<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lingkungan &#8211; SamarindaNews</title>
	<atom:link href="https://samarindanews.com/tag/lingkungan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://samarindanews.com</link>
	<description>Samarindanews.Com</description>
	<lastBuildDate>Fri, 23 Jan 2026 04:36:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://samarindanews.com/wp-content/uploads/2026/09/cropped-icon-32x32.png</url>
	<title>Lingkungan &#8211; SamarindaNews</title>
	<link>https://samarindanews.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>HNSI Riau Warning Pemerintah: Jangan Korbankan Ribuan Nelayan Demi Legalisasi Tambang Emas di DAS Kuantan!</title>
		<link>https://samarindanews.com/lingkungan/205885/hnsi-riau-warning-pemerintah-jangan-korbankan-ribuan-nelayan-demi-legalisasi-tambang-emas-di-das-kuantan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Jan 2026 04:36:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[hnsi]]></category>
		<category><![CDATA[pertambangan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=205885</guid>

					<description><![CDATA[KUANSING &#8211; Rencana penetapan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kuantan memicu reaksi dari berbagai pihak. Setelah WALHI, kini giliran]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KUANSING &#8211; </strong>Rencana penetapan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) di <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Daerah_aliran_sungai">Daerah Aliran Sungai</a> (DAS) Kuantan memicu reaksi dari berbagai pihak. Setelah WALHI, kini giliran Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Provinsi Riau yang angkat bicara.</p>
<p>HNSI Riau memberikan peringatan keras (warning) kepada Pemerintah Provinsi Riau dan Pemkab Kuantan Singingi agar tidak gegabah dalam mengambil kebijakan. HNSI menilai, rencana legalisasi tambang melalui skema Izin Pertambangan Rakyat (IPR) berpotensi menjadi “lonceng kematian” bagi ribuan nelayan air tawar yang menggantungkan hidup di sepanjang Sungai Kuantan.</p>
<p>Ketua HNSI Riau menegaskan bahwa Sungai Kuantan adalah urat nadi ekonomi dan penyokong kedaulatan pangan bagi masyarakat di Kuansing hingga Indragiri Hulu. Pencemaran merkuri yang sudah terjadi bertahun-tahun akibat aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) telah membuat populasi ikan lokal menyusut drastis.</p>
<p>“Kami menegaskan, sungai ini adalah ladang nelayan. Nelayan kehilangan mata pencaharian karena ikan-ikan seperti baung, patin, dan selais sulit berkembang biak di air yang tercemar merkuri dan mengalami pendangkalan hebat,” tegas Ketua HNSI Riau, Junaidi, dalam pernyataan resminya, Jumat, 23 Januari 2026.</p>
<p>HNSI menyoroti titik lemah pada aspek pengawasan. Mereka khawatir, perubahan status dari ilegal menjadi legal (WPR) hanya akan mempermudah masuknya modal besar tanpa memperbaiki kualitas lingkungan. Setidaknya, ada lima poin krusial yang ditekan oleh HNSI Riau kepada pemerintah:</p>
<ul>
<li aria-level="1">Hentikan Penggunaan Merkuri: Menuntut jaminan nol merkuri (zero mercury) jika IPR dijalankan.</li>
<li aria-level="1">Zonasi Eksklusif Nelayan: Meminta pemerintah menetapkan wilayah tangkap nelayan yang tidak boleh diganggu gugat oleh aktivitas tambang.</li>
<li aria-level="1">Restorasi Sungai: Mendesak normalisasi sungai yang dangkal akibat sedimentasi limbah tambang.</li>
<li aria-level="1">Pengawasan Partisipatif: Nelayan harus dilibatkan dalam tim pengawas lapangan untuk memantau kualitas air secara langsung.</li>
<li aria-level="1">Kompensasi bagi Nelayan: Meminta bantuan sarana prasarana budidaya perikanan sebagai ganti rugi atas kerusakan ekosistem selama ini.</li>
</ul>
<p>HNSI Riau juga mengingatkan bahwa kerusakan DAS Kuantan berdampak jangka panjang pada kesehatan masyarakat. Ikan yang terkontaminasi logam berat akan masuk ke rantai makanan warga sekitar.</p>
<p>“Menghancurkan sungai sama saja menghancurkan masa depan pangan Riau. Kami meminta Plt Gubernur dan Bupati untuk tidak hanya melihat potensi PAD dari tambang, tapi lihatlah nasib rakyat kecil yang hidup dari mencari ikan,” pungkasnya.***</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kembalikan Siklus Panjang Air Demi Menyelamatkan Sumber Kehidupan</title>
		<link>https://samarindanews.com/kolom/3747/kembalikan-siklus-panjang-air-demi-menyelamatkan-sumber-kehidupan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Oct 2025 03:35:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=3747</guid>

					<description><![CDATA[Penulis: Letjen TNI (Purn) Besar Harto Karyawan &#124; Pembina Pasulukan Loka Gandasasmita AIR adalah sumber kehidupan. Namun, siklus alami air kini semakin terganggu akibat ulah]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: Letjen TNI (Purn) Besar Harto Karyawan | Pembina <a href="https://pasulukanlokagandasasmita.id/">Pasulukan Loka Gandasasmita</a></p>
<hr />
<p><b>AIR</b> adalah sumber kehidupan. Namun, siklus alami air kini semakin terganggu akibat ulah manusia.</p>
<p>Untuk menjaga keseimbangan alam, kita harus mengembalikan proses perjalanan air pada siklus panjang secara alami—bukan membiarkannya terjebak dalam siklus pendek yang merusak.</p>
<p>Siklus air atau siklus hidrologi dimulai dari proses evaporasi—saat panas matahari menguapkan air dari laut, sungai, dan danau menjadi uap air yang naik ke atmosfer. Tumbuhan juga berperan melalui transpirasi, melepaskan uap air ke udara.</p>
<p>Ketika uap air ini naik dan mendingin, terjadi kondensasi, membentuk awan. Jika awan menjadi terlalu berat, air jatuh kembali ke bumi sebagai presipitasi, berupa hujan, salju, atau embun.</p>
<p>Air hujan kemudian mengalir ke wilayah tangkapan air—seperti hutan, sawah, danau, ladang, serta lubang resapan biopori—yang memungkinkan air meresap ke dalam tanah.</p>
<p>Proses infiltrasi dan perkolasi memungkinkan air hujan masuk ke lapisan tanah hingga mencapai akuifer, yaitu lapisan batuan berpori yang menyimpan air tanah.</p>
<p>Dari sinilah muncul mata air yang mengalir ke sungai dan akhirnya ke laut, melengkapi siklus panjang air yang sehat dan berkelanjutan.</p>
<p>Sayangnya, ketika hutan gundul dan daerah tangkapan air hilang, air hujan tidak lagi mampu meresap ke dalam tanah.</p>
<p>Terjadilah siklus pendek, di mana air langsung mengalir ke sungai dan laut tanpa proses peresapan. Akibatnya, persediaan air tanah menurun, sumur mengering, dan mata air mati.</p>
<p>Kondisi ini diperparah dengan pengeboran air tanah berlebihan oleh industri yang tidak terkendali.</p>
<p>Ketika siklus panjang terputus, bencana pun muncul: banjir, tanah longsor, kekeringan, dan penurunan muka tanah. Alam kehilangan keseimbangannya, sementara manusia kehilangan sumber kehidupan.</p>
<p>Solusinya sebenarnya sederhana, namun memerlukan kesadaran kolektif. <i>Pertama</i>, penghijauan kembali hutan sebagai daerah tangkapan air. <i>Kedua</i>, pembuatan lubang resapan biopori di hutan, sawah, perumahan, dan perkotaan untuk mempercepat peresapan air.</p>
<p><i>Ketiga</i>, perbaikan sistem sengkedan di wilayah pegunungan agar air tidak langsung mengalir turun, melainkan tertahan dan meresap.</p>
<p>Selain itu, sumur resapan di area industri dan permukiman wajib dibangun, disertai parit resapan di sepanjang jalan agar air hujan tidak langsung terbuang ke sungai dan laut.</p>
<p>Di pesisir, rehabilitasi hutan bakau penting untuk mencegah abrasi dan menjaga keseimbangan air laut serta air darat.</p>
<p>Yang harus dihindari adalah pola lama: membangun gorong-gorong hanya untuk membuang air secepatnya.</p>
<p>Paradigma itu keliru. Yang dibutuhkan adalah infrastruktur peresapan, bukan pembuangan. Biarkan air kembali ke tanah, bukan lari ke laut tanpa siklus.</p>
<p>Ingat, ketika mata air mati, yang tersisa hanya air mata bagi generasi penerus kita. Mari jaga bumi dengan memulihkan siklus panjang air—karena darinya lahir kehidupan yang sejati.</p>
<p>Semoga bermanfaat.***</p>
<hr />
<p><em>Seluruh materi dalam tulisan ini menjadi tanggaung jawab penulis</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mikroplastik Bisa Masuk ke Otak Manusia, Studi Terbaru Ini ungkap Beberapa Faktanya</title>
		<link>https://samarindanews.com/lingkungan/961/mikroplastik-bisa-masuk-ke-otak-manusia-studi-terbaru-ini-ungkap-beberapa-faktanya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Sep 2024 13:03:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[plastik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=961</guid>

