<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Insight - SamarindaNews</title>
	<atom:link href="https://samarindanews.com/tag/insight/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://samarindanews.com</link>
	<description>Samarindanews.Com</description>
	<lastBuildDate>Fri, 07 Nov 2025 01:00:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.3</generator>
	<item>
		<title>Perjalanan Mendalam: Dari Calon Taruna Hingga Perwira di Akmil Magelang</title>
		<link>https://samarindanews.com/insight/3861/perjalanan-mendalam-dari-calon-taruna-hingga-perwira-di-akmil-magelang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2025 01:00:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Insight]]></category>
		<category><![CDATA[Akademi Militer]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=3861</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mengabdi pada tanah air bukan sekadar pilihan bagi mereka yang mengikuti jejak di Akademi Militer (Akmil) Magelang, itu adalah panggilan hidup. Perjalanan</p>
<p>The post <a href="https://samarindanews.com/insight/3861/perjalanan-mendalam-dari-calon-taruna-hingga-perwira-di-akmil-magelang/">Perjalanan Mendalam: Dari Calon Taruna Hingga Perwira di Akmil Magelang</a> first appeared on <a href="https://samarindanews.com">SamarindaNews</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Mengabdi pada tanah air bukan sekadar pilihan bagi mereka yang mengikuti jejak di Akademi Militer (Akmil) Magelang, itu adalah panggilan hidup. Perjalanan panjang dari seleksi ketat hingga dilantik sebagai perwira TNI Angkatan Darat menuntut fisik, mental, dan karakter yang tak kalah tangguh. Berikut langkah-langkah yang harus dilalui calon taruna Akmil, berdasarkan data resmi dan publikasi terkait.</p>
<h6>1. Persyaratan Awal &amp; Seleksi</h6>
<p>Calon taruna Akmil harus memenuhi sejumlah persyaratan umum dan khusus: menjadi Warga Negara Indonesia, beriman dan bertaqwa, setia ke NKRI, serta dalam kondisi sehat jasmani dan rohani. Selanjutnya, terdapat tahapan seleksi administratif, kesehatan, jasmani, psikologi, kesehatan mental dan ideologi. Contoh syarat fisik: tinggi badan, usia maksimal saat pembukaan pendidikan, bebas tato dan tindik (kecuali karena agama/adat).</p>
<h6>2. Pendidikan &amp; Masa Taruna</h6>
<p>Setelah lolos seleksi, calon taruna menempuh pendidikan militer di Akmil selama empat tahun di Magelang. Pendidikan mencakup aspek akademik, militer, taktik, kepemimpinan, latihan fisik serta kehidupan barak yang disiplin tinggi.</p>
<h6>3. Lulusan &amp; Gelar</h6>
<p>Para taruna yang lulus menerima gelar Sarjana Terapan Pertahanan (S.Tr.(Han)) serta dilantik sebagai Letnan Dua (Letda) TNI AD. Masa pendidikan dan kurikulum terus diperbaharui untuk menyesuaikan tantangan modern, seperti yang terlihat dalam dokumen revisi standar diklat Akmil.</p>
<h6>4. Ikatan Dinas &amp; Penempatan</h6>
<p>Calon taruna juga bersedia menjalani ikatan dinas dan ditempatkan di seluruh wilayah NKRI. Ini menegaskan bahwa pendidikan di Akmil bukan hanya tentang meraih gelar, tapi juga mengabdikan diri.</p>
<p>Perjalanan menjadi taruna di Akmil Magelang adalah kombinasi antara panggilan pengabdian dan pendidikan intens yang membentuk karakter pemimpin. Dari seleksi awal hingga pelantikan, seluruh proses dirancang untuk memastikan bahwa mereka bukan hanya memiliki kemampuan militer, tetapi juga jiwa nationalism dan integritas tinggi. Lembah Gunung Tidar menyaksikan lahirnya generasi penerus yang siap menjaga kedaulatan bangsa.</p>
<p><strong>Penulis:</strong> Azel</p><p>The post <a href="https://samarindanews.com/insight/3861/perjalanan-mendalam-dari-calon-taruna-hingga-perwira-di-akmil-magelang/">Perjalanan Mendalam: Dari Calon Taruna Hingga Perwira di Akmil Magelang</a> first appeared on <a href="https://samarindanews.com">SamarindaNews</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jejak Sejarah Akademi Militer Magelang: Dari MA Yogyakarta hingga Akmil TNI AD</title>
		<link>https://samarindanews.com/insight/3858/jejak-sejarah-akademi-militer-magelang-dari-ma-yogyakarta-hingga-akmil-tni-ad/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Nov 2025 01:00:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Insight]]></category>
		<category><![CDATA[Akademi Militer]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=3858</guid>

					<description><![CDATA[<p>Akademi Militer (Akmil) Magelang menjadi salah satu lembaga pendidikan tertua dan paling bergengsi di Indonesia. Di sinilah para calon perwira Tentara Nasional Indonesia</p>
<p>The post <a href="https://samarindanews.com/insight/3858/jejak-sejarah-akademi-militer-magelang-dari-ma-yogyakarta-hingga-akmil-tni-ad/">Jejak Sejarah Akademi Militer Magelang: Dari MA Yogyakarta hingga Akmil TNI AD</a> first appeared on <a href="https://samarindanews.com">SamarindaNews</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.akmil.ac.id/"><strong>Akademi Militer</strong> </a>(Akmil) Magelang menjadi salah satu lembaga pendidikan tertua dan paling bergengsi di Indonesia. Di sinilah para calon perwira Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) ditempa untuk menjadi pemimpin yang tangguh dan berkarakter.</p>
<p>Namun, tidak banyak yang tahu bahwa cikal bakal Akmil sudah ada sejak awal kemerdekaan Indonesia. Berdasarkan catatan resmi akmil.ac.id, sejarah lembaga ini dimulai pada 31 Oktober 1945 dengan berdirinya Militaire Academie (MA) Yogyakarta atas perintah Jenderal Oerip Soemohardjo.</p>
<p>MA Yogyakarta menjadi wadah pertama bagi pendidikan calon perwira Indonesia setelah kemerdekaan, namun harus berhenti beroperasi pada 1950 karena situasi politik dan keamanan saat itu.</p>
<h5>Dari AMN ke Akmil</h5>
<p>Tujuh tahun kemudian, semangat membangun lembaga pendidikan militer kembali muncul. Pada 11 November 1957, Presiden Soekarno meresmikan Akademi Militer Nasional (AMN) di Magelang, Jawa Tengah. AMN menjadi tonggak baru dalam sejarah pendidikan militer Indonesia dan menjadi fondasi bagi pembentukan perwira TNI AD modern.</p>
<p>Selama perjalanannya, AMN terus berkembang dan mengalami sejumlah perubahan organisasi. Pada 16 Desember 1965, seluruh akademi angkatan bersenjata digabungkan menjadi satu wadah bernama AKABRI (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia).</p>
<p>Namun, seiring berjalannya waktu, struktur pendidikan militer kembali dipisahkan agar masing-masing matra dapat fokus pada pengembangan karakter dan strategi militernya. Pada 14 Juni 1984, AKABRI Bagian Darat resmi berubah nama menjadi Akademi Militer (Akmil) yang kita kenal hingga saat ini.</p>
<h5>Pusat Pendidikan di Lembah Tidar</h5>
<p>Kampus Akmil terletak di Lembah Gunung Tidar, Magelang, Jawa Tengah sebuah kawasan yang dikenal sebagai “jantung” pembentukan perwira TNI AD. Di sinilah para taruna ditempa dalam aspek akademik, fisik, mental, dan moral untuk menjadi pemimpin masa depan bangsa.</p>
<p>Akmil bukan hanya institusi pendidikan, melainkan juga simbol dedikasi dan pengabdian terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Lembaga ini telah melahirkan banyak tokoh militer penting, mulai dari pejabat tinggi TNI, menteri, hingga presiden.</p>
<h5>Beradaptasi di Era Modern</h5>
<p>Di tengah perkembangan zaman dan tantangan global, Akmil terus berbenah dengan menyesuaikan kurikulum dan metode pembelajarannya. Tujuannya tetap sama: membentuk perwira yang profesional, berintegritas, dan memiliki semangat juang tinggi dalam menjaga kedaulatan bangsa.</p>
<p>Kini, Akmil tak hanya menjadi lembaga pendidikan militer, tetapi juga menjadi bagian penting dalam sejarah panjang pertahanan Indonesia.***</p>
<p><strong>Penulis:</strong> Azel</p><p>The post <a href="https://samarindanews.com/insight/3858/jejak-sejarah-akademi-militer-magelang-dari-ma-yogyakarta-hingga-akmil-tni-ad/">Jejak Sejarah Akademi Militer Magelang: Dari MA Yogyakarta hingga Akmil TNI AD</a> first appeared on <a href="https://samarindanews.com">SamarindaNews</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kehidupan Taruna Akademi Militer: Disiplin, Tangguh, dan Penuh Makna</title>
		<link>https://samarindanews.com/insight/3855/kehidupan-taruna-akademi-militer-disiplin-tangguh-dan-penuh-makna/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Nov 2025 01:00:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Insight]]></category>
		<category><![CDATA[Akademi Militer]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=3855</guid>

					<description><![CDATA[<p>DI BALIK ketegasan dan wibawa para perwira TNI Angkatan Darat, ada proses panjang yang dimulai sejak mereka menjadi taruna di Akademi Militer (Akmil). Kehidupan sehari-hari</p>
<p>The post <a href="https://samarindanews.com/insight/3855/kehidupan-taruna-akademi-militer-disiplin-tangguh-dan-penuh-makna/">Kehidupan Taruna Akademi Militer: Disiplin, Tangguh, dan Penuh Makna</a> first appeared on <a href="https://samarindanews.com">SamarindaNews</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>DI BALIK</strong> ketegasan dan wibawa para perwira TNI Angkatan Darat, ada proses panjang yang dimulai sejak mereka menjadi taruna di <a href="https://www.akmil.ac.id/">Akademi Militer</a> (Akmil). Kehidupan sehari-hari di Akmil tidak hanya membentuk fisik yang kuat, tetapi juga mental dan karakter yang tangguh sebagai calon pemimpin bangsa.</p>
<p><strong>Bangun Pagi Sebelum Subuh</strong></p>
<p>Hari-hari taruna dimulai jauh sebelum matahari terbit. Sekitar pukul 04.00 WIB, mereka sudah bangun untuk apel pagi dan olahraga fisik seperti lari, push-up, dan latihan dasar militer. Disiplin waktu menjadi fondasi utama dalam kehidupan mereka.</p>
<p><strong>Belajar dan Latihan Militer</strong></p>
<p>Setelah kegiatan fisik dan sarapan, taruna mengikuti kuliah akademik dan latihan taktis militer. Mata pelajaran yang diberikan mencakup ilmu kepemimpinan, strategi perang, sejarah militer, serta keterampilan teknis seperti navigasi, menembak, dan survival di lapangan.</p>
<p>Selain di kelas, pembelajaran juga dilakukan di medan latihan, baik di dalam maupun luar kampus. Tujuannya, agar setiap taruna memahami penerapan ilmu di situasi nyata.</p>
<p><strong>Kedisiplinan dalam Kehidupan Sehari-hari</strong></p>
<p>Setiap aktivitas taruna diatur ketat dalam jadwal yang padat. Mulai dari makan siang, istirahat, apel sore, hingga jam belajar malam. Mereka dituntut untuk menjaga kerapian, ketertiban, serta saling menghormati antar sesama taruna.</p>
<p>Makanan disajikan dengan aturan militer tidak boleh berbicara saat makan, duduk tegak, dan selesai sesuai aba-aba. Nilai-nilai kebersamaan dan tanggung jawab ditanamkan dalam setiap aspek kehidupan.</p>
<p><strong>Latihan Kepemimpinan dan Pembinaan Mental</strong></p>
<p>Kehidupan taruna juga mencakup latihan kepemimpinan di lapangan, kegiatan sosial, serta pembinaan rohani. Mereka dilatih untuk berpikir cepat, mengambil keputusan dalam tekanan, dan memimpin satuan dengan bijaksana.</p>
<p>“Menjadi taruna bukan hanya soal kekuatan fisik, tapi tentang membentuk karakter pemimpin sejati,” ujar salah satu pelatih Akmil dalam wawancara resmi laman akmil.ac.id</p>
<p><strong>Waktu Istirahat yang Terbatas</strong></p>
<p>Menjelang malam, sekitar pukul 22.00 WIB, seluruh taruna wajib istirahat. Waktu tidur hanya sekitar 5–6 jam per hari, karena mereka kembali harus siap sebelum fajar. Kedisiplinan, keuletan, dan semangat pantang menyerah menjadi bagian dari keseharian mereka.</p>
<p><strong>Akmil, Tempat Ditempanya Jiwa Ksatria</strong></p>
<p>Kehidupan taruna di Akmil bukan sekadar rutinitas keras, melainkan proses pembentukan karakter pejuang. Mereka dilatih untuk menjadi perwira yang berani, berintegritas, dan siap mengabdi pada bangsa di medan apa pun.***</p>
<p><strong>Penulis:</strong> Azel</p><p>The post <a href="https://samarindanews.com/insight/3855/kehidupan-taruna-akademi-militer-disiplin-tangguh-dan-penuh-makna/">Kehidupan Taruna Akademi Militer: Disiplin, Tangguh, dan Penuh Makna</a> first appeared on <a href="https://samarindanews.com">SamarindaNews</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Deretan Lulusan Akademi Militer Magelang yang Jadi Tokoh Nasional</title>
		<link>https://samarindanews.com/insight/3852/deretan-lulusan-akademi-militer-magelang-yang-jadi-tokoh-nasional/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Nov 2025 01:00:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Insight]]></category>
		<category><![CDATA[Akademi Militer]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=3852</guid>

					<description><![CDATA[<p>Akademi Militer (Akmil) Magelang merupakan lembaga pendidikan tinggi militer yang menjadi kawah candradimuka bagi calon perwira TNI Angkatan Darat. Sejak berdiri tahun 1945,</p>
<p>The post <a href="https://samarindanews.com/insight/3852/deretan-lulusan-akademi-militer-magelang-yang-jadi-tokoh-nasional/">Deretan Lulusan Akademi Militer Magelang yang Jadi Tokoh Nasional</a> first appeared on <a href="https://samarindanews.com">SamarindaNews</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="https://www.akmil.ac.id/">Akademi Militer</a> </strong>(Akmil) Magelang merupakan lembaga pendidikan tinggi militer yang menjadi kawah candradimuka bagi calon perwira TNI Angkatan Darat. Sejak berdiri tahun 1945, Akmil telah melahirkan banyak tokoh nasional yang berpengaruh di bidang militer maupun pemerintahan.</p>
<h5>Berikut beberapa lulusan Akmil yang dikenal luas sebagai tokoh nasional:</h5>
<p><strong>1. Jenderal (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)</strong></p>
<p>Lulusan Akmil tahun 1973, SBY merupakan presiden ke-6 Republik Indonesia. Ia dikenal sebagai sosok pemimpin dengan latar belakang militer yang kuat dan berpandangan strategis. Selama kariernya di TNI, SBY pernah menjabat berbagai posisi penting sebelum akhirnya beralih ke dunia politik.</p>
<p><strong>2. Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo</strong></p>
<p>Lulusan Akmil tahun 1982, Gatot pernah menjabat sebagai Panglima TNI pada 2015–2017. Ia dikenal aktif menggaungkan semangat nasionalisme serta menjaga persatuan bangsa melalui berbagai kegiatan kebangsaan.</p>
<p><strong>3. Jenderal (Purn) Andika Perkasa</strong></p>
<p>Lulusan Akmil tahun 1987, Andika Perkasa merupakan Panglima TNI ke-21 (2021–2022). Sebelum menjabat Panglima, ia pernah menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Dikenal tegas dan modern dalam memimpin, Andika membawa semangat transformasi di tubuh TNI.</p>
<p><strong>4. Letjen (Purn) Prabowo Subianto</strong></p>
<p>Lulusan Akademi Militer (Akmil) Magelang tahun 1974, Prabowo menempuh pendidikan militer yang membentuk disiplin, kepemimpinan, dan dedikasi tinggi terhadap negara. Setelah lulus, Prabowo meniti karier di TNI Angkatan Darat dan pernah menduduki berbagai posisi strategis, termasuk sebagai Komandan Jenderal Kopassus. Reputasinya sebagai perwira yang tegas dan visioner membuatnya dikenal publik, hingga kemudian ia terjun ke dunia politik dan menjadi salah satu tokoh berpengaruh dalam perjalanan bangsa Indonesia.</p>
<p><strong>5. Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman</strong></p>
<p>Lulusan Akmil tahun 1988, Dudung pernah menjabat sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad) dan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Ia dikenal dengan pendekatan humanis terhadap prajurit dan masyarakat.</p>
<h5>Akmil, Pencetak Pemimpin Bangsa</h5>
<p>Deretan nama di atas hanyalah sebagian kecil dari ribuan lulusan Akmil yang mengabdikan diri bagi bangsa. Tak hanya menjadi pemimpin di dunia militer, banyak juga yang berkiprah di bidang sosial, politik, dan pemerintahan.</p>
<p>Akademi Militer terus berkomitmen mencetak kader pemimpin masa depan yang berjiwa disiplin, tangguh, dan berintegritas tinggi.***</p>
<p><strong>Penulis:</strong> Azel</p><p>The post <a href="https://samarindanews.com/insight/3852/deretan-lulusan-akademi-militer-magelang-yang-jadi-tokoh-nasional/">Deretan Lulusan Akademi Militer Magelang yang Jadi Tokoh Nasional</a> first appeared on <a href="https://samarindanews.com">SamarindaNews</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Fakta Unik Akademi Militer Magelang yang Jarang Diketahui Publik</title>
