<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kolom &#8211; SamarindaNews</title>
	<atom:link href="https://samarindanews.com/tag/kolom/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://samarindanews.com</link>
	<description>Samarindanews.Com</description>
	<lastBuildDate>Fri, 05 Dec 2025 01:53:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://samarindanews.com/wp-content/uploads/2026/09/cropped-icon-32x32.png</url>
	<title>kolom &#8211; SamarindaNews</title>
	<link>https://samarindanews.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ketum SKP Andreas Summual Serukan Gerakan Nasional: “Catch The Mafia! Bongkar Aktor Perusak Hutan Penyebab Bencana Sumatra”</title>
		<link>https://samarindanews.com/kolom/205270/ketum-skp-andreas-summual-serukan-gerakan-nasional-catch-the-mafia-bongkar-aktor-perusak-hutan-penyebab-bencana-sumatra/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Dec 2025 01:53:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[kolom]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[Setya Kita Pancasila]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=205264</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA — Ketua Umum Setya Kita Pancasila (SKP), Andreas Summual, menyerukan gerakan nasional “Catch The Mafia” sebagai respons atas rangkaian bencana besar]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA —</strong> Ketua Umum Setya Kita Pancasila (SKP), Andreas Summual, menyerukan gerakan nasional <strong><em>“Catch The Mafia”</em> </strong>sebagai respons atas rangkaian bencana besar yang kembali melanda Sumatra. Ia menginstruksikan seluruh aparat penegak hukum, kementerian teknis, dan elemen negara untuk memburu jaringan mafia hutan dan mafia sawit yang dinilai menjadi penyebab utama kerusakan ekologis.</p>
<p>Andreas menegaskan bahwa kondisi hutan Sumatra kini berada dalam keadaan kritis. Ia meminta pemerintah mempercepat program revitalisasi hutan untuk mencegah bencana susulan yang mengancam jutaan warga di daerah rawan banjir dan longsor.</p>
<p>“Sumatra sudah memberi alarm keras. Kita tidak boleh menunggu korban berikutnya. Revitalisasi hutan harus dipercepat sebelum semuanya terlambat,” ujarnya dalam keterangan resmi.</p>
<p>Selain mendorong penegakan hukum, Andreas menantang seluruh perusahaan sawit dan industri kayu untuk tampil terbuka bersama Menteri Kehutanan. Ia meminta perusahaan mengungkap secara transparan luas kawasan yang dialihfungsikan dan dampak ekologis yang ditimbulkan aktivitas mereka selama ini.</p>
<p>“Publik harus tahu mana yang benar dan mana yang merusak. Jangan berlindung di balik izin. Ini saatnya transparansi,” tegasnya.</p>
<p>Ia juga menagih tanggung jawab moral dan hukum para pengusaha yang terlibat dalam perusakan lingkungan. Menurutnya, kerusakan hutan membawa ancaman nyata bagi keselamatan rakyat dan masa depan alam Indonesia.</p>
<p>Andreas secara khusus meminta Polri menindak tegas perusahaan yang beroperasi tanpa Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan yang terbukti melakukan penebangan ilegal. Ia mendorong dilakukannya audit nasional terhadap seluruh pemegang HPH untuk memastikan tidak ada penyalahgunaan konsesi.</p>
<p>Dalam pernyataannya, Andreas juga menyampaikan seruan langsung kepada Presiden RI Prabowo Subianto. Ia meminta pemerintah pusat mengambil langkah tegas menertibkan sektor kehutanan yang dinilai sarat praktik gelap.</p>
<p>“Presiden Prabowo kami mohon tegas menindak semua korporasi liar penebangan hutan. Ini bukan hanya soal bisnis—ini adalah kelangsungan hidup alam dan masa depan bangsa,” katanya.</p>
<p>Andreas menyebut gerakan nasional “Catch The Mafia” sebagai upaya penyelamatan lingkungan untuk mengakhiri dominasi mafia kehutanan serta memulihkan fungsi ekologis hutan Indonesia.</p>
<p>“Tidak ada alasan untuk takut. Negara harus menang melawan mafia. Kita selamatkan alam Indonesia sekarang juga,” tutupnya.***</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Andreas Sumual: Satu Komando Kunci Kesuksesan Organisasi Setya Kita Pancasila</title>
		<link>https://samarindanews.com/kolom/3783/andreas-sumual-satu-komando-kunci-kesuksesan-organisasi-setya-kita-pancasila/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 31 Oct 2025 07:16:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[kolom]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=3783</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA — Ketua Umum Setya Kita Pancasila, Andreas Sumual, menegaskan bahwa prinsip satu komando merupakan kunci utama dalam menjaga efektivitas dan kesuksesan organisasi. Menurutnya,]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA —</strong> Ketua Umum <strong>Setya Kita Pancasila</strong>, Andreas Sumual, menegaskan bahwa prinsip satu komando merupakan kunci utama dalam menjaga efektivitas dan kesuksesan organisasi. Menurutnya, setiap anggota harus memahami dan menerapkan prinsip kesatuan komando agar tidak terjadi kebingungan dalam pelaksanaan tugas di lapangan.</p>
<p>“Ormas harus satu komando. Prinsip ini sangat penting dalam manajemen organisasi yang efektif. Setiap anggota hanya menerima arahan dari satu atasan, sehingga koordinasi berjalan jelas dan tidak tumpang tindih,” ujar Andreas di Jakarta, Jumat (31/10/2025).</p>
<p>Andreas menekankan bahwa koordinasi antar-pengurus di setiap wilayah perlu terus diperkuat. Selain itu, peningkatan kinerja untuk kepentingan masyarakat harus menjadi prioritas utama dalam setiap program kerja organisasi.</p>
<p>“Setya Kita Pancasila bukan hanya jembatan aspirasi masyarakat ke pemerintah, tetapi juga memiliki visi besar untuk menjaga keutuhan ideologi Pancasila dan menyesuaikannya dengan perkembangan zaman,” tegasnya.</p>
<p>Ia juga menyoroti pentingnya komunikasi yang intens antara pengurus daerah dengan pemerintah. Menurutnya, hubungan yang baik akan memudahkan organisasi berperan aktif dalam memberikan solusi atas berbagai persoalan sosial sebelum menjadi masalah besar.</p>
<p>“Koordinasi dan komunikasi dengan pemerintah harus terus dijaga. Kita ingin hadir sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar penonton,” kata Andreas.</p>
<p>Lebih lanjut, ia mengingatkan seluruh jajaran pengurus di daerah agar selalu mengikuti arahan pusat dalam satu komando. Sikap disiplin dan kebersamaan, menurutnya, akan menjadi fondasi kuat untuk mencapai tujuan organisasi secara nasional.</p>
<p>“Pesan saya jelas, semua pengurus di daerah harus mengikuti satu komando. Inilah yang akan memperkuat arah perjuangan kita,” tutupnya.</p>
<p>Andreas juga menegaskan bahwa Setya Kita Pancasila siap mendukung dan membantu program kerja Presiden Prabowo Subianto, terutama dalam memperkuat ideologi Pancasila di tengah masyarakat.(MJ)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sumpah Pemuda di Era Modern: Menyatukan Cinta, Pikiran, dan Arah Bangsa</title>
		<link>https://samarindanews.com/kolom/3761/sumpah-pemuda-di-era-modern-menyatukan-cinta-pikiran-dan-arah-bangsa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Oct 2025 06:48:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Insight]]></category>
		<category><![CDATA[kolom]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=3761</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Andreas Sumual &#124; Ketum Setya Kita Pancasila SETIAP tanggal 28 Oktober, gema Sumpah Pemuda selalu menggugah kesadaran kolektif bangsa Indonesia tentang makna persatuan. Namun,]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh</strong>: <em>Andreas Sumual<span lang="IN"> </span>| Ketum Setya Kita Pancasila</em></p>
<hr />
<p><strong>SETIAP</strong> tanggal 28 Oktober, gema Sumpah Pemuda selalu menggugah kesadaran kolektif bangsa Indonesia tentang makna persatuan. Namun, pertanyaan yang kerap muncul di era modern ini adalah: apakah semangat Sumpah Pemuda masih relevan di tengah dunia yang berubah begitu cepat? Jawabannya: justru kini, lebih dari sebelumnya, semangat itu dibutuhkan — bukan sekadar dihafal, tetapi dihidupkan kembali dalam tindakan nyata.</p>
<p>Sumpah Pemuda bukan hanya ikrar tiga kalimat yang mengandung “satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa”, tetapi juga sebuah pernyataan cinta: cinta pada tanah air, cinta pada sesama, dan cinta pada kehidupan. Ia lahir dari keberanian generasi muda untuk menyingkirkan sekat etnis, agama, dan kepentingan, lalu menyatukan tekad demi kemerdekaan dan kehormatan bangsa. Nilai-nilai itulah yang kini perlu diterjemahkan ulang oleh pemuda modern dalam konteks zaman yang serba digital, serba cepat, dan sarat informasi.</p>
<h5>Persatuan dalam Keberagaman: Menemukan Harmoni di Tengah Perbedaan</h5>
<p>Hari ini, tantangan bangsa tidak lagi datang dari penjajahan bersenjata, melainkan dari polarisasi dan perpecahan sosial di dunia maya maupun nyata. Media sosial yang seharusnya menjadi ruang ekspresi, sering berubah menjadi medan konflik opini dan ujaran kebencian. Di sinilah makna persatuan dalam keberagaman diuji.</p>
<p>Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa keberagaman bukan penghalang, melainkan kekayaan. Pemuda masa kini harus mampu menjembatani perbedaan dengan empati, menukar prasangka dengan dialog, dan mengganti rivalitas dengan kolaborasi. Semangat Bhinneka Tunggal Ika mesti kembali dihidupkan, bukan hanya dalam simbol, tetapi dalam tindakan — dalam cara kita berkomunikasi, bekerja, dan membangun masa depan bersama.</p>
<h5>Nasionalisme yang Adaptif: Cinta Tanah Air di Tengah Arus Global</h5>
<p>Cinta tanah air di era digital tidak cukup diwujudkan lewat slogan atau bendera di profil media sosial. Nasionalisme modern adalah kesadaran untuk menjaga bumi, menghormati budaya lokal, mendukung ekonomi rakyat, dan menolak segala bentuk ketidakadilan.</p>
<p>Pemuda yang nasionalis bukan yang menutup diri dari dunia luar, tetapi yang mampu berdiri tegak di tengah arus globalisasi tanpa kehilangan jati dirinya. Mereka memanfaatkan teknologi bukan untuk menyebar kebencian, melainkan untuk berbagi ilmu, menebar kebaikan, dan memperkuat solidaritas bangsa. Inilah nasionalisme yang adaptif — fleksibel terhadap kemajuan, namun kokoh dalam nilai.</p>
<h5>Bahasa Indonesia: Jembatan yang Menyatukan Pikiran dan Perasaan</h5>
<p>Bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi, melainkan ruang batin yang menyatukan ratusan bahasa daerah dalam satu suara. Di tengah derasnya pengaruh bahasa asing dan budaya global, menjaga kemurnian dan keindahan Bahasa Indonesia berarti menjaga martabat bangsa.</p>
<p>Pemuda masa kini harus bijak menggunakan bahasa — baik di ruang publik maupun digital. Sebab di era media sosial, kata-kata bisa menyatukan, tapi juga bisa memecah. Menggunakan bahasa yang santun, inklusif, dan penuh empati adalah wujud nyata dari semangat Sumpah Pemuda yang menjunjung tinggi persaudaraan dan kesetaraan.</p>
<h5>Gotong Royong dan Solidaritas: Jiwa Kolektif yang Tak Lekang Waktu</h5>
<p>Gotong royong adalah DNA bangsa Indonesia. Jika dulu ia diwujudkan melalui kerja bersama di ladang dan kampung, kini ia hadir dalam bentuk baru: kolaborasi digital, gerakan sosial, penggalangan dana daring, dan inisiatif kemanusiaan.</p>
<p>Di tengah krisis dan bencana, generasi muda membuktikan bahwa semangat saling tolong-menolong tidak pernah padam. Mereka bergotong royong dengan teknologi, menjangkau yang jauh, membantu yang tak dikenal, dan memulihkan yang terdampak. Inilah bentuk baru solidaritas yang melampaui ruang dan waktu — semangat lama dengan wajah baru.</p>
<h5>Pancasila: Kompas Moral dalam Keberagaman</h5>
<p>Sumpah Pemuda dan Pancasila adalah dua jiwa yang tak terpisahkan. Pancasila menjadi fondasi untuk menjaga kesepahaman di tengah keberagaman. Nilai Ketuhanan menuntun manusia untuk menghormati ciptaan Tuhan, baik manusia maupun alam. Nilai Kemanusiaan dan Keadilan mengajarkan kita untuk hidup selaras, bukan hanya dengan sesama, tapi juga dengan bumi, tumbuhan, dan fauna yang menopang kehidupan.</p>
<p>Jika semangat Sumpah Pemuda adalah api, maka Pancasila adalah minyak yang membuatnya terus menyala. Keduanya membentuk arah moral bangsa: bersatu tanpa menyeragamkan, beragam tanpa berpecah, dan maju tanpa kehilangan akar.</p>
<h5>Penutup: Menghidupkan Kembali Api Sumpah Pemuda</h5>
<p>Generasi muda Indonesia hari ini memegang tanggung jawab besar: menjaga warisan semangat Sumpah Pemuda agar tidak padam di tengah derasnya arus globalisasi. Mereka harus menjadi penjaga persatuan, pembawa cahaya kebenaran di tengah gelombang hoaks, serta pelopor gotong royong di dunia nyata dan maya.</p>
<p>Sumpah Pemuda bukan sekadar peringatan sejarah, melainkan seruan abadi agar setiap anak bangsa menyatukan cinta, pikiran, dan arah perjuangan. Karena selama masih ada pemuda yang mencintai tanah air dengan tulus dan berpikir dengan jernih, Indonesia akan terus hidup — bukan hanya sebagai negara, tetapi sebagai cita-cita yang selalu tumbuh di dada setiap generasi.***</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
