragam tanpa berpecah, dan maju tanpa kehilangan akar.</p>
<h5>Penutup: Menghidupkan Kembali Api Sumpah Pemuda</h5>
<p>Generasi muda Indonesia hari ini memegang tanggung jawab besar: menjaga warisan semangat Sumpah Pemuda agar tidak padam di tengah derasnya arus globalisasi. Mereka harus menjadi penjaga persatuan, pembawa cahaya kebenaran di tengah gelombang hoaks, serta pelopor gotong royong di dunia nyata dan maya.</p>
<p>Sumpah Pemuda bukan sekadar peringatan sejarah, melainkan seruan abadi agar setiap anak bangsa menyatukan cinta, pikiran, dan arah perjuangan. Karena selama masih ada pemuda yang mencintai tanah air dengan tulus dan berpikir dengan jernih, Indonesia akan terus hidup — bukan hanya sebagai negara, tetapi sebagai cita-cita yang selalu tumbuh di dada setiap generasi.***</p><p>The post <a href="https://samarindanews.com/kolom/3761/sumpah-pemuda-di-era-modern-menyatukan-cinta-pikiran-dan-arah-bangsa/">Sumpah Pemuda di Era Modern: Menyatukan Cinta, Pikiran, dan Arah Bangsa</a> first appeared on <a href="https://samarindanews.com">SamarindaNews</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kembalikan Siklus Panjang Air Demi Menyelamatkan Sumber Kehidupan</title>
		<link>https://samarindanews.com/kolom/3747/kembalikan-siklus-panjang-air-demi-menyelamatkan-sumber-kehidupan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Oct 2025 03:35:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=3747</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis: Letjen TNI (Purn) Besar Harto Karyawan &#124; Pembina Pasulukan Loka Gandasasmita AIR adalah sumber kehidupan. Namun, siklus alami air kini semakin terganggu akibat ulah</p>
<p>The post <a href="https://samarindanews.com/kolom/3747/kembalikan-siklus-panjang-air-demi-menyelamatkan-sumber-kehidupan/">Kembalikan Siklus Panjang Air Demi Menyelamatkan Sumber Kehidupan</a> first appeared on <a href="https://samarindanews.com">SamarindaNews</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: Letjen TNI (Purn) Besar Harto Karyawan | Pembina <a href="https://pasulukanlokagandasasmita.id/">Pasulukan Loka Gandasasmita</a></p>
<hr />
<p><b>AIR</b> adalah sumber kehidupan. Namun, siklus alami air kini semakin terganggu akibat ulah manusia.</p>
<p>Untuk menjaga keseimbangan alam, kita harus mengembalikan proses perjalanan air pada siklus panjang secara alami—bukan membiarkannya terjebak dalam siklus pendek yang merusak.</p>
<p>Siklus air atau siklus hidrologi dimulai dari proses evaporasi—saat panas matahari menguapkan air dari laut, sungai, dan danau menjadi uap air yang naik ke atmosfer. Tumbuhan juga berperan melalui transpirasi, melepaskan uap air ke udara.</p>
<p>Ketika uap air ini naik dan mendingin, terjadi kondensasi, membentuk awan. Jika awan menjadi terlalu berat, air jatuh kembali ke bumi sebagai presipitasi, berupa hujan, salju, atau embun.</p>
<p>Air hujan kemudian mengalir ke wilayah tangkapan air—seperti hutan, sawah, danau, ladang, serta lubang resapan biopori—yang memungkinkan air meresap ke dalam tanah.</p>
<p>Proses infiltrasi dan perkolasi memungkinkan air hujan masuk ke lapisan tanah hingga mencapai akuifer, yaitu lapisan batuan berpori yang menyimpan air tanah.</p>
<p>Dari sinilah muncul mata air yang mengalir ke sungai dan akhirnya ke laut, melengkapi siklus panjang air yang sehat dan berkelanjutan.</p>
<p>Sayangnya, ketika hutan gundul dan daerah tangkapan air hilang, air hujan tidak lagi mampu meresap ke dalam tanah.</p>
<p>Terjadilah siklus pendek, di mana air langsung mengalir ke sungai dan laut tanpa proses peresapan. Akibatnya, persediaan air tanah menurun, sumur mengering, dan mata air mati.</p>
<p>Kondisi ini diperparah dengan pengeboran air tanah berlebihan oleh industri yang tidak terkendali.</p>
<p>Ketika siklus panjang terputus, bencana pun muncul: banjir, tanah longsor, kekeringan, dan penurunan muka tanah. Alam kehilangan keseimbangannya, sementara manusia kehilangan sumber kehidupan.</p>
<p>Solusinya sebenarnya sederhana, namun memerlukan kesadaran kolektif. <i>Pertama</i>, penghijauan kembali hutan sebagai daerah tangkapan air. <i>Kedua</i>, pembuatan lubang resapan biopori di hutan, sawah, perumahan, dan perkotaan untuk mempercepat peresapan air.</p>
<p><i>Ketiga</i>, perbaikan sistem sengkedan di wilayah pegunungan agar air tidak langsung mengalir turun, melainkan tertahan dan meresap.</p>
<p>Selain itu, sumur resapan di area industri dan permukiman wajib dibangun, disertai parit resapan di sepanjang jalan agar air hujan tidak langsung terbuang ke sungai dan laut.</p>
<p>Di pesisir, rehabilitasi hutan bakau penting untuk mencegah abrasi dan menjaga keseimbangan air laut serta air darat.</p>
<p>Yang harus dihindari adalah pola lama: membangun gorong-gorong hanya untuk membuang air secepatnya.</p>
<p>Paradigma itu keliru. Yang dibutuhkan adalah infrastruktur peresapan, bukan pembuangan. Biarkan air kembali ke tanah, bukan lari ke laut tanpa siklus.</p>
<p>Ingat, ketika mata air mati, yang tersisa hanya air mata bagi generasi penerus kita. Mari jaga bumi dengan memulihkan siklus panjang air—karena darinya lahir kehidupan yang sejati.</p>
<p>Semoga bermanfaat.***</p>
<hr />
<p><em>Seluruh materi dalam tulisan ini menjadi tanggaung jawab penulis</em></p><p>The post <a href="https://samarindanews.com/kolom/3747/kembalikan-siklus-panjang-air-demi-menyelamatkan-sumber-kehidupan/">Kembalikan Siklus Panjang Air Demi Menyelamatkan Sumber Kehidupan</a> first appeared on <a href="https://samarindanews.com">SamarindaNews</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
