<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Islampedia &#8211; SamarindaNews</title>
	<atom:link href="https://samarindanews.com/category/islampedia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://samarindanews.com</link>
	<description>Samarindanews.Com</description>
	<lastBuildDate>Fri, 31 Oct 2025 07:20:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://samarindanews.com/wp-content/uploads/2026/09/cropped-icon-32x32.png</url>
	<title>Islampedia &#8211; SamarindaNews</title>
	<link>https://samarindanews.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Mursyid Adalah Wasilah yang Menyampaikan Kita Kepada Allah dan Rasulnya</title>
		<link>https://samarindanews.com/islampedia/3786/mursyid-adalah-wasilah-yang-menyampaikan-kita-kepada-allah-dan-rasulnya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 31 Oct 2025 07:20:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Islampedia]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=3786</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: H Derajat &#124; Ketua Pasulukan Loka Gandasasmita SAHABATKU, yang karena engkaulah maka aku hidup, aku berada di sisimu dan menyayangimu. Di]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h6><strong>Oleh: H Derajat | Ketua Pasulukan Loka Gandasasmita</strong></h6>
<hr />
<p><b>SAHABATKU</b><span style="font-weight: 400;">, yang karena engkaulah maka aku hidup, aku berada di sisimu dan menyayangimu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di malam Jum&#8217;at yang penuh kemuliaan dan keberkahan ini, aku mengingatkan engkau agar mencari wasilah (</span><a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Mursyid"><span style="font-weight: 400;">Guru Mursyid</span></a><span style="font-weight: 400;">) yang akan selalu membimbingmu, mengawasimu dan membawamu wushul (makrifat/mengenal/sampai) kepada Allah. Sebagaimana dalam Al Qur&#8217;an difirmankan :</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ۝٣٥</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">yâ ayyuhalladzîna âmanuttaqullâha wabtaghû ilaihil-wasîlata wa jâhidû fî sabîlihî la‘allakum tufliḫûn</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artinya: </span><i><span style="font-weight: 400;">Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, ‘carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri)’ kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syekh Fathurrahman, seorang Mursyid Tarekat Idrisiyyah telah berkalam dalam kanal youtubenya, bahwa kata &#8220;</span><i><span style="font-weight: 400;">wasilah</span></i><span style="font-weight: 400;">&#8221; berasal dari bahasa Arab yang berarti &#8220;jalan&#8221; atau &#8220;sarana&#8221; untuk mendekatkan diri kepada sesuatu. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah SAW pernah bersabda bahwasanya apabila kita bersalaman dan bersilaturahim dengan orang yang bertemu dengan Rasulullah ataupun di masa kini adalah orang yang mempunyai sanad silsilah keilmuan yang bersambung ke Rasulullah, itu sama saja dengan bersalaman dengan Rasulullah SAW.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sungguh agama ini sangat indah dan sempurna terhadap umat-umatnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagaimana Baginda Rasul bersabda: </span><i><span style="font-weight: 400;">Man sofahani au man sofaha man sofahani</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena orang yang mempunyai Sanad Silsilah dalam tarekat keilmuannya sesungguhnya dia adalah orang yang telah bertemu dengan Nabi SAW dengan lantaran dia telah menerima Nur Muhammad yang turun temurun dalam sanad silsilah tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mengenai kedudukan ini, Syekh Fathurrahman berkata: Bertawasul atau berwasilah kepada Mursyidmu yang masih hidup juga diperbolehkan, bukan saja kepada Guru Mursyidmu yang telah wafat, sebagaimana dalam hadits dikatakan:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dari ‘Usman bin Hunaif R.A., beliau berkata; “Aku mendengar Rasulullah ﷺ saat ada seorang lelaki buta datang mengadukan matanya yang tidak berfungsi kepadanya, lalu ia berkata: ‘Wahai Rasulullah ﷺ, aku tidak punya pemandu dan sangat payah. Beliau bersabda: ‘Pergilah ke tempat wudhu, berwudhu, shalatlah dua raka’at, kemudian berdoalah (dengan redaksi): ‘Wahai Allah, aku memohon dan menghadap kepada-Mu, dengan (menyebut) Nabi-Mu Muhammad ﷺ, nabi pembawa rahmat. Wahai Muhammad, sungguh aku menghadap kepada Tuhan-Mu dengan menyebutmu, karenanya mataku bisa berfungsi kembali. Ya Allah terimalah syafaatnya bagiku, dan tolonglah diriku dalam kesembuhanku.’ ‘Utsman berkata: ‘Demi Allah kami belum sempat berpisah dan perbincangan kami belum begitu lama sampai lelaki itu datang (ke tempat kami) dan sungguh seolah-olah ia tidak pernah buta sama sekali’</span></i><span style="font-weight: 400;">.”