<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Islampedia &#8211; SamarindaNews</title>
	<atom:link href="https://samarindanews.com/tag/islampedia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://samarindanews.com</link>
	<description>Samarindanews.Com</description>
	<lastBuildDate>Fri, 31 Oct 2025 07:20:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://samarindanews.com/wp-content/uploads/2026/09/cropped-icon-32x32.png</url>
	<title>Islampedia &#8211; SamarindaNews</title>
	<link>https://samarindanews.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Mursyid Adalah Wasilah yang Menyampaikan Kita Kepada Allah dan Rasulnya</title>
		<link>https://samarindanews.com/islampedia/3786/mursyid-adalah-wasilah-yang-menyampaikan-kita-kepada-allah-dan-rasulnya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 31 Oct 2025 07:20:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Islampedia]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=3786</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: H Derajat &#124; Ketua Pasulukan Loka Gandasasmita SAHABATKU, yang karena engkaulah maka aku hidup, aku berada di sisimu dan menyayangimu. Di]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h6><strong>Oleh: H Derajat | Ketua Pasulukan Loka Gandasasmita</strong></h6>
<hr />
<p><b>SAHABATKU</b><span style="font-weight: 400;">, yang karena engkaulah maka aku hidup, aku berada di sisimu dan menyayangimu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di malam Jum&#8217;at yang penuh kemuliaan dan keberkahan ini, aku mengingatkan engkau agar mencari wasilah (</span><a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Mursyid"><span style="font-weight: 400;">Guru Mursyid</span></a><span style="font-weight: 400;">) yang akan selalu membimbingmu, mengawasimu dan membawamu wushul (makrifat/mengenal/sampai) kepada Allah. Sebagaimana dalam Al Qur&#8217;an difirmankan :</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ۝٣٥</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">yâ ayyuhalladzîna âmanuttaqullâha wabtaghû ilaihil-wasîlata wa jâhidû fî sabîlihî la‘allakum tufliḫûn</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artinya: </span><i><span style="font-weight: 400;">Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, ‘carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri)’ kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syekh Fathurrahman, seorang Mursyid Tarekat Idrisiyyah telah berkalam dalam kanal youtubenya, bahwa kata &#8220;</span><i><span style="font-weight: 400;">wasilah</span></i><span style="font-weight: 400;">&#8221; berasal dari bahasa Arab yang berarti &#8220;jalan&#8221; atau &#8220;sarana&#8221; untuk mendekatkan diri kepada sesuatu. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah SAW pernah bersabda bahwasanya apabila kita bersalaman dan bersilaturahim dengan orang yang bertemu dengan Rasulullah ataupun di masa kini adalah orang yang mempunyai sanad silsilah keilmuan yang bersambung ke Rasulullah, itu sama saja dengan bersalaman dengan Rasulullah SAW.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sungguh agama ini sangat indah dan sempurna terhadap umat-umatnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagaimana Baginda Rasul bersabda: </span><i><span style="font-weight: 400;">Man sofahani au man sofaha man sofahani</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena orang yang mempunyai Sanad Silsilah dalam tarekat keilmuannya sesungguhnya dia adalah orang yang telah bertemu dengan Nabi SAW dengan lantaran dia telah menerima Nur Muhammad yang turun temurun dalam sanad silsilah tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mengenai kedudukan ini, Syekh Fathurrahman berkata: Bertawasul