		<link>https://samarindanews.com/insight/3849/fakta-unik-akademi-militer-magelang-yang-jarang-diketahui-publik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 03 Nov 2025 01:00:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Insight]]></category>
		<category><![CDATA[Akademi Militer]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=3849</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di lereng Gunung Tidar, berdiri megah sebuah lembaga yang menjadi kawah candradimuka bagi para calon perwira TNI Angkatan Darat: Akademi Militer (Akmil) Magelang. Tak</p>
<p>The post <a href="https://samarindanews.com/insight/3849/fakta-unik-akademi-militer-magelang-yang-jarang-diketahui-publik/">Fakta Unik Akademi Militer Magelang yang Jarang Diketahui Publik</a> first appeared on <a href="https://samarindanews.com">SamarindaNews</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Di lereng Gunung Tidar, berdiri megah sebuah lembaga yang menjadi kawah candradimuka bagi para calon perwira TNI Angkatan Darat: <a href="https://www.akmil.ac.id/">Akademi Militer (Akmil)</a> Magelang. Tak hanya menjadi pusat pendidikan militer, Akmil juga menyimpan banyak kisah menarik yang jarang diketahui publik. Berikut sejumlah fakta unik tentang Akmil Magelang.</p>
<h5>1. Terletak di Lembah Lima Gunung</h5>
<p>Akmil berada di Lembah Gunung Tidar, Kota Magelang, Jawa Tengah. Letaknya sangat strategis dan dikelilingi lima gunung besar: Merapi, Merbabu, Sumbing, Sundoro, dan Tidar. Kawasan pendidikan ini mencakup luas sekitar 654 hektar di ketinggian ±400 meter di atas permukaan laut menjadikannya lokasi ideal untuk pelatihan fisik dan mental para taruna.</p>
<h5>2. Berawal dari Militaire Academie di Yogyakarta</h5>
<p>Sejarah Akmil dimulai pada 31 Oktober 1945, ketika Oerip Soemohardjo menggagas pendirian Militaire Academie (MA) di Yogyakarta hanya dua bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan.</p>
<p>Lembaga ini menjadi cikal bakal sekolah perwira Indonesia. Setelah melalui beberapa fase reorganisasi dan perubahan nama, pada 14 Juni 1984, lembaga ini resmi bernama Akademi Militer (Akmil) dan berkedudukan di Magelang.</p>
<h5>3. Tradisi Unik dan Disiplin Ketat</h5>
<p>Kedisiplinan di Akmil bukan sekadar simbol, tapi gaya hidup. Salah satu tradisi khasnya adalah makan bersama dengan formasi dan komando setiap taruna harus berjajar rapi sebelum memasuki ruang makan dan hanya boleh bergerak setelah aba-aba diberikan.</p>
<p>Bahkan dalam kegiatan pembekalan kabinet yang digelar di Akmil, para peserta dibangunkan pukul 04.00 pagi dengan suara terompet, mencerminkan kedisiplinan khas militer.</p>
<h5>4. Lulusan Bergelar S.Tr.(Han) dan Menyandang Pangkat Letnan Dua</h5>
<p>Selain menjadi prajurit, para lulusan Akmil juga berstatus akademisi. Mereka memperoleh gelar Sarjana Terapan Pertahanan (S.Tr.(Han)) dengan jenjang Diploma IV, serta otomatis menyandang pangkat Letnan Dua (Letda) saat dilantik oleh Presiden Republik Indonesia.</p>
<p>Program studi yang ditempuh pun beragam, mulai dari Teknik Sipil Pertahanan, Teknik Elektronika Pertahanan, Manajemen Pertahanan, hingga Administrasi Pertahanan.</p>
<h5>5. Kerap Jadi Lokasi Kegiatan Strategis Nasional</h5>
<p>Kedisiplinan dan ketenangan suasana Akmil menjadikannya lokasi ideal untuk kegiatan nasional berskala tinggi. Salah satu momen bersejarah adalah retret Kabinet Merah Putih, di mana para menteri berkumpul di Akmil untuk pembekalan bersama Presiden dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.</p>
<p>Momen ini sekaligus menegaskan reputasi Akmil sebagai tempat pembentukan karakter dan kepemimpinan bangsa.</p>
<p>Lebih dari sekadar lembaga pendidikan, Akademi Militer Magelang adalah simbol disiplin, dedikasi, dan cinta tanah air. Dari tempat inilah lahir para pemimpin TNI Angkatan Darat yang menjaga kedaulatan negara, membawa semangat juang dari lembah sejuk Gunung Tidar menuju medan pengabdian di seluruh penjuru Indonesia.***</p>
<p><strong>Penulis:</strong> Azel</p><p>The post <a href="https://samarindanews.com/insight/3849/fakta-unik-akademi-militer-magelang-yang-jarang-diketahui-publik/">Fakta Unik Akademi Militer Magelang yang Jarang Diketahui Publik</a> first appeared on <a href="https://samarindanews.com">SamarindaNews</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jejak Kepemimpinan Akademi Militer dari Masa ke Masa</title>
		<link>https://samarindanews.com/insight/3846/jejak-kepemimpinan-akademi-militer-dari-masa-ke-masa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 02 Nov 2025 01:00:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Insight]]></category>
		<category><![CDATA[Akademi Militer]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=3846</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejak berdiri pada tahun 1945, Akademi Militer (Akmil) telah menjadi kawah candradimuka bagi para calon perwira TNI Angkatan Darat. Lembaga pendidikan militer tertinggi ini</p>
<p>The post <a href="https://samarindanews.com/insight/3846/jejak-kepemimpinan-akademi-militer-dari-masa-ke-masa/">Jejak Kepemimpinan Akademi Militer dari Masa ke Masa</a> first appeared on <a href="https://samarindanews.com">SamarindaNews</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak berdiri pada tahun 1945, <a href="https://www.akmil.ac.id/">Akademi Militer</a> (Akmil) telah menjadi kawah candradimuka bagi para calon perwira TNI Angkatan Darat. Lembaga pendidikan militer tertinggi ini tidak hanya melahirkan prajurit tangguh, tetapi juga pemimpin bangsa yang berintegritas. Perjalanan panjang Akmil tak lepas dari peran para gubernur yang memimpin dan membentuk arah pendidikan militer Indonesia.</p>