_ (HR. Al-Hakim, At-Tirmidzi dan Al-Baihaqi. Shahih)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Juga dikatakan bahwa, </span><i><span style="font-weight: 400;">tawasul </span></i><span style="font-weight: 400;">dengan orang </span><i><span style="font-weight: 400;">shalih </span></i><span style="font-weight: 400;">yang hidup, disebutkan dalam kitab Shahih Bukhari (Imam Bukhori, Shahih Bukhari, 1987, Beirut, Dar Ibn Katsir, halaman 99)  sebagai berikut:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُثَنَّى عَنْ ثُمَامَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ إِذَا قَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا قَالَ فَيُسْقَوْنَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artinya: “</span><i><span style="font-weight: 400;">Diriwayatkan dari Anas bin Malik sesungguhnya Umar bin Khatthab radliyallahu ‘anh ketika masyarakat tertimpa paceklik, dia meminta hujan kepada Allah dengan wasilah Abbas bin Abdul Mutthalib, dia berdoa ‘Ya Allah! Dulu kami bertawasul kepada-Mu dengan perantara Nabi kami, lalu kami diberi hujan. Kini kami bertawasul kepadamu dengan perantara paman Nabi kami, berikanlah kami hujan</span></i><span style="font-weight: 400;">”._ Perawi Hadits mengatakan _“Mereka pun diberi hujan.”_ (HR Bukhari)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikianlah dapat disimpulkan bahwasanya kita wajib menjaga Silaturahim dengan Guru Mursyid agar terjaga hubungan kita dengan Allah maupun RasulNya karena Nur Muhammad telah terlimpah kepada Sang Guru Mursyid. Insya Allah&#8230;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pokok dari ajaran agama adalah mengajarkan kepada ummatnya tentang bagaimana berhubungan dengan Tuhan, cara mengenal-Nya dengan sebenar-benar kenal yang di istilahkan dengan makrifat, kemudian baru menyembah-Nya dengan benar pula. Apakah agama Islam, Kristen, Hindu dan lain-lain, semuanya mengajarkan ajaran pokok ini yaitu bagaimana seseorang bisa sampai kehadirat-Nya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena itu pula Allah SWT menurunkan para nabi/Rasul untuk menyampaikan metodologi cara berhubungan dengan-Nya, tidak cukup satu Nabi, Allah SWT menurunkan ribuan Nabi untuk meluruskan kembali jalan yang kadangkala terjadi penyimpangan seiring berjalannya waktu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi Adam as setelah terusir dari surga bertahun-tahun bahkan berpuluh tahun bertobat kepada Allah SWT tidak diampuni. Setelah beliau berwasilah (teknik bermunajat) kepada Nur Muhammad barulah dosa-dosa beliau diampuni oleh Allah SWT. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artinya, Allah mengampuni Adam as bukan karena ibadahnya akan tetapi karena ada faktor tak terhingga yang bisa menyambungkan ibadah beliau kepada pemilik bumi dan langit. Lewat faktor tak terhingga itulah maka seluruh permohonan Nabi Adam as sampai kehadirat Allah SWT. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Faktor tak terhingga itu adalah Nur Muhammad yang merupakan pancaran dari Nur Allah yang berasal dari sisi-Nya, tidak ada satu unsurpun bisa sampai kepada matahari karena semua akan terbakar musnah kecuali unsur dia sendiri yaitu cahayanya, begitu pula dengan Allah SWT, tidak mungkin bisa sampai kehadirat-Nya kalau bukan melalui cahaya-Nya</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nur Muhammad adalah pancaran Nur Allah yang diberikan kepada Para Nabi mulai dari Nabi Adam as sampai dengan Nabi Muhammad SAW, dititipkan dalam dada para Nabi dan Rasul sebagai conductor yang menyalurkan energi Ketuhanan Yang Maha Dasyat dan Maha Hebat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan penyaluran yang sempurna itu pula yang membuat nabi Musa bisa membelah laut, Nabi Isa menghidupkan orang mati dan Para nabi menunjukkan mukjizatnya serta para wali menunjukkan kekeramatannya. Karena Nur Muhammad itu pula yang menyebabkan wajah Nabi Muhammad SAW tidak bisa diserupai oleh syetan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah Rasulullah SAW wafat apakah Nur Muhammad itu ikut hilang?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tidak! Nur tersebut diteruskan kepada Sayyidina Abu Bakar Siddiq ra ataupun Sayyidina Ali ra sebagai sahabat Beliau yang utama. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Tidak melebih Abu Bakar dari kamu sekalian dengan karena banyak shalat dan banyak puasa, tetapi (melebihi ia akan kamu) karena ada sesuatu (rahasia) yang tersimpan pada dadanya”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada kesempatan yang lain Rasulullah bersabda pula :</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Tidak ada sesuatupun yang dicurahkan Allah ke dadaku, melainkan seluruhnya kutumpahkan pula ke dada Abu Bakar Siddiq”</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nur Muhammad akan terus berlanjut hingga akhir zaman, dan Nur itu pula yang terdapat dalam diri seorang Mursyid yang Kamil Mukamil yang wajahnya juga tidak bisa diserupai oleh syetan. Memandang wajah Mursyid hakikatnya adalah memandang Nur Muhammad dan sudah pasti memandang Nur Allah SWT.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi SAW bersabda: </span><i><span style="font-weight: 400;">La yadhulunara muslimun ra-ani wal man ra-a man ra-ani wala man ra-a man ra-ani ai walau bisab’ina wasithah, fainnahum khulafa-li fi tablighi wal irsyadi, inistaqamu ala syarii’ati.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artinya: “</span><i><span style="font-weight: 400;">Tidak akan masuk neraka seorang muslim yang melihat aku dan tidak juga (akan masuk neraka) yang melihat orang yang telah melihat aku, dan tidak juga (akan masuk neraka) orang yang melihat orang yang telah melihat aku, sekalipun dengan 70 wasithah (lapisan/antara). Sesungguhnya mereka itu adalah para khalifahku dalam menyampaikan (islam/sunahku) mengasuh dan mendidik (orang ramai), sekiranya mereka itu tetap istiqamah didalam syari’atku”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (H.R. Al – Khatib bin Abd.Rahman bin Uqbah).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Makna melihat dalam hadits di atas bukan dalam pengertian melihat secara umum, karena kalau kita maknai melihat itu dengan penglihatan biasa maka Abu Jahal dan musuh-musuh nabi juga melihat beliau akan tetapi tetap masuk Neraka. Melihat yang dimaksud adalah melihat Beliau sebagai sosok nabi yang menyalurkan Nur Allah kepada umatnya, melihat dalam bentuk rabithah menggabungkan rohani kita dengan rohani beliau.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Darimana kita tahu seseorang itu pernah melihat Nabi dan bersambung sampai kepada Beliau? Kalau melihat dalam pengertian memandang secara awam maka para ahlul bait adalah orang-orang yang sudah pasti punya hubungan melihat karena mereka adalah keturunan Nabi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akan tetapi karena pengertian melihat itu lebih kepada *rabitah* atau hubungan berguru, maka yang paling di jamin punya hubungan melihat adalah Para Ahli Silsilah Thariqat yang saling sambung menyambung sampai kepada Rasulullah SAW.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syukurlah bagi orang-orang yang telah menemukan seorang Guru Mursyid yang silsilahnya bersambung kepada Rasulullah SAW, yang selalu memberikan pencerahan dengan menyalurkan Nur Muhammad sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin, bermohon atas namanya niscaya Allah SWT akan mengabulkan do’a dan dari Mursyid lah Firman Nafsani dari Allah terus berlanjut dan tersampaikan kepada hamba-Nya yang telah mendapat petunjuk.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Barulah kita tahu kenapa memandang wajah Mursyid itu bisa mengubah akhlak manusia yang paling bejat sekalipun, karena dalam wajah Mursyid itu adalah pintu langsung kepada Allah SWT.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi Adam as diampuni dosanya dengan berwasilah kepada Nur Muhammad, apa mungkin dosa kita bisa terampuni tanpa Nur Muhammad?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Marilah kita memuliakan Guru Mursyid kita sebagai bhakti kasih kita kepadanya, dari Beliaulah Nur Muhammad itu tersalurkan sehingga bencana sehebat apapun dapat ditunda, sesungguhnya Guru Mursyid itu adalah Guru kita dari dunia sampai ke akhirat kelak, jangan kita dengarkan orang-orang yang melarang memuliakan Guru sebagai Ulama pewaris Nabi sesungguhnya ajaran demikian itu baru muncul di abad ke-18, muncul akibat keberhasilan orang orientalis menghancurkan Islam dari dalam.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ingat pesan dari </span><a href="http://bertuahpos.com/islampedia"><span style="font-weight: 400;">Nabi SAW</span></a><span style="font-weight: 400;"> yang mulia: </span><i><span style="font-weight: 400;">“Muliakanlah Ulama sesungguhnya mereka adalah pewaris pada nabi, barang siapa memuliakan mereka maka telah memuliakan Allah dan Rasul-Nya”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (H.R. Al – Khatib Al – Baghdadi dari Jabir R.A.)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syukur yang tak terhingga bagi orang-orang yang telah menemukan ulama pewaris Nabi, yang apabila memandang wajahnya sama dengan memandang Nur Muhammad, wajah yang tidak bisa diserupai oleh syetan, dengan wajah itu pula yang bisa menuntun kita dalam setiap ibadah, dalam kehidupan sehari-hari, wajah yang kekal abadi, wajah Nur Muhammad. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah selalu memuliakan engkau, merahmati dan memberkahi kehidupanmu wahai sahabatku.***</span></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Risalah Kematian: Saat Kematian Menjadi Jalan Pulang</title>
		<link>https://samarindanews.com/islampedia/3691/risalah-kematian-saat-kematian-menjadi-jalan-pulang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Oct 2025 08:28:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Islampedia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=3691</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: H. Derajat &#124; Ketua Pasulukan Loka Gandasasmita KEMATIAN adalah peristiwa yang pasti datang dan tidak seorang pun mampu menghindarinya. Ia menjadi misteri]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: H. Derajat | Ketua Pasulukan Loka Gandasasmita</p>