atau berwasilah kepada Mursyidmu yang masih hidup juga diperbolehkan, bukan saja kepada Guru Mursyidmu yang telah wafat, sebagaimana dalam hadits dikatakan:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dari ‘Usman bin Hunaif R.A., beliau berkata; “Aku mendengar Rasulullah ﷺ saat ada seorang lelaki buta datang mengadukan matanya yang tidak berfungsi kepadanya, lalu ia berkata: ‘Wahai Rasulullah ﷺ, aku tidak punya pemandu dan sangat payah. Beliau bersabda: ‘Pergilah ke tempat wudhu, berwudhu, shalatlah dua raka’at, kemudian berdoalah (dengan redaksi): ‘Wahai Allah, aku memohon dan menghadap kepada-Mu, dengan (menyebut) Nabi-Mu Muhammad ﷺ, nabi pembawa rahmat. Wahai Muhammad, sungguh aku menghadap kepada Tuhan-Mu dengan menyebutmu, karenanya mataku bisa berfungsi kembali. Ya Allah terimalah syafaatnya bagiku, dan tolonglah diriku dalam kesembuhanku.’ ‘Utsman berkata: ‘Demi Allah kami belum sempat berpisah dan perbincangan kami belum begitu lama sampai lelaki itu datang (ke tempat kami) dan sungguh seolah-olah ia tidak pernah buta sama sekali’</span></i><span style="font-weight: 400;">.”_ (HR. Al-Hakim, At-Tirmidzi dan Al-Baihaqi. Shahih)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Juga dikatakan bahwa, </span><i><span style="font-weight: 400;">tawasul </span></i><span style="font-weight: 400;">dengan orang </span><i><span style="font-weight: 400;">shalih </span></i><span style="font-weight: 400;">yang hidup, disebutkan dalam kitab Shahih Bukhari (Imam Bukhori, Shahih Bukhari, 1987, Beirut, Dar Ibn Katsir, halaman 99)  sebagai berikut:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُثَنَّى عَنْ ثُمَامَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ إِذَا قَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا قَالَ فَيُسْقَوْنَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artinya: “</span><i><span style="font-weight: 400;">Diriwayatkan dari Anas bin Malik sesungguhnya Umar bin Khatthab radliyallahu ‘anh ketika masyarakat tertimpa paceklik, dia meminta hujan kepada Allah dengan wasilah Abbas bin Abdul Mutthalib, dia berdoa ‘Ya Allah! Dulu kami bertawasul kepada-Mu dengan perantara Nabi kami, lalu kami diberi hujan. Kini kami bertawasul kepadamu dengan perantara paman Nabi kami, berikanlah kami hujan</span></i><span style="font-weight: 400;">”._ Perawi Hadits mengatakan _“Mereka pun diberi hujan.”_ (HR Bukhari)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikianlah dapat disimpulkan bahwasanya kita wajib menjaga Silaturahim dengan Guru Mursyid agar terjaga hubungan kita dengan Allah maupun RasulNya karena Nur Muhammad telah terlimpah kepada Sang Guru Mursyid. Insya Allah&#8230;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pokok dari ajaran agama adalah mengajarkan kepada ummatnya tentang bagaimana berhubungan dengan Tuhan, cara mengenal-Nya dengan sebenar-benar kenal yang di istilahkan dengan makrifat, kemudian baru menyembah-Nya dengan benar pula. Apakah agama Islam, Kristen, Hindu dan lain-lain, semuanya mengajarkan ajaran pokok ini yaitu bagaimana seseorang bisa sampai kehadirat-Nya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena itu pula Allah SWT menurunkan para nabi/Rasul untuk menyampaikan metodologi cara berhubungan dengan-Nya, tidak cukup satu Nabi, Allah SWT menurunkan ribuan Nabi untuk meluruskan kembali jalan yang kadangkala terjadi penyimpangan seiring berjalannya waktu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi Adam as setelah terusir dari surga bertahun-tahun bahkan berpuluh tahun bertobat kepada Allah SWT tidak diampuni. Setelah beliau berwasilah (teknik bermunajat) kepada Nur Muhammad barulah dosa-dosa beliau diampuni oleh Allah SWT. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artinya, Allah mengampuni Adam as bukan karena ibadahnya akan tetapi karena ada faktor tak terhingga yang bisa menyambungkan ibadah beliau kepada pemilik bumi dan langit. Lewat faktor tak terhingga itulah maka seluruh permohonan Nabi Adam as sampai kehadirat Allah SWT. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Faktor tak terhingga itu adalah Nur Muhammad yang merupakan pancaran dari Nur Allah yang berasal dari sisi-Nya, tidak ada satu unsurpun bisa sampai kepada matahari karena semua akan terbakar musnah kecuali unsur dia sendiri yaitu cahayanya, begitu pula dengan Allah SWT, tidak mungkin bisa sampai kehadirat-Nya kalau bukan melalui cahaya-Nya</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nur Muhammad adalah pancaran Nur Allah yang diberikan kepada Para Nabi mulai dari Nabi Adam as sampai dengan Nabi Muhammad SAW, dititipkan dalam dada para Nabi dan Rasul sebagai conductor yang menyalurkan energi Ketuhanan Yang Maha Dasyat dan Maha Hebat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan penyaluran yang sempurna itu pula yang membuat nabi Musa bisa membelah laut, Nabi Isa menghidupkan orang mati dan Para nabi menunjukkan mukjizatnya serta para wali menunjukkan kekeramatannya. Karena Nur Muhammad itu pula yang menyebabkan wajah Nabi Muhammad SAW tidak bisa diserupai oleh syetan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah Rasulullah SAW wafat apakah Nur Muhammad itu ikut hilang?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tidak! Nur tersebut diteruskan kepada Sayyidina Abu Bakar Siddiq ra ataupun Sayyidina Ali ra sebagai sahabat Beliau yang utama. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Tidak melebih Abu Bakar dari kamu sekalian dengan karena banyak shalat dan banyak puasa, tetapi (melebihi ia akan kamu) karena ada sesuatu (rahasia) yang tersimpan pada dadanya”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada kesempatan yang lain Rasulullah bersabda pula :</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Tidak ada sesuatupun yang dicurahkan Allah ke dadaku, melainkan seluruhnya kutumpahkan pula ke dada Abu Bakar Siddiq”</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nur Muhammad akan terus berlanjut hingga akhir zaman, dan Nur itu pula yang terdapat dalam diri seorang Mursyid yang Kamil Mukamil yang wajahnya juga tidak bisa diserupai oleh syetan. Memandang wajah Mursyid hakikatnya adalah memandang Nur Muhammad dan sudah pasti memandang Nur Allah SWT.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi SAW bersabda: </span><i><span style="font-weight: 400;">La yadhulunara muslimun ra-ani wal man ra-a man ra-ani wala man ra-a man ra-ani ai walau bisab’ina wasithah, fainnahum khulafa-li fi tablighi wal irsyadi, inistaqamu ala syarii’ati.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artinya: “</span><i><span style="font-weight: 400;">Tidak akan masuk neraka seorang muslim yang melihat aku dan tidak juga (akan masuk neraka) yang melihat orang yang telah melihat aku, dan tidak juga (akan masuk neraka) orang yang melihat orang yang telah melihat aku, sekalipun dengan 70 wasithah (lapisan/antara). Sesungguhnya mereka itu adalah para khalifahku dalam menyampaikan (islam/sunahku) mengasuh dan mendidik (orang ramai), sekiranya mereka itu tetap istiqamah didalam syari’atku”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (H.R. Al – Khatib bin Abd.Rahman bin Uqbah).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Makna melihat dalam hadits di atas bukan dalam pengertian melihat secara umum, karena kalau kita maknai melihat itu dengan penglihatan biasa maka Abu Jahal dan musuh-musuh nabi juga melihat beliau akan tetapi tetap masuk Neraka. Melihat yang dimaksud adalah melihat Beliau sebagai sosok nabi yang menyalurkan Nur Allah kepada umatnya, melihat dalam bentuk rabithah menggabungkan rohani kita dengan rohani beliau.