					<description><![CDATA[Bagaimana bisa plastik bisa ada di otak manusia? Tapi, jika melihat kecemasan massal tentang bahaya mikroplastik, hal itu sangat mungkin terjadi. Sebuah studi]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6" dir="ltr"><span class="selectable-text copyable-text">Bagaimana bisa plastik bisa ada di otak manusia? Tapi, jika melihat kecemasan massal tentang bahaya mikroplastik, hal itu sangat mungkin terjadi.</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6" dir="ltr"><span class="selectable-text copyable-text">Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa plastik dari barang-barang sehari-hari berpotensi memengaruhi kesehatan otak manusia.</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6" dir="ltr"><span class="selectable-text copyable-text">Para ahli memperingatkan dampak plastik terhadap kesehatan, terutama polusi mikroplastik yang dapat dengan mudah terhirup dan masuk ke dalam otak.</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6" dir="ltr"><span class="selectable-text copyable-text">Euronews dalam laporannya menyebutkan, bahwa salah satu sumber utama polusi mikroplastik adalah lingkungan dalam ruangan. </span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6" dir="ltr"><span class="selectable-text copyable-text">Partikel-partikel plastik dapat terhirup dan masuk ke otak melalui jalur penciuman.</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6" dir="ltr"><span class="selectable-text copyable-text">Penelitian ini dipimpin oleh Prof Dr Thais Mauad dari University of Sao Paulo dan Dr Luis Fernando Amato-Lourenco dari Freie University Berlin.</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6" dir="ltr"><span class="selectable-text copyable-text">Mereka menemukan keberadaan mikroplastik di bagian bawah otak, tepatnya di bulbus olfaktorius. “Temuan ini menunjukkan bahwa jalur penciuman menjadi pintu utama partikel eksternal masuk ke otak.”</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6" dir="ltr"><span class="selectable-text copyable-text">Dalam studi tersebut, para ahli berhasil mengidentifikasi serat dan partikel plastik pada delapan dari 15 sampel otak warga Sao Paulo yang telah meninggal.</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6" dir="ltr"><span class="selectable-text copyable-text">Jenis plastik yang paling banyak ditemukan adalah polipropilena, bahan yang umum digunakan dalam pakaian, kemasan makanan, dan botol.</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6" dir="ltr"><span class="selectable-text copyable-text">“Penelitian ini menemukan bahwa jalur penciuman merupakan pintu utama partikel plastik ke otak,” ujar Prof. Mauad, dilansir pada, 19 September 2024.</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6" dir="ltr"><span class="selectable-text copyable-text">Ia juga menambahkan bahwa bernapas di lingkungan dalam ruangan berpotensi menjadi sumber utama polusi plastik di otak.</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6" dir="ltr"><span class="selectable-text copyable-text">Selain mikroplastik, para ahli juga menemukan adanya nanoplastik, partikel yang berukuran lebih kecil dari mikroplastik.</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6" dir="ltr"><span class="selectable-text copyable-text">Partikel ini lebih mudah masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan tingkat akumulasi plastik yang lebih tinggi. </span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6" dir="ltr"><span class="selectable-text copyable-text">“Nanoplastik yang masuk lebih mudah dapat meningkatkan total partikel plastik di dalam tubuh,” ungkap Prof. Mauad.</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6" dir="ltr"><span class="selectable-text copyable-text">Para peneliti khawatir bahwa plastik yang terinternalisasi dalam sel dapat mengganggu fungsi seluler, terutama pada anak-anak, yang dapat berdampak pada perkembangan di usia dewasa.</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6" dir="ltr"><span class="selectable-text copyable-text">Penemuan ini mengikuti penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh anggota Plastic Health Council, Prof Dr Lukas Kenner.</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6" dir="ltr"><span class="selectable-text copyable-text">Pada April 2024, ia menemukan bahwa sel kanker dalam usus dapat menyebar lebih cepat setelah berkontak dengan mikroplastik. Selain itu, plastik juga diindikasikan berperan dalam pembentukan kanker dini.</span></p>
<p class="selectable-text copyable-text x15bjb6t x1n2onr6" dir="ltr"><span class="selectable-text copyable-text">Beberapa ilmuwan lain juga telah menyatakan bahwa paparan plastik dapat menyebabkan gangguan endokrin, penurunan kesuburan, dan penyakit jantung, yang menunjukkan bahwa dampak serius dari polusi plastik terhadap kesehatan manusia tidak dapat diabaikan.</span><span class="selectable-text copyable-text xdakrdy">*</span><b><strong class="selectable-text copyable-text x117nqv4">*</strong></b><span class="selectable-text copyable-text xdakrdy">*</span></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