<hr />
<p><strong>KEMATIAN</strong> adalah peristiwa yang pasti datang dan tidak seorang pun mampu menghindarinya. Ia menjadi misteri yang menimbulkan berbagai tafsir: sebagian orang takut menghadapinya, sementara sebagian lainnya menantikan dengan penuh kerinduan — sebab di sanalah perjumpaan sejati dengan Sang Kekasih Abadi.</p>
<p>Guru agung para pencinta Ilahi, Syekh Jalaluddin Rumi (1207–1273 M), pernah berkata:</p>
<p>“Mengetahui bahwa Engkaulah yang mengambil kehidupan, kematian menjadi sangat manis. Selama aku bersama-Mu, kematian bahkan lebih manis dibandingkan kehidupan itu sendiri.”</p>
<p><strong>Kematian: Antara Ketakutan dan Kerinduan</strong></p>
<p>Bagi kebanyakan manusia, kematian dipandang sebagai akhir yang menyedihkan — penuh tangisan, kehilangan, dan rasa takut. Namun, bagi para pecinta Tuhan, kematian justru adalah pintu menuju pertemuan, jembatan antara yang mencintai dengan yang dicintai.</p>
<p>Rumi menggambarkan kematian sebagai perayaan cinta. Dalam Fihi Ma Fihi, beliau menuturkan bagaimana di malam terakhir hidupnya, ia masih bersenandung lembut menulis syair penuh rindu:</p>
<p>“Di malam sebelumnya aku bermimpi. Melihat seorang syekh di pelataran rindu. Ia menudingkan tangannya padaku dan berkata: ‘Bersiaplah untuk bertemu denganku.’”</p>
<p>Ketika demam parah menimpa Rumi, tak tampak sedikit pun ketakutan di wajahnya. Justru ia menampakkan kebahagiaan dan melarang sahabat-sahabatnya bersedih atas kepergiannya. Ia tahu, kematian bukanlah perpisahan — melainkan pertemuan.</p>
<p><strong>Kematian Sebagai Perayaan Cinta</strong></p>
<p>Dalam salah satu syairnya yang terkenal, When I Die, Rumi menulis:</p>
<p>“Ketika kau melihat jenazahku diusung, jangan menangis karena kepergianku. Aku tidak pergi — aku telah sampai pada Cinta Yang Abadi.”</p>
<p>“Ketika engkau meninggalkanku di kuburan, jangan ucapkan selamat tinggal. Kuburan hanyalah tirai menuju Surga di baliknya.”</p>
<p>“Ketika matahari terbenam, itu tampak seperti akhir. Padahal sejatinya, itu adalah fajar baru.”</p>
<p>Rumi menegaskan bahwa kematian bukanlah kegelapan, melainkan awal dari cahaya. Ia seperti benih yang jatuh ke bumi untuk kemudian tumbuh menjadi kehidupan baru. Ruh manusia tidak hilang — ia hanya berpindah dari satu ruang kesadaran ke ruang yang lebih tinggi.</p>
<p><strong>Dua Jenis Kematian: Alami dan Mistikal</strong></p>
<p>Dalam pandangan para sufi, kematian memiliki dua dimensi:</p>
<p>1. Mati Idhtirari (Mati Alami)</p>
<p>Kematian fisik yang pasti dialami semua makhluk. Ia adalah perpindahan alam — dari dunia menuju barzakh dan seterusnya ke kehidupan abadi: surga atau neraka.</p>
<p>2. Mati Ikhtiyari (Mati Mistikal)</p>
<p>Inilah yang disebut “mati sebelum mati”, yaitu kematian spiritual yang dicapai melalui perjalanan batin. Seseorang “mati” dari hawa nafsunya, dari ego, dan dari segala keterikatan dunia. Ia hidup hanya untuk Allah semata.</p>
<p>Dalam Thariqah Naqsyabandiyah, para sufi membagi kematian mistikal ini dalam beberapa tingkatan:</p>
<p>Mati Thabi’i: Jiwa mulai mendengar panggilan Allah dari dalam dirinya.</p>
<p>Mati Ma’nawi: Hati menyaksikan kalimat Lailahaillallah sebagai realitas tunggal.</p>
<p>Mati Shuri: Pandangan dan pendengaran duniawi lenyap, hanya nur Ilahi yang tersisa.</p>
<p>Mati Hissi: Kesadaran total bahwa “tiada yang ada kecuali Allah.”</p>
<p><strong>Kesimpulan: Kematian Adalah Keindahan</strong></p>
<p>Kematian, dalam pandangan para sufi, bukan akhir, melainkan puncak perjalanan cinta. Ia bukan kegelapan, melainkan fajar yang menyinari ruh menuju keabadian.</p>
<p>Bila hidup adalah perjalanan untuk mengenal-Nya, maka kematian adalah saat untuk kembali dalam pelukan-Nya. Seperti Rumi menulis:</p>
<p>“Jangan menangis untukku, karena saat itulah aku terbang ke surga cintaku.”</p>
<p>Maka, sahabatku, tidak ada yang perlu dirisaukan dari kematian, sebab di sanalah kita</p>
<p>akhirnya akan bertemu — dengan Dia yang selama ini kita cintai.***</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Untukmu yang Sedang Resah Menjalani Kehidupan Ini</title>
		<link>https://samarindanews.com/islampedia/3649/untukmu-yang-sedang-resah-menjalani-kehidupan-ini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Oct 2025 02:44:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Islampedia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=3649</guid>

					<description><![CDATA[SAHABATKU yang aku cintai, kalianlah alasan aku masih berdiri dan diberi kehidupan hingga hari ini. Karena rasa sayang dan keprihatinanku kepada kalian, aku]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>SAHABATKU</b> yang aku cintai, kalianlah alasan aku masih berdiri dan diberi kehidupan hingga hari ini. Karena rasa sayang dan keprihatinanku kepada kalian, aku tuliskan risalah ini — semoga bisa menjadi penyejuk hati di tengah keresahan hidup.</p>
<p>Banyak di antara kita merasa gelisah: tentang pekerjaan, penghasilan, jabatan, atau masa depan yang terasa tidak pasti. Namun, para guru kita dulu sudah memberi nasihat indah:</p>