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Darimana kita tahu seseorang itu pernah melihat Nabi dan bersambung sampai kepada Beliau? Kalau melihat dalam pengertian memandang secara awam maka para ahlul bait adalah orang-orang yang sudah pasti punya hubungan melihat karena mereka adalah keturunan Nabi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akan tetapi karena pengertian melihat itu lebih kepada *rabitah* atau hubungan berguru, maka yang paling di jamin punya hubungan melihat adalah Para Ahli Silsilah Thariqat yang saling sambung menyambung sampai kepada Rasulullah SAW.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syukurlah bagi orang-orang yang telah menemukan seorang Guru Mursyid yang silsilahnya bersambung kepada Rasulullah SAW, yang selalu memberikan pencerahan dengan menyalurkan Nur Muhammad sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin, bermohon atas namanya niscaya Allah SWT akan mengabulkan do’a dan dari Mursyid lah Firman Nafsani dari Allah terus berlanjut dan tersampaikan kepada hamba-Nya yang telah mendapat petunjuk.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Barulah kita tahu kenapa memandang wajah Mursyid itu bisa mengubah akhlak manusia yang paling bejat sekalipun, karena dalam wajah Mursyid itu adalah pintu langsung kepada Allah SWT.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi Adam as diampuni dosanya dengan berwasilah kepada Nur Muhammad, apa mungkin dosa kita bisa terampuni tanpa Nur Muhammad?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Marilah kita memuliakan Guru Mursyid kita sebagai bhakti kasih kita kepadanya, dari Beliaulah Nur Muhammad itu tersalurkan sehingga bencana sehebat apapun dapat ditunda, sesungguhnya Guru Mursyid itu adalah Guru kita dari dunia sampai ke akhirat kelak, jangan kita dengarkan orang-orang yang melarang memuliakan Guru sebagai Ulama pewaris Nabi sesungguhnya ajaran demikian itu baru muncul di abad ke-18, muncul akibat keberhasilan orang orientalis menghancurkan Islam dari dalam.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ingat pesan dari </span><a href="http://bertuahpos.com/islampedia"><span style="font-weight: 400;">Nabi SAW</span></a><span style="font-weight: 400;"> yang mulia: </span><i><span style="font-weight: 400;">“Muliakanlah Ulama sesungguhnya mereka adalah pewaris pada nabi, barang siapa memuliakan mereka maka telah memuliakan Allah dan Rasul-Nya”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (H.R. Al – Khatib Al – Baghdadi dari Jabir R.A.)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syukur yang tak terhingga bagi orang-orang yang telah menemukan ulama pewaris Nabi, yang apabila memandang wajahnya sama dengan memandang Nur Muhammad, wajah yang tidak bisa diserupai oleh syetan, dengan wajah itu pula yang bisa menuntun kita dalam setiap ibadah, dalam kehidupan sehari-hari, wajah yang kekal abadi, wajah Nur Muhammad. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah selalu memuliakan engkau, merahmati dan memberkahi kehidupanmu wahai sahabatku.***</span></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Risalah Kematian: Saat Kematian Menjadi Jalan Pulang</title>
		<link>https://samarindanews.com/islampedia/3691/risalah-kematian-saat-kematian-menjadi-jalan-pulang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Oct 2025 08:28:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Islampedia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=3691</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: H. Derajat &#124; Ketua Pasulukan Loka Gandasasmita KEMATIAN adalah peristiwa yang pasti datang dan tidak seorang pun mampu menghindarinya. Ia menjadi misteri]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: H. Derajat | Ketua Pasulukan Loka Gandasasmita</p>