<h5>Awal Berdirinya: 1945 – 1960-an</h5>
<p>Pada masa awal berdirinya, Akademi Militer masih bernama Sekolah Perwira Angkatan Darat. Gubernur pertamanya, Mayor Jenderal TNI Soewardi (1945–1948), memimpin pada masa sulit pasca-kemerdekaan, saat Indonesia baru membangun sistem pertahanan nasional.</p>
<p>Kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh Kolonel GPH Djatikoesoemo (1948–1950) dan Kolonel Kav R.M. Soerjo Soerarso (1950–1959) yang memperkuat fondasi pendidikan perwira muda</p>
<p>Tahun 1959 hingga 1966, tongkat estafet kepemimpinan berpindah ke Kolonel Inf Sentot Iskandar Dinata, Brigjen TNI Soerono Reksodimedjo, hingga Mayjen TNI Achmad Tahir yang memantapkan kurikulum militer dan nasionalisme di tubuh taruna.</p>
<h5>Masa Penguatan dan Modernisasi: 1970–1990-an</h5>
<p>Era 1970-an menjadi momentum modernisasi pendidikan militer. Di bawah kepemimpinan Mayjen TNI Sarwo Edhie Wibowo (1970–1974), Akmil memperkenalkan berbagai pembaruan dalam sistem pelatihan dan disiplin.</p>
<p>Tongkat kepemimpinan kemudian diteruskan oleh sejumlah tokoh seperti Mayjen TNI R. Wijogo Admodarminto, Goenawan Wibisono, Sudirman Saleh, Untung Sridadi, hingga Toni Hartono, yang memperkuat reputasi Akmil sebagai lembaga militer unggulan.</p>
<h5>Masa Reformasi: 1990–2000-an</h5>
<p>Memasuki era reformasi, kepemimpinan Akmil diwarnai perubahan signifikan untuk menyesuaikan pendidikan dengan tantangan zaman. Tokoh-tokoh seperti Mayjen TNI Yusman Yutam (1993–1995), Mayjen TNI Fachrul Razi (1996–1997), dan Mayjen TNI Djoko Subroto (1997–1998) berperan penting dalam menjaga profesionalisme perwira muda di tengah dinamika nasional.</p>
<p>Setelahnya, Mayjen TNI Syamsul Ma’arif (1999–2000) hingga Mayjen TNI Prabowo Suharto (2002–2003) melanjutkan penguatan nilai kepemimpinan, disiplin, dan karakter kebangsaan.</p>
<h5>Era Milenial: 2000–Sekarang</h5>
<p>Sejak tahun 2000-an, Akmil terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan ilmu pertahanan modern. Sejumlah nama seperti Mayjen TNI Gatot Nurmantyo (2010) yang kemudian menjadi Panglima TNI, serta Mayjen TNI Dudung Abdurachman (2018–2020) yang juga menjabat di posisi strategis TNI, memperlihatkan kiprah besar lulusan dan pemimpin Akmil di tingkat nasional.</p>
<p>Kepemimpinan berlanjut ke Mayjen TNI Totok Imam Santoso (2020–2021), Mayjen TNI Candra Wijaya (2021–2022), Mayjen TNI Legowo W.R. Jatmiko (2022–2023), Mayjen TNI Erwin Djatniko (2023), dan Mayjen TNI Arnold A.P. Ritiauw (Februari–Agustus 2025).</p>
<p>Kini, sejak Agustus 2025, tampuk kepemimpinan Akademi Militer dipegang oleh Mayjen TNI Rano Maxim Adolf Tilaar, sosok prajurit yang dikenal tegas, visioner, dan humanis. Lulusan Akmil tahun 1993 ini merupakan perwira yang meniti karier dari satuan elit Kopassus, dengan pengalaman panjang di dunia operasi dan intelijen.</p>
<p>Dalam kepemimpinannya, Tilaar membawa semangat baru dalam pendidikan militer membentuk perwira muda yang tangguh secara fisik, cerdas digital, dan berkarakter kebangsaan. Ia menekankan pentingnya literasi, kepemimpinan berbasis nurani, dan disiplin moral bagi setiap taruna.</p>
<p>“Perwira masa depan harus paham algoritma, tapi tetap berpegang pada Pancasila,” ujar Tilaar, dikutip dari Bertuahpos.com.</p>
<p>Kehadiran Mayjen TNI Rano Maxim Adolf Tilaar di pucuk pimpinan Akmil menandai era baru pendidikan militer Indonesia yang lebih adaptif terhadap zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai Sapta Marga dan jiwa korsa prajurit sejati.</p>
<p>Selama hampir delapan dekade, Akademi Militer telah melahirkan banyak pemimpin bangsa dan menjadi simbol dedikasi terhadap negara. Perjalanan panjang para gubernurnya menjadi bukti bahwa kepemimpinan visioner dan semangat juang tetap menjadi roh utama dalam mencetak calon perwira masa depan Indonesia.***</p>
<p><strong>Penulis:</strong> Azel</p><p>The post <a href="https://samarindanews.com/insight/3846/jejak-kepemimpinan-akademi-militer-dari-masa-ke-masa/">Jejak Kepemimpinan Akademi Militer dari Masa ke Masa</a> first appeared on <a href="https://samarindanews.com">SamarindaNews</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sumpah Pemuda di Era Modern: Menyatukan Cinta, Pikiran, dan Arah Bangsa</title>
		<link>https://samarindanews.com/kolom/3761/sumpah-pemuda-di-era-modern-menyatukan-cinta-pikiran-dan-arah-bangsa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Oct 2025 06:48:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Insight]]></category>
		<category><![CDATA[kolom]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=3761</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Andreas Sumual &#124; Ketum Setya Kita Pancasila SETIAP tanggal 28 Oktober, gema Sumpah Pemuda selalu menggugah kesadaran kolektif bangsa Indonesia tentang makna persatuan. Namun,</p>
<p>The post <a href="https://samarindanews.com/kolom/3761/sumpah-pemuda-di-era-modern-menyatukan-cinta-pikiran-dan-arah-bangsa/">Sumpah Pemuda di Era Modern: Menyatukan Cinta, Pikiran, dan Arah Bangsa</a> first appeared on <a href="https://samarindanews.com">SamarindaNews</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh</strong>: <em>Andreas Sumual<span lang="IN"> </span>| Ketum Setya Kita Pancasila</em></p>