<p><i>“Kalau ingin menangkap ayam, jangan dikejar. Kita hanya akan lelah, dan ayam itu malah lari menjauh. Berilah ia beras, nanti ia akan datang dengan rela.”</i></p>
<p>Begitulah rezeki bekerja. Ia tidak perlu dikejar dengan gelisah, cukup dijemput dengan amal baik dan hati yang ikhlas. Kalau kita mau berbagi, memberi sedekah, menolong sesama — maka rezeki yang berkah akan datang menghampiri tepat pada waktunya.</p>
<p>Guru-guru kita juga berkata:</p>
<p><i>“Kalau ingin memelihara kupu-kupu, jangan tangkap kupu-kupunya. Tapi tanamlah bunga, maka kupu-kupu akan datang dengan sendirinya.”</i></p>
<p>Maksudnya, jangan kejar kebahagiaan secara paksa. Tanamlah kebaikan dan kejujuran dalam hidupmu. Orang yang menanam kebajikan akan didatangi kebahagiaan, keberuntungan, bahkan hal-hal indah lain yang tak pernah disangka.</p>
<p>Untukmu yang sedang tertatih mengejar dunia, berhentilah sejenak. Ambil napas, dan dengarkan pesan Rasulullah SAW dalam hadits Qudsi berikut:</p>
<p><i>“Wahai anak Adam, janganlah engkau takut kepada manusia yang berkuasa, selama kekuasaan-Ku masih ada. Dan kekuasaan-Ku tidak akan pernah berakhir.”</i></p>
<p><i>“Janganlah engkau khawatir dengan rezekimu, karena gudang rezeki-Ku tidak akan pernah habis.”</i></p>
<p>Pesan ini mengingatkan kita bahwa tidak perlu takut kehilangan pekerjaan, jabatan, atau peluang, sebab semua sudah diatur oleh Allah dengan penuh kasih.</p>
<p>Dalam hadits Qudsi itu, Allah juga berfirman:</p>
<p><i>“Aku telah menetapkan rezekimu, maka janganlah engkau terlalu penat mencarinya. Jika engkau ridha dengan pembagian-Ku, Aku akan menenangkan hatimu. Tapi jika engkau tidak ridha, Aku akan buat engkau terus berlari mengejar dunia seperti hewan di padang, dan engkau tetap tidak akan mendapatkan apa-apa selain yang sudah Aku tetapkan.”</i></p>
<p>Artinya, ketenangan tidak datang dari banyaknya harta, tapi dari hati yang ikhlas menerima ketentuan Allah. Saat kita ridha, hidup terasa ringan; tapi saat kita menolak, hidup menjadi beban.</p>
<p>Allah juga berfirman:</p>
<p><i>“Aku tidak lupa kepada orang yang berbuat dosa. Maka bagaimana mungkin Aku lupa kepada orang yang taat?”</i></p>
<p>Betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Bahkan kepada yang berbuat salah, Allah masih memberi kesempatan untuk kembali. Maka, jangan pernah berpikir bahwa Allah melupakanmu — Dia selalu ada, bahkan dalam air matamu yang jatuh di malam sunyi.</p>
<p>Allah menutup hadits Qudsi ini dengan kalimat yang penuh cinta: <i>“Wahai anak Adam, Aku mencintaimu. Maka demi hak-Ku atasmu, jadilah engkau orang yang mencintai-Ku.”</i></p>
<p>Cinta Allah begitu luas, melebihi segala kesedihan dan keresahan hidupmu. Jika kita mencintai-Nya, maka segala yang terasa berat akan menjadi ringan, dan segala ketakutan akan berubah menjadi harapan.</p>
<p>Sahabatku, Jangan kejar dunia dengan cemas. Tanamlah kebaikan, tebarkan kejujuran, dan percayalah pada pembagian Allah. Dia tidak pernah lupa, tidak pernah terlambat, dan tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.</p>
<p><i>“Jika engkau mencari-Ku, engkau akan menemukan-Ku. Dan jika engkau kehilangan-Ku, maka engkau kehilangan seluruh kebaikan.”</i></p>
<p>Semoga cinta Allah menjadi cahaya dalam langkah kita, penenang di setiap resah, dan pengingat bahwa semua yang kita cari, sesungguhnya sudah ada di sisi-Nya.***</p>
<hr />
<p><i>Risalah dari </i><b><i>H. Derajat</i></b> | <i>Ketua Pasulukan Loka Gandasasmita </i>| Seluruh materi dalam tulisan ini merupakan tanggung jawab penulis.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cahaya Amal Saleh di Tengah Kegelapan Maksiat</title>
		<link>https://samarindanews.com/islampedia/2919/cahaya-amal-saleh-di-tengah-kegelapan-maksiat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[samarindanews]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 06 Aug 2025 01:19:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Islampedia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=2919</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Syekh. Sofyan Siroj Abdul Wahab. Kalimat Hikmah: &#8220;Amal saleh yang lahir dari iman adalah cahaya, sedangkan maksiat yang lahir dari kelalaian]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Syekh. Sofyan Siroj Abdul Wahab.</p>
<p>Kalimat Hikmah:<br />
&#8220;Amal saleh yang lahir dari iman adalah cahaya, sedangkan maksiat yang lahir dari kelalaian adalah kegelapan. Setiap amal itu mengandung hakikat, dan setiap hakikat akan menampakkan bekasnya, di dunia maupun di akhirat.&#8221;<br />
(Said Nursi.)</p>
<p>Iman sebagai Sumber Cahaya Amal</p>
<p>Said Nursi menyatakan bahwa setiap amal saleh yang dilandasi oleh iman kepada Allah ibarat cahaya yang menerangi langkah hidup manusia. Tanpa iman, amal hanyalah gerak kosong tanpa makna hakiki. Ini selaras dengan firman Allah:</p>
<blockquote><p>&#8220;Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik.&#8221;<br />
(QS. An-Nahl: 97)</p></blockquote>