<hr />
<p><strong>KEMATIAN</strong> adalah peristiwa yang pasti datang dan tidak seorang pun mampu menghindarinya. Ia menjadi misteri yang menimbulkan berbagai tafsir: sebagian orang takut menghadapinya, sementara sebagian lainnya menantikan dengan penuh kerinduan — sebab di sanalah perjumpaan sejati dengan Sang Kekasih Abadi.</p>
<p>Guru agung para pencinta Ilahi, Syekh Jalaluddin Rumi (1207–1273 M), pernah berkata:</p>
<p>“Mengetahui bahwa Engkaulah yang mengambil kehidupan, kematian menjadi sangat manis. Selama aku bersama-Mu, kematian bahkan lebih manis dibandingkan kehidupan itu sendiri.”</p>
<p><strong>Kematian: Antara Ketakutan dan Kerinduan</strong></p>
<p>Bagi kebanyakan manusia, kematian dipandang sebagai akhir yang menyedihkan — penuh tangisan, kehilangan, dan rasa takut. Namun, bagi para pecinta Tuhan, kematian justru adalah pintu menuju pertemuan, jembatan antara yang mencintai dengan yang dicintai.</p>
<p>Rumi menggambarkan kematian sebagai perayaan cinta. Dalam Fihi Ma Fihi, beliau menuturkan bagaimana di malam terakhir hidupnya, ia masih bersenandung lembut menulis syair penuh rindu:</p>
<p>“Di malam sebelumnya aku bermimpi. Melihat seorang syekh di pelataran rindu. Ia menudingkan tangannya padaku dan berkata: ‘Bersiaplah untuk bertemu denganku.’”</p>
<p>Ketika demam parah menimpa Rumi, tak tampak sedikit pun ketakutan di wajahnya. Justru ia menampakkan kebahagiaan dan melarang sahabat-sahabatnya bersedih atas kepergiannya. Ia tahu, kematian bukanlah perpisahan — melainkan pertemuan.</p>
<p><strong>Kematian Sebagai Perayaan Cinta</strong></p>
<p>Dalam salah satu syairnya yang terkenal, When I Die, Rumi menulis:</p>
<p>“Ketika kau melihat jenazahku diusung, jangan menangis karena kepergianku. Aku tidak pergi — aku telah sampai pada Cinta Yang Abadi.”</p>
<p>“Ketika engkau meninggalkanku di kuburan, jangan ucapkan selamat tinggal. Kuburan hanyalah tirai menuju Surga di baliknya.”</p>
<p>“Ketika matahari terbenam, itu tampak seperti akhir. Padahal sejatinya, itu adalah fajar baru.”</p>
<p>Rumi menegaskan bahwa kematian bukanlah kegelapan, melainkan awal dari cahaya. Ia seperti benih yang jatuh ke bumi untuk kemudian tumbuh menjadi kehidupan baru. Ruh manusia tidak hilang — ia hanya berpindah dari satu ruang kesadaran ke ruang yang lebih tinggi.</p>
<p><strong>Dua Jenis Kematian: Alami dan Mistikal</strong></p>
<p>Dalam pandangan para sufi, kematian memiliki dua dimensi:</p>
<p>1. Mati Idhtirari (Mati Alami)</p>
<p>Kematian fisik yang pasti dialami semua makhluk. Ia adalah perpindahan alam — dari dunia menuju barzakh dan seterusnya ke kehidupan abadi: surga atau neraka.</p>
<p>2. Mati Ikhtiyari (Mati Mistikal)</p>
<p>Inilah yang disebut “mati sebelum mati”, yaitu kematian spiritual yang dicapai melalui perjalanan batin. Seseorang “mati” dari hawa nafsunya, dari ego, dan dari segala keterikatan dunia. Ia hidup hanya untuk Allah semata.</p>
<p>Dalam Thariqah Naqsyabandiyah, para sufi membagi kematian mistikal ini dalam beberapa tingkatan:</p>
<p>Mati Thabi’i: Jiwa mulai mendengar panggilan Allah dari dalam dirinya.</p>
<p>Mati Ma’nawi: Hati menyaksikan kalimat Lailahaillallah sebagai realitas tunggal.</p>
<p>Mati Shuri: Pandangan dan pendengaran duniawi lenyap, hanya nur Ilahi yang tersisa.</p>
<p>Mati Hissi: Kesadaran total bahwa “tiada yang ada kecuali Allah.”</p>
<p><strong>Kesimpulan: Kematian Adalah Keindahan</strong></p>
<p>Kematian, dalam pandangan para sufi, bukan akhir, melainkan puncak perjalanan cinta. Ia bukan kegelapan, melainkan fajar yang menyinari ruh menuju keabadian.</p>