<hr />
<p><strong>SETIAP</strong> tanggal 28 Oktober, gema Sumpah Pemuda selalu menggugah kesadaran kolektif bangsa Indonesia tentang makna persatuan. Namun, pertanyaan yang kerap muncul di era modern ini adalah: apakah semangat Sumpah Pemuda masih relevan di tengah dunia yang berubah begitu cepat? Jawabannya: justru kini, lebih dari sebelumnya, semangat itu dibutuhkan — bukan sekadar dihafal, tetapi dihidupkan kembali dalam tindakan nyata.</p>
<p>Sumpah Pemuda bukan hanya ikrar tiga kalimat yang mengandung “satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa”, tetapi juga sebuah pernyataan cinta: cinta pada tanah air, cinta pada sesama, dan cinta pada kehidupan. Ia lahir dari keberanian generasi muda untuk menyingkirkan sekat etnis, agama, dan kepentingan, lalu menyatukan tekad demi kemerdekaan dan kehormatan bangsa. Nilai-nilai itulah yang kini perlu diterjemahkan ulang oleh pemuda modern dalam konteks zaman yang serba digital, serba cepat, dan sarat informasi.</p>
<h5>Persatuan dalam Keberagaman: Menemukan Harmoni di Tengah Perbedaan</h5>
<p>Hari ini, tantangan bangsa tidak lagi datang dari penjajahan bersenjata, melainkan dari polarisasi dan perpecahan sosial di dunia maya maupun nyata. Media sosial yang seharusnya menjadi ruang ekspresi, sering berubah menjadi medan konflik opini dan ujaran kebencian. Di sinilah makna persatuan dalam keberagaman diuji.</p>
<p>Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa keberagaman bukan penghalang, melainkan kekayaan. Pemuda masa kini harus mampu menjembatani perbedaan dengan empati, menukar prasangka dengan dialog, dan mengganti rivalitas dengan kolaborasi. Semangat Bhinneka Tunggal Ika mesti kembali dihidupkan, bukan hanya dalam simbol, tetapi dalam tindakan — dalam cara kita berkomunikasi, bekerja, dan membangun masa depan bersama.</p>
<h5>Nasionalisme yang Adaptif: Cinta Tanah Air di Tengah Arus Global</h5>
<p>Cinta tanah air di era digital tidak cukup diwujudkan lewat slogan atau bendera di profil media sosial. Nasionalisme modern adalah kesadaran untuk menjaga bumi, menghormati budaya lokal, mendukung ekonomi rakyat, dan menolak segala bentuk ketidakadilan.</p>
<p>Pemuda yang nasionalis bukan yang menutup diri dari dunia luar, tetapi yang mampu berdiri tegak di tengah arus globalisasi tanpa kehilangan jati dirinya. Mereka memanfaatkan teknologi bukan untuk menyebar kebencian, melainkan untuk berbagi ilmu, menebar kebaikan, dan memperkuat solidaritas bangsa. Inilah nasionalisme yang adaptif — fleksibel terhadap kemajuan, namun kokoh dalam nilai.</p>
<h5>Bahasa Indonesia: Jembatan yang Menyatukan Pikiran dan Perasaan</h5>
<p>Bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi, melainkan ruang batin yang menyatukan ratusan bahasa daerah dalam satu suara. Di tengah derasnya pengaruh bahasa asing dan budaya global, menjaga kemurnian dan keindahan Bahasa Indonesia berarti menjaga martabat bangsa.</p>
<p>Pemuda masa kini harus bijak menggunakan bahasa — baik di ruang publik maupun digital. Sebab di era media sosial, kata-kata bisa menyatukan, tapi juga bisa memecah. Menggunakan bahasa yang santun, inklusif, dan penuh empati adalah wujud nyata dari semangat Sumpah Pemuda yang menjunjung tinggi persaudaraan dan kesetaraan.</p>
<h5>Gotong Royong dan Solidaritas: Jiwa Kolektif yang Tak Lekang Waktu</h5>
<p>Gotong royong adalah DNA bangsa Indonesia. Jika dulu ia diwujudkan melalui kerja bersama di ladang dan kampung, kini ia hadir dalam bentuk baru: kolaborasi digital, gerakan sosial, penggalangan dana daring, dan inisiatif kemanusiaan.</p>
<p>Di tengah krisis dan bencana, generasi muda membuktikan bahwa semangat saling tolong-menolong tidak pernah padam. Mereka bergotong royong dengan teknologi, menjangkau yang jauh, membantu yang tak dikenal, dan memulihkan yang terdampak. Inilah bentuk baru solidaritas yang melampaui ruang dan waktu — semangat lama dengan wajah baru.</p>
<h5>Pancasila: Kompas Moral dalam Keberagaman</h5>
<p>Sumpah Pemuda dan Pancasila adalah dua jiwa yang tak terpisahkan. Pancasila menjadi fondasi untuk menjaga kesepahaman di tengah keberagaman. Nilai Ketuhanan menuntun manusia untuk menghormati ciptaan Tuhan, baik manusia maupun alam. Nilai Kemanusiaan dan Keadilan mengajarkan kita untuk hidup selaras, bukan hanya dengan sesama, tapi juga dengan bumi, tumbuhan, dan fauna yang menopang kehidupan.</p>
<p>Jika semangat Sumpah Pemuda adalah api, maka Pancasila adalah minyak yang membuatnya terus menyala. Keduanya membentuk arah moral bangsa: bersatu tanpa menyeragamkan, beragam tanpa berpecah, dan maju tanpa kehilangan akar.</p>
<h5>Penutup: Menghidupkan Kembali Api Sumpah Pemuda</h5>
<p>Generasi muda Indonesia hari ini memegang tanggung jawab besar: menjaga warisan semangat Sumpah Pemuda agar tidak padam di tengah derasnya arus globalisasi. Mereka harus menjadi penjaga persatuan, pembawa cahaya kebenaran di tengah gelombang hoaks, serta pelopor gotong royong di dunia nyata dan maya.</p>
<p>Sumpah Pemuda bukan sekadar peringatan sejarah, melainkan seruan abadi agar setiap anak bangsa menyatukan cinta, pikiran, dan arah perjuangan. Karena selama masih ada pemuda yang mencintai tanah air dengan tulus dan berpikir dengan jernih, Indonesia akan terus hidup — bukan hanya sebagai negara, tetapi sebagai cita-cita yang selalu tumbuh di dada setiap generasi.***</p><p>The post <a href="https://samarindanews.com/kolom/3761/sumpah-pemuda-di-era-modern-menyatukan-cinta-pikiran-dan-arah-bangsa/">Sumpah Pemuda di Era Modern: Menyatukan Cinta, Pikiran, dan Arah Bangsa</a> first appeared on <a href="https://samarindanews.com">SamarindaNews</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jejak BTN dari Masa ke Masa, Hidup Mati di Zaman Kolonial hingga Berpeluang jadi Mega Bank di Indonesia</title>
		<link>https://samarindanews.com/insight/1344/jejak-btn-dari-masa-ke-masa-hidup-mati-di-zaman-kolonial-hingga-berpeluang-jadi-mega-bank-di-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Jan 2025 08:49:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Insight]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=1344</guid>

					<description><![CDATA[<p>SAMARINDANEWS.COM &#8211; Perjalanan panjang Bank Tabungan Negara (BTN) menjadi salah satu institusi keuangan terkemuka di Indonesia tidak terlepas dari perjalan panjang yang dinamis. Berawal</p>
<p>The post <a href="https://samarindanews.com/insight/1344/jejak-btn-dari-masa-ke-masa-hidup-mati-di-zaman-kolonial-hingga-berpeluang-jadi-mega-bank-di-indonesia/">Jejak BTN dari Masa ke Masa, Hidup Mati di Zaman Kolonial hingga Berpeluang jadi Mega Bank di Indonesia</a> first appeared on <a href="https://samarindanews.com">SamarindaNews</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SAMARINDANEWS.COM &#8211; </strong>Perjalanan panjang <a href="https://www.btn.co.id/"><b>Bank Tabungan Negara </b></a>(BTN) menjadi salah satu institusi keuangan terkemuka di Indonesia tidak terlepas dari perjalan panjang yang dinamis. Berawal sebagai Kantor Tabungan Pos yang didirikan pada masa kolonial Belanda, BTN telah melalui berbagai transformasi, baik dalam nama, peran, maupun layanan.</p>
<p>Dari awal berfokus pada layanan tabungan masyarakat, kini BTN menjadi pemain utama dalam pembiayaan perumahan di Indonesia. Jejak perjalanan ini menjadi cerminan bagaimana BTN terus beradaptasi dan berinovasi untuk menjawab kebutuhan masyarakat dari masa ke masa. Inilah jejak perjalanan BTN dari masa ke masa;</p>
<p>Postspaarbank, didirikan pada 1 Januari 1897. Kantornya di sebuah gedung bergaya arsitektur kolonial di ujung Molenvliet West 1—kini dikenal Jalan Gajah Mada No.1, Jakarta.</p>
<p>Tahun 1930, Postspaarbank melakukan transformasi besar-besaran. Hal itu ditandai dengan penggunaan mesin akuntansi elektronik, yang kala itu merupakan inovasi modern dalam dunia perbankan.</p>
<p>Jaringannya kemudian diperluas pada tahun 1928-1934, karena peminat masyarakat terhadap layanan bank semakin meningkat. Bank ini buka empat kantor cabang baru di Makassar, Surabaya, Jakarta, dan Medan.</p>
<p>Pada awal pendudukan Jepang, operasional perbankan di Hindia Belanda dibekukan. Termasuk Postspaarbank, yang dilikuidasi. Namanya diubah menjadi Kantor Tabungan Tjokin Kjokoe (Biro Deposito) pada 1 April 1942, setelah pemanggilan manajemen bank oleh penguasa Jepang di Bandung, pada 4 Maret 1942.</p>
<p>Tyokin Kyoku gagal meneruskan kesuksesan Postspaarbank. Penyebabnya kondisi ekonomi masyarakat Indonesia yang terpuruk. Pada akhirnya, bank ini berhenti beroperasi pada Agustus 1945 setelah Jepang menyerah kepada Sekutu.</p>
<p>Setelah proklamasi kemerdekaan, Tyokin Kyoku diubah menjadi Kantor Tabungan Pos. Darmosoetanto ditunjuk sebagai direktur pertama.</p>
<p>Bank ini berperan penting dalam menukarkan uang Jepang dengan <i>Oeang Republik Indonesia </i>(ORI). Namun, agresi militer Belanda yang dimulai pada 19 Desember 1946 melumpuhkan operasional bank. Pada 1 Mei 1946, Kantor Tabungan Pos akhirnya ditutup.</p>
<p>Pada 1949, Kantor Tabungan Pos kembali beroperasi setelah pemerintah Indonesia mengganti namanya menjadi Bank Tabungan Pos Republik Indonesia, lalu berubah menjadi Bank Tabungan Pos pada 9 Februari 1950 sesuai Undang-Undang Darurat No.9/1950. Tanggal ini kini diperingati sebagai hari ulang tahun BTN.</p>
<p>Setelah Indonesia merdeka pada 1949, Bank Tabungan Pos memulai fase baru operasionalnya di tengah dominasi ekonomi oleh perusahaan Belanda. Sesuai UU Darurat Nomor 9 tahun 1950. Postspaarbank resmi diubah menjadi Bank Tabungan Pos pada 9 Februari 1950, yang kini menjadi hari ulang tahun BTN.</p>
<p>Di bawah kepemimpinan Darmosoetanto, Bank Tabungan Pos memperoleh status badan hukum pada 1953 dan diizinkan membuka kantor cabang. Pada 1963, bank ini berganti nama menjadi Bank Tabungan Negara (BTN) dan beralih pengelolaan ke Menteri Urusan Bank Sentral.</p>
<p>Dalam Penetapan Presiden RI No: 11 Tahun 1965 tentang Pengintegrasian BTN ke Dalam Bank Indonesia, dijelaskan melalui Penetapan Presiden Nomor: 8, BTN dilebur ke dalam Bank Negara Indonesia (BNI) Unit V sebagai bagian dari kebijakan integrasi bank-bank pemerintah. Setelah periode ketidakstabilan ekonomi, BTN dipisahkan kembali dari BNI pada 1968 dan resmi beroperasi kembali sesuai UU No. 20 tahun 1968.</p>
<p>Pada 1971, BTN menjalin kerja sama dengan Perum Pos dan Giro untuk menjalankan program Tabungan Pembangunan Nasional (Tabanas) dan Tabungan Asuransi Berjangka (Taska).</p>
<p>Kemudian, pada 29 Januari 1974, BTN resmi ditugaskan sebagai bank pembiayaan perumahan melalui Surat Menteri Keuangan. Penunjukan ini bertujuan mendorong masyarakat menabung untuk membayar cicilan rumah.</p>
<p>Tugas tersebut mulai membuahkan hasil pada September 1976, saat BTN membantu pembiayaan perumahan bagi karyawan Pemda Jawa Tengah melalui pengembang PT. Tanah Mas di Semarang.</p>
<p>Tak lama setelah itu, pada 10 Desember 1976, KPR pertama di Indonesia lahir dengan akad kredit untuk 10 karyawan Kanwil Agraria di Jawa Tengah. Sejak saat itu, penyaluran KPR BTN terus berkembang pesat, baik dari jumlah debitur maupun nilai kreditnya.</p>
<p>Bank Tabungan Negara (BTN) terus menunjukkan perkembangan pesat, terutama setelah dipercaya sebagai penyedia pembiayaan rumah. Pada 1986, BTN menandatangani akad kredit dengan IBRD/Bank Dunia senilai US$ 266,55 juta.</p>
<p>Pada 1989, BTN menerbitkan obligasi pertamanya senilai Rp 50 miliar dengan tenor 5 tahun, sekaligus mulai beroperasi sebagai bank umum setelah mendapat izin dari Bank Indonesia. Akhirnya, pada 1992, BTN resmi melaksanakan kegiatan perbankan umum secara penuh, memperkuat posisinya di sektor keuangan nasional.</p>
<p>Pada 1994, BTN resmi mendapat izin operasional sebagai bank devisa dari Bank Indonesia. Memasuki era digital, BTN mulai mengadopsi teknologi informasi pada 2002 dengan menerapkan sistem online real-time berbasis IBM-AS400 di seluruh kantor cabangnya. Selain itu, BTN juga memperluas jangkauannya ke perbankan syariah dengan membentuk Divisi Syariah (UUS) di kantor pusat.</p>
<p>Pada 2008, BTN meraih sertifikat ISO 9001-2000 untuk layanan kredit jangka menengah atas dengan pola layanan 151. Pada 12 Februari 2009, BTN mencatat sejarah dengan melakukan sekuritisasi KPR pertama di Indonesia senilai Rp 111 miliar dari 5.060 debitur, diikuti sekuritisasi terbesar senilai Rp1,5 triliun pada 9 Desember 2014.</p>
<p>Di tahun yang sama, BTN meluncurkan layanan perbankan digital dan terus fokus memperkuat bisnis perumahan, memperbarui struktur organisasi, serta memperbarui visi dan misi perusahaan.</p>
<p>Pada 2020, BTN memperkenalkan visi baru untuk menjadi The Best Mortgage Bank in Southeast Asia by 2025. Untuk mencapai visi ini, BTN fokus memperkuat fundamental, termasuk meningkatkan rasio permodalan. Sebagai langkah awal, BTN meluncurkan Junior Global Bond (Tier 2 Capital) senilai US$300 juta, yang sukses besar dengan oversubscribe hingga 12,3 kali.</p>
<p>Untuk tahun 2025-2029 menjadi masa paling menentukan bagi BTN. Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menjelaskan visi baru BTN untuk menjadi mitra utama dalam pemberdayaan finansial keluarga Indonesia.</p>
<p>Visi ini lebih luas dibandingkan target sebelumnya yang hanya fokus menjadi bank KPR terbaik di Asia Tenggara. BTN kini berkomitmen menyediakan layanan yang mendukung kebutuhan keluarga, seperti pembayaran listrik, air, dan pendidikan.</p>
<p>Untuk mendukung visi ini, BTN fokus pada pendanaan berkelanjutan dengan meningkatkan dana murah (CASA) melalui transformasi digital, termasuk modernisasi cabang menjadi digital store yang mengintegrasikan fungsi teller dan customer service.</p>
<p>BTN optimistis asetnya akan menembus Rp500 triliun pada 2025, didorong oleh program 3 Juta Rumah yang selaras dengan target pemerintah. Nixon menyebut transformasi BTN selama lima tahun terakhir telah memperkuat tata kelola dan inovasi keberlanjutan. Saat ini, BTN mengelola 632.000 unit rumah dalam management stock dan siap mendukung realisasi Program 3 Juta Rumah demi Indonesia Maju.</p>
<p>“Transformasi ini memperkuat komitmen kami untuk mendukung masyarakat dan pemerintah, serta menjadikan BTN sebagai mitra utama dalam mewujudkan keluarga Indonesia yang sejahtera,” tutup Nixon.</p>
<p>Menteri BUMN, Erick Thohir, mengapresiasi transformasi PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) yang terus menunjukkan kemajuan signifikan sejak 2019. Dalam Rapat Kerja BTN di Jakarta pada Jumat, 3 Januari 2025, Erick mendorong BTN untuk bertransformasi menjadi megabank yang mampu memberikan solusi komprehensif di sektor perumahan.</p>
<p>“Saya mengapresiasi kinerja BTN, namun mengingatkan agar tidak berpuas diri. BTN memiliki peluang besar untuk tumbuh lebih cepat dan menjadi bank raksasa dengan fokus pada solusi perumahan yang terintegrasi,” ujar Erick.</p>
<p>Ia menyoroti tiga prioritas utama BTN, yaitu membangun kepercayaan publik dengan tata kelola yang baik, memberikan solusi nyata kepada masyarakat, dan memperkuat ekosistem.</p>
<p>Erick juga mengapresiasi langkah transformasi BTN, seperti perubahan logo dan modernisasi outlet yang memperkuat keterlibatan masyarakat, serta fokus bank ini pada manfaat nyata, bukan sekadar menjual produk.</p>
<p>Erick menekankan pentingnya kolaborasi strategis BTN dengan Bank Pembangunan Daerah (BPD), PT KAI, dan InJourney untuk mempercepat pengembangan solusi perumahan. Kerja sama ini diharapkan dapat mendukung kebutuhan berbagai pihak, termasuk Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pekerja bandara.</p>
<p>“Ekosistem bertemu ekosistem. BTN tidak selalu harus menjadi front-end, tetapi bisa menjadi agregator untuk mempercepat langkah mencapai target,” tegas Erick.***</p>
<p><i>Artikel ini dirangkum dari berbagai sumber untuk memotret perjalanan BTN secara ringkas, insight dan memperkaya informasi serta literasi.</i></p><p>The post <a href="https://samarindanews.com/insight/1344/jejak-btn-dari-masa-ke-masa-hidup-mati-di-zaman-kolonial-hingga-berpeluang-jadi-mega-bank-di-indonesia/">Jejak BTN dari Masa ke Masa, Hidup Mati di Zaman Kolonial hingga Berpeluang jadi Mega Bank di Indonesia</a> first appeared on <a href="https://samarindanews.com">SamarindaNews</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