<p>Amal saleh yang lahir dari iman bukan hanya sekadar perbuatan, melainkan refleksi keyakinan batin yang kuat. Shalat, zakat, sedekah, menolong sesama, bahkan senyum yang tulus—semua itu memancar dari iman yang hidup. Iman adalah akar, dan amal adalah buahnya. Imam Ibn al-Qayyim menegaskan:</p>
<blockquote><p> &#8220;Amal tanpa iman bagaikan tubuh tanpa ruh; dan iman tanpa amal adalah pohon tanpa buah.&#8221;<br />
(Madarij al-Salikin)&#8221;</p></blockquote>
<p>Maksiat sebagai Kegelapan yang Menutupi Hati</p>
<p>Di sisi lain, maksiat—yakni pelanggaran terhadap perintah Allah—membawa kegelapan dalam hati. Kegelapan ini bukan hanya simbolik, tapi nyata mempengaruhi pandangan, perasaan, dan keputusan hidup seseorang. Said Nursi menyebutnya sebagai &#8220;kegelapan ruhani&#8221; yang menyelimuti jiwa.</p>
<p>Rasulullah ﷺ bersabda:</p>
<blockquote><p> &#8220;Jika seorang hamba melakukan satu dosa, maka akan diberi titik hitam di hatinya. Jika ia bertobat, hatinya akan disucikan. Namun jika ia mengulanginya, maka titik itu bertambah hingga menutupi seluruh hatinya.&#8221;<br />
(HR. Tirmidzi)</p></blockquote>
<p>Inilah yang disebut dengan &#8220;raan&#8221; (karat hati) dalam Al-Qur’an:</p>
<blockquote><p> &#8220;Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan telah menutupi hati mereka (raan).&#8221;<br />
(QS. Al-Muthaffifin: 14)</p></blockquote>
<p>Setiap Amal Meninggalkan Bekas</p>
<p>Dalam pandangan spiritual Said Nursi, tidak ada amal yang sia-sia. Setiap amal akan meninggalkan bekas, baik di dunia maupun di akhirat. Dunia adalah ladang, dan akhirat adalah panennya.</p>
<p>Amal saleh menumbuhkan cahaya, yang akan menemani seseorang di alam kubur dan hari kiamat. Maksiat meninggalkan jejak kegelapan, yang membebani perjalanan seorang hamba. Hal ini ditegaskan dalam ayat:</p>
<blockquote><p> &#8220;Barangsiapa yang berbuat kebaikan sebesar biji zarrah, niscaya ia akan melihat (balasannya). Dan barangsiapa yang berbuat keburukan sebesar zarrah, niscaya ia akan melihat (balasannya).&#8221;<br />
(QS. Az-Zalzalah: 7–8)</p></blockquote>
<p>Ibn Rajab al-Hanbali menyatakan:</p>
<blockquote><p> &#8220;Tidak ada amal yang hilang, dan tidak ada dosa yang dilupakan, semua akan kembali kepada pelakunya, cepat atau lambat.&#8221;</p></blockquote>
<p>Amal sebagai Wujud Syukur dan Keimanan</p>
<p>Said Nursi menekankan bahwa amal adalah bukti syukur dan kecintaan kita kepada Allah. Amal bukan sekadar rutinitas, tetapi ekspresi keimanan. Barangsiapa mencintai Allah, ia akan taat dan meneladani Rasul-Nya.</p>
<blockquote><p>&#8220;Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku (Rasulullah), niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.&#8221;<br />
(QS. Ali Imran: 31)</p></blockquote>
<p>Imam al-Ghazali berkata:</p>
<blockquote><p> &#8220;Tanda cinta adalah mengikuti; maka siapa yang mengaku mencintai Allah, hendaknya dia membuktikannya dengan amal.&#8221;</p></blockquote>
<p>Konsekuensi Duniawi dan Ukhrawi</p>
<p>Said Nursi memberi peringatan bahwa amal baik maupun maksiat tidak hanya berdampak ukhrawi, tapi juga duniawi. Maksiat menimbulkan kekacauan sosial, merusak akhlak, dan membawa keresahan. Sebaliknya, amal saleh menciptakan ketenteraman batin dan harmoni sosial.</p>
<blockquote><p> &#8220;Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan limpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.&#8221;<br />
(QS. Al-A’raf: 96)</p></blockquote>
<p>Amal saleh membuahkan keberkahan hidup. Inilah yang digambarkan Said Nursi sebagai &#8220;nur&#8221; (cahaya) yang menentramkan dunia dan akhirat.</p>
<p>Menghidupkan Amal dengan Kesadaran Ruhani</p>
<p>Dalam ajaran al-Kalimāt, amal tidak cukup dengan jasad saja, tetapi harus disertai dengan ruhnya: yakni keikhlasan dan kesadaran akan kehadiran Allah. Said Nursi menasihatkan agar amal tidak menjadi gerakan kosong tanpa arah.</p>
<p>Imam Hasan al-Bashri berkata:</p>
<blockquote><p> &#8220;Setiap amal yang tidak dimulai dengan niat karena Allah, ia bagaikan bangunan tanpa fondasi.&#8221;</p></blockquote>
<p>Keikhlasan adalah jiwa amal. Dan kesadaran bahwa Allah Maha Melihat adalah penuntun dalam segala tindakan.</p>
<blockquote><p> &#8220;Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk rupa kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.&#8221;<br />
(HR. Muslim )</p></blockquote>
<p>Menjadikan Amal sebagai Cahaya Perjalanan Hidup</p>
<p>Dalam kehidupan yang penuh ujian, amal saleh adalah lentera yang menerangi jalan. Said Nursi mengajarkan bahwa cahaya ini berasal dari hati yang bersih, iman yang hidup, dan tekad yang lurus.</p>
<p>Amal yang diterangi iman akan membentuk kepribadian mukmin sejati—teguh, bersih, dan memberi manfaat bagi orang lain. Rasulullah ﷺ bersabda:</p>
<blockquote><p> &#8220;Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.&#8221;<br />
(HR. Ahmad)</p></blockquote>
<p>Said Nursi menyebut amal saleh sebagai manfaat nyata yang kekal, karena ia mengakar dalam hakikat dan berpuncak pada keridhaan Allah.</p>
<p>Refleksi dan Ajakan</p>
<p>Saudaraku yang dirahmati Allah,</p>