<p>Bila hidup adalah perjalanan untuk mengenal-Nya, maka kematian adalah saat untuk kembali dalam pelukan-Nya. Seperti Rumi menulis:</p>
<p>“Jangan menangis untukku, karena saat itulah aku terbang ke surga cintaku.”</p>
<p>Maka, sahabatku, tidak ada yang perlu dirisaukan dari kematian, sebab di sanalah kita</p>
<p>akhirnya akan bertemu — dengan Dia yang selama ini kita cintai.***</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Untukmu yang Sedang Resah Menjalani Kehidupan Ini</title>
		<link>https://samarindanews.com/islampedia/3649/untukmu-yang-sedang-resah-menjalani-kehidupan-ini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Oct 2025 02:44:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Islampedia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=3649</guid>

					<description><![CDATA[SAHABATKU yang aku cintai, kalianlah alasan aku masih berdiri dan diberi kehidupan hingga hari ini. Karena rasa sayang dan keprihatinanku kepada kalian, aku]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>SAHABATKU</b> yang aku cintai, kalianlah alasan aku masih berdiri dan diberi kehidupan hingga hari ini. Karena rasa sayang dan keprihatinanku kepada kalian, aku tuliskan risalah ini — semoga bisa menjadi penyejuk hati di tengah keresahan hidup.</p>
<p>Banyak di antara kita merasa gelisah: tentang pekerjaan, penghasilan, jabatan, atau masa depan yang terasa tidak pasti. Namun, para guru kita dulu sudah memberi nasihat indah:</p>
<p><i>“Kalau ingin menangkap ayam, jangan dikejar. Kita hanya akan lelah, dan ayam itu malah lari menjauh. Berilah ia beras, nanti ia akan datang dengan rela.”</i></p>
<p>Begitulah rezeki bekerja. Ia tidak perlu dikejar dengan gelisah, cukup dijemput dengan amal baik dan hati yang ikhlas. Kalau kita mau berbagi, memberi sedekah, menolong sesama — maka rezeki yang berkah akan datang menghampiri tepat pada waktunya.</p>
<p>Guru-guru kita juga berkata:</p>
<p><i>“Kalau ingin memelihara kupu-kupu, jangan tangkap kupu-kupunya. Tapi tanamlah bunga, maka kupu-kupu akan datang dengan sendirinya.”</i></p>
<p>Maksudnya, jangan kejar kebahagiaan secara paksa. Tanamlah kebaikan dan kejujuran dalam hidupmu. Orang yang menanam kebajikan akan didatangi kebahagiaan, keberuntungan, bahkan hal-hal indah lain yang tak pernah disangka.</p>
<p>Untukmu yang sedang tertatih mengejar dunia, berhentilah sejenak. Ambil napas, dan dengarkan pesan Rasulullah SAW dalam hadits Qudsi berikut:</p>
<p><i>“Wahai anak Adam, janganlah engkau takut kepada manusia yang berkuasa, selama kekuasaan-Ku masih ada. Dan kekuasaan-Ku tidak akan pernah berakhir.”</i></p>
<p><i>“Janganlah engkau khawatir dengan rezekimu, karena gudang rezeki-Ku tidak akan pernah habis.”</i></p>
<p>Pesan ini mengingatkan kita bahwa tidak perlu takut kehilangan pekerjaan, jabatan, atau peluang, sebab semua sudah diatur oleh Allah dengan penuh kasih.</p>
<p>Dalam hadits Qudsi itu, Allah juga berfirman:</p>
<p><i>“Aku telah menetapkan rezekimu, maka janganlah engkau terlalu penat mencarinya. Jika engkau ridha dengan pembagian-Ku, Aku akan menenangkan hatimu. Tapi jika engkau tidak ridha, Aku akan buat engkau terus berlari mengejar dunia seperti hewan di padang, dan engkau tetap tidak akan mendapatkan apa-apa selain yang sudah Aku tetapkan.”</i></p>
<p>Artinya, ketenangan tidak datang dari banyaknya harta, tapi dari hati yang ikhlas menerima ketentuan Allah. Saat kita ridha, hidup terasa ringan; tapi saat kita menolak, hidup menjadi beban.</p>
<p>Allah juga berfirman:</p>
<p><i>“Aku tidak lupa kepada orang yang berbuat dosa. Maka bagaimana mungkin Aku lupa kepada orang yang taat?”</i></p>
<p>Betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Bahkan kepada yang berbuat salah, Allah masih memberi kesempatan untuk kembali. Maka, jangan pernah berpikir bahwa Allah melupakanmu — Dia selalu ada, bahkan dalam air matamu yang jatuh di malam sunyi.</p>
<p>Allah menutup hadits Qudsi ini dengan kalimat yang penuh cinta: <i>“Wahai anak Adam, Aku mencintaimu. Maka demi hak-Ku atasmu, jadilah engkau orang yang mencintai-Ku.”</i></p>
<p>Cinta Allah begitu luas, melebihi segala kesedihan dan keresahan hidupmu. Jika kita mencintai-Nya, maka segala yang terasa berat akan menjadi ringan, dan segala ketakutan akan berubah menjadi harapan.</p>
<p>Sahabatku, Jangan kejar dunia dengan cemas. Tanamlah kebaikan, tebarkan kejujuran, dan percayalah pada pembagian Allah. Dia tidak pernah lupa, tidak pernah terlambat, dan tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.</p>
<p><i>“Jika engkau mencari-Ku, engkau akan menemukan-Ku. Dan jika engkau kehilangan-Ku, maka engkau kehilangan seluruh kebaikan.”</i></p>
<p>Semoga cinta Allah menjadi cahaya dalam langkah kita, penenang di setiap resah, dan pengingat bahwa semua yang kita cari, sesungguhnya sudah ada di sisi-Nya.***</p>
<hr />
<p><i>Risalah dari </i><b><i>H. Derajat</i></b> | <i>Ketua Pasulukan Loka Gandasasmita </i>| Seluruh materi dalam tulisan ini merupakan tanggung jawab penulis.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Oase Dakwah: Menghidupkan Sistem Sosial Islam di Tengah Krisis Peradaban</title>
		<link>https://samarindanews.com/islampedia/2791/oase-dakwah-menghidupkan-sistem-sosial-islam-di-tengah-krisis-peradaban/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Jul 2025 04:48:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Islampedia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=2791</guid>

					<description><![CDATA[SAUDARAKU yang dirahmati Allah, kita hidup di zaman yang penuh ujian: arus globalisasi menghantam nilai kita, sekularisme merusak tatanan keluarga, kapitalisme melahirkan kesenjangan]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>SAUDARAKU</b> yang dirahmati Allah, kita hidup di zaman yang penuh ujian: arus globalisasi menghantam nilai kita, sekularisme merusak tatanan keluarga, kapitalisme melahirkan kesenjangan sosial.</p>
<p>Umat Islam, yang dahulu menjadi rahmat bagi seluruh alam, kini menjadi objek penderitaan sosial. Mengapa? Karena kita menjauh dari sistem yang Allah turunkan untuk mengatur kehidupan manusia: Syariat Islam sebagai pedoman sosial.</p>
<p>“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103).</p>
<p>Persatuan umat dan tatanan sosial yang harmonis hanya mungkin jika kita kembali kepada nilai Islam yang sempurna. <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Islam"><b>Islam</b></a> bukan sekadar ibadah ritual, tetapi sebuah sistem yang mengatur seluruh aspek kehidupan, sebagaimana ditegaskan oleh Imam Hasan al-Banna:</p>
<p>“Islam adalah sistem yang menyeluruh, mencakup negara dan tanah air, pemerintah dan umat, akhlak dan kekuatan, rahmat dan keadilan.”</p>
<p><b>Mengapa Kita Harus Kembali ke Sistem Sosial Islam?</b></p>
<p>Mari kita jujur. Kerusakan sosial yang kita saksikan hari ini bukanlah kebetulan. Pergaulan bebas, narkoba, perceraian massal, korupsi, kesenjangan sosial—semua ini adalah akibat kita meninggalkan pedoman Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:</p>
<p>“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim).</p>
<p>Sayyid Qutb dengan tegas mengingatkan: “Umat ini tidak akan bangkit kecuali dengan manhaj yang membangkitkannya pertama kali, yaitu Islam.” (Ma’alim fi al-Tariq).</p>
<p><b>Fakta Krisis Sosial</b></p>
<p>Angka perceraian di Indonesia meningkat 50% dalam 10 tahun terakhir (Data BPS). 64% remaja urban terjerat seks bebas (Data BKKBN). 1% penduduk menguasai lebih dari 50% kekayaan nasional (World Bank).</p>
<p>Ini bukan sekadar angka, ini adalah jeritan nurani umat. Sistem sosial sekular telah gagal menegakkan moral dan keadilan. Islam adalah solusi, sebagaimana ditegaskan oleh Allah:</p>
<p>“Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58).</p>
<p><b>Konsep Sosial Islam: Solusi Hakiki</b></p>
<p>Islam datang untuk membangun masyarakat berbasis iman, akhlak, dan keadilan. Abdul Qadir Audah menulis:</p>
<p>“Syariat Islam bukan sekadar hukum, tetapi rahmat yang menjamin keadilan sosial dan melindungi masyarakat dari kerusakan.”</p>
<p><b>Prinsip Utama Sistem Sosial Islam</b></p>
<ol>
<li aria-level="1">Tauhid sebagai fondasi → Semua manusia sama di hadapan Allah.</li>
<li aria-level="1">Ukhuwah Islamiyah → Ikatan iman lebih kuat dari ikatan darah.</li>
<li aria-level="1">Keadilan Sosial → Hak setiap individu dijaga, termasuk fakir miskin dan anak yatim.</li>
<li aria-level="1">Amar Ma’ruf Nahi Munkar → Kontrol sosial yang mendidik, bukan menghukum secara buta.</li>
</ol>
<p>“Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Maidah: 2).</p>
<p><b>Langkah Dakwah dan Aksi Sosial</b></p>
<ol>
<li>Tarbiyah Ruhiyah dan Sosial</li>
</ol>
<p>Gerakan dakwah harus fokus pada pembinaan iman dan akhlak. Hasan al-Banna berkata: “Perbaikan individu adalah jalan menuju perbaikan masyarakat, dan perbaikan masyarakat adalah jalan menuju kebangkitan umat.”</p>
<ol start="2">
<li>Membangun Ukhuwah dan Solidaritas</li>
</ol>
<p>Persatuan umat harus dihidupkan kembali. Tidak ada kemenangan tanpa kesatuan. QS. Al-Hujurat: 10 menegaskan: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu.”</p>
<ol start="3">
<li>Amar Ma’ruf Nahi Munkar dengan Hikmah</li>
</ol>
<p>Kontrol moral bukan sekadar menghukum, tapi mendidik. Nabi ﷺ bersabda: “Agama adalah nasihat.” (HR. Muslim).</p>
<ol start="4">
<li>Perjuangan Politik dan Sosial</li>
</ol>
<p>Sayyid Qutb menulis: “Kebebasan sejati hanya ada di bawah hukum Allah, bukan hukum manusia.”</p>
<p><b>Menghidupkan Lembaga Hisbah Modern</b></p>
<p>Dulu, Hisbah menjaga pasar dari kecurangan, mencegah kemungkaran di ruang publik. Kini, kita butuh Hisbah Digital:</p>
<ol>
<li aria-level="1">Mengawasi konten media sosial yang merusak moral.</li>
<li aria-level="1">Mencegah eksploitasi ekonomi.</li>
<li aria-level="1">Menegakkan etika bisnis sesuai syariah.</li>
<li aria-level="1">Menjawab Tantangan Modern</li>
</ol>
<p>Globalisasi melahirkan budaya permisif. Anak-anak kita dibanjiri konten pornografi, liberalisme, dan hedonisme. Apakah kita akan diam? Abdul Qadir Audah berkata:</p>
<p>“Diam atas kerusakan adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah Allah.”</p>
<p>“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104).</p>
<p><b>Ajakan untuk Bangkit</b></p>
<p>Saudaraku, kebangkitan umat bukan mimpi jika kita kembali kepada syariah Allah. Mari kita mulai dari diri sendiri: perbaiki akhlak, perkuat ukhuwah, dukung hukum yang adil. Kita jadikan masjid, sekolah, dan rumah kita sebagai pusat dakwah sosial.</p>
<p>Hasan al-Banna mengingatkan: “Kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang kita punya, maka jangan sia-siakan sedetik pun.”</p>
<p>Oase dakwah ini bukan sekadar kata, tapi panggilan untuk jihad sosial. Kita ingin masyarakat yang adil, beradab, dan diridhai Allah. Kita ingin kembali menjadi umat terbaik:</p>
<p>“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110).</p>
<p>Semoga Allah meneguhkan langkah kita dalam membangun masyarakat islami yang kuat, bersatu, dan bermartabat. <i>Allahu ‘Alam</i>.***</p>
<hr />
<h6><b>Penulis</b>: <b>Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab</b> | <i>Seluruh materi dalam artikel ini murni disusun dan menjadi tanggung jawab penulis.</i></h6>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