<p>Kita semua berada di persimpangan cahaya dan kegelapan. Setiap hari kita memilih: apakah kita akan menyalakan cahaya dengan iman dan amal saleh? Ataukah membiarkan kegelapan maksiat melingkupi jiwa kita?</p>
<p>Mari kita jadikan setiap langkah kita sebagai amal yang bernilai, setiap ucapan sebagai dzikir, setiap interaksi sebagai ladang pahala. Jika kita pernah jatuh dalam maksiat, jangan berputus asa. Tobatlah, karena rahmat Allah luas.</p>
<blockquote><p> &#8220;Dan bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.&#8221;<br />
(QS. Ali Imran: 133)</p></blockquote>
<p>Penutup: Cahaya Itu Nyata</p>
<p>Said Nursi menyimpulkan bahwa amal baik adalah hakikat yang hidup, dan maksiat adalah racun yang membunuh pelan-pelan. Amal yang tulus tidak akan pernah sia-sia, dan maksiat yang disesali akan dihapus oleh taubat.</p>
<p>Jadikan hidup ini ruang menyemai cahaya, bukan kegelapan. Karena cahaya amal akan menjadi pelita di kubur, teman di padang mahsyar, dan jembatan menuju surga.</p>
<p>Ya Allah, jadikan kami orang-orang yang hidup dengan cahaya iman, bergerak dengan amal saleh, dan wafat dalam keridhaan-Mu. Amin.</p>
<p>اللهم اجعلنا من الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه، آمين يا رب العالمين.</p>
<blockquote><p>&#8220;Amalmu adalah cermin imanmu. Maka perbaikilah imanmu, niscaya amalmu akan bercahaya.&#8221;</p></blockquote>
<p>Allahu &#8216;Alam.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Oase Dakwah: Menghidupkan Sistem Sosial Islam di Tengah Krisis Peradaban</title>
		<link>https://samarindanews.com/islampedia/2791/oase-dakwah-menghidupkan-sistem-sosial-islam-di-tengah-krisis-peradaban/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Jul 2025 04:48:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Islampedia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=2791</guid>

					<description><![CDATA[SAUDARAKU yang dirahmati Allah, kita hidup di zaman yang penuh ujian: arus globalisasi menghantam nilai kita, sekularisme merusak tatanan keluarga, kapitalisme melahirkan kesenjangan]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>SAUDARAKU</b> yang dirahmati Allah, kita hidup di zaman yang penuh ujian: arus globalisasi menghantam nilai kita, sekularisme merusak tatanan keluarga, kapitalisme melahirkan kesenjangan sosial.</p>
<p>Umat Islam, yang dahulu menjadi rahmat bagi seluruh alam, kini menjadi objek penderitaan sosial. Mengapa? Karena kita menjauh dari sistem yang Allah turunkan untuk mengatur kehidupan manusia: Syariat Islam sebagai pedoman sosial.</p>
<p>“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103).</p>
<p>Persatuan umat dan tatanan sosial yang harmonis hanya mungkin jika kita kembali kepada nilai Islam yang sempurna. <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Islam"><b>Islam</b></a> bukan sekadar ibadah ritual, tetapi sebuah sistem yang mengatur seluruh aspek kehidupan, sebagaimana ditegaskan oleh Imam Hasan al-Banna:</p>
<p>“Islam adalah sistem yang menyeluruh, mencakup negara dan tanah air, pemerintah dan umat, akhlak dan kekuatan, rahmat dan keadilan.”</p>
<p><b>Mengapa Kita Harus Kembali ke Sistem Sosial Islam?</b></p>
<p>Mari kita jujur. Kerusakan sosial yang kita saksikan hari ini bukanlah kebetulan. Pergaulan bebas, narkoba, perceraian massal, korupsi, kesenjangan sosial—semua ini adalah akibat kita meninggalkan pedoman Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:</p>
<p>“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim).</p>
<p>Sayyid Qutb dengan tegas mengingatkan: “Umat ini tidak akan bangkit kecuali dengan manhaj yang membangkitkannya pertama kali, yaitu Islam.” (Ma’alim fi al-Tariq).</p>
<p><b>Fakta Krisis Sosial</b></p>
<p>Angka perceraian di Indonesia meningkat 50% dalam 10 tahun terakhir (Data BPS). 64% remaja urban terjerat seks bebas (Data BKKBN). 1% penduduk menguasai lebih dari 50% kekayaan nasional (World Bank).</p>
<p>Ini bukan sekadar angka, ini adalah jeritan nurani umat. Sistem sosial sekular telah gagal menegakkan moral dan keadilan. Islam adalah solusi, sebagaimana ditegaskan oleh Allah:</p>
<p>“Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58).</p>
<p><b>Konsep Sosial Islam: Solusi Hakiki</b></p>
<p>Islam datang untuk membangun masyarakat berbasis iman, akhlak, dan keadilan. Abdul Qadir Audah menulis:</p>
<p>“Syariat Islam bukan sekadar hukum, tetapi rahmat yang menjamin keadilan sosial dan melindungi masyarakat dari kerusakan.”</p>
<p><b>Prinsip Utama Sistem Sosial Islam</b></p>
<ol>
<li aria-level="1">Tauhid sebagai fondasi → Semua manusia sama di hadapan Allah.</li>
<li aria-level="1">Ukhuwah Islamiyah → Ikatan iman lebih kuat dari ikatan darah.</li>
<li aria-level="1">Keadilan Sosial → Hak setiap individu dijaga, termasuk fakir miskin dan anak yatim.</li>
<li aria-level="1">Amar Ma’ruf Nahi Munkar → Kontrol sosial yang mendidik, bukan menghukum secara buta.</li>
</ol>
<p>“Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Maidah: 2).</p>
<p><b>Langkah Dakwah dan Aksi Sosial</b></p>
<ol>
<li>Tarbiyah Ruhiyah dan Sosial</li>
</ol>
<p>Gerakan dakwah harus fokus pada pembinaan iman dan akhlak. Hasan al-Banna berkata: “Perbaikan individu adalah jalan menuju perbaikan masyarakat, dan perbaikan masyarakat adalah jalan menuju kebangkitan umat.”</p>
<ol start="2">
<li>Membangun Ukhuwah dan Solidaritas</li>
</ol>
<p>Persatuan umat harus dihidupkan kembali. Tidak ada kemenangan tanpa kesatuan. QS. Al-Hujurat: 10 menegaskan: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu.”</p>
<ol start="3">
<li>Amar Ma’ruf Nahi Munkar dengan Hikmah</li>
</ol>
<p>Kontrol moral bukan sekadar menghukum, tapi mendidik. Nabi ﷺ bersabda: “Agama adalah nasihat.” (HR. Muslim).</p>
<ol start="4">
<li>Perjuangan Politik dan Sosial</li>
</ol>
<p>Sayyid Qutb menulis: “Kebebasan sejati hanya ada di bawah hukum Allah, bukan hukum manusia.”</p>
<p><b>Menghidupkan Lembaga Hisbah Modern</b></p>
<p>Dulu, Hisbah menjaga pasar dari kecurangan, mencegah kemungkaran di ruang publik. Kini, kita butuh Hisbah Digital:</p>
<ol>
<li aria-level="1">Mengawasi konten media sosial yang merusak moral.</li>
<li aria-level="1">Mencegah eksploitasi ekonomi.</li>
<li aria-level="1">Menegakkan etika bisnis sesuai syariah.</li>
<li aria-level="1">Menjawab Tantangan Modern</li>
</ol>
<p>Globalisasi melahirkan budaya permisif. Anak-anak kita dibanjiri konten pornografi, liberalisme, dan hedonisme. Apakah kita akan diam? Abdul Qadir Audah berkata:</p>
<p>“Diam atas kerusakan adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah Allah.”</p>
<p>“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104).</p>
<p><b>Ajakan untuk Bangkit</b></p>
<p>Saudaraku, kebangkitan umat bukan mimpi jika kita kembali kepada syariah Allah. Mari kita mulai dari diri sendiri: perbaiki akhlak, perkuat ukhuwah, dukung hukum yang adil. Kita jadikan masjid, sekolah, dan rumah kita sebagai pusat dakwah sosial.</p>
<p>Hasan al-Banna mengingatkan: “Kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang kita punya, maka jangan sia-siakan sedetik pun.”</p>
<p>Oase dakwah ini bukan sekadar kata, tapi panggilan untuk jihad sosial. Kita ingin masyarakat yang adil, beradab, dan diridhai Allah. Kita ingin kembali menjadi umat terbaik:</p>
<p>“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110).</p>
<p>Semoga Allah meneguhkan langkah kita dalam membangun masyarakat islami yang kuat, bersatu, dan bermartabat. <i>Allahu ‘Alam</i>.***</p>
<hr />
<h6><b>Penulis</b>: <b>Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab</b> | <i>Seluruh materi dalam artikel ini murni disusun dan menjadi tanggung jawab penulis.</i></h6>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Nasaruddin Umar Minta Maaf, Ini Tahun Terakhir Kemenag Jadi Penyelenggara Haji</title>
		<link>https://samarindanews.com/islampedia/2740/nasaruddin-umar-minta-maaf-ini-tahun-terakhir-kemenag-jadi-penyelenggara-haji/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Jul 2025 08:29:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Islampedia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=2740</guid>

					<description><![CDATA[2025 menjadi tahun terakhir bagi Kementerian Agama (Kemenag) sebagai penyelenggara ibadah haji. Tahun depan, urusan ini akan ambil alih oleh Badan Penyelenggara atau BP]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>2025 menjadi tahun terakhir bagi <a href="https://kemenag.go.id/"><b>Kementerian Agama</b></a> (Kemenag) sebagai penyelenggara ibadah haji. Tahun depan, urusan ini akan ambil alih oleh Badan Penyelenggara atau BP Haji.</p>
<p>Perpindahan kewenangan ini diatur dalam Perpres Nomor 154 Tahun 2024. Hingga saat Nasaruddin Umar menjabat sebagai Menteri Agama, total 75 tahun Kemenag menjadi penyelenggara haji Indonesia.</p>
<p>Penyelenggaraan ibadah haji, menurut Nasaruddin, bukan sekadar kegiatan teknis. Tapi wujud pengabdian kepada umat, dan dia menganggap “ini sebagai perjalanan spiritual yang penuh tantangan.”</p>
<p>“Kami mohon maaf jika ada kekurangan dalam pelayanan tahun ini,” ujarnya di Kantor Kemenag, Jakarta Pusat, 14 Juli 2025.</p>
<p>Kendari demikian, pelaksanaan haji 2025 telah menghadirkan berbagai terobosan dan inovasi untuk meningkatkan layanan, mulai dari penurunan biaya hingga integrasi teknologi.</p>
<h4><b>Lima Terobosan Penting (5B) Penyelenggaraan Haji 2025:</b></h4>
<ol>
<li aria-level="1">Penurunan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) dari Rp93,4 juta menjadi rata-rata Rp89,4 juta.</li>
<li aria-level="1">Pencegahan praktik monopoli dengan melibatkan 8 <i>syarikah</i> dalam layanan.</li>
<li aria-level="1">Publikasi awal daftar jemaah haji khusus berhak lunas.</li>
<li aria-level="1">Mekanisme pembayaran Dam melalui Adahi dan Baznas.</li>
<li aria-level="1">Pelibatan tiga maskapai dalam transportasi: Garuda Indonesia, Saudi Airlines, dan Lion Air.</li>
</ol>
<h4><b>Lima Pengembangan Strategis (5P):</b></h4>
<ol>
<li aria-level="1">Peningkatan ekosistem ekonomi haji, termasuk ekspor 450 ton bumbu Nusantara.</li>
<li aria-level="1">Pengembangan skema <i>murur</i> untuk memperlancar pergerakan jemaah.</li>
<li aria-level="1">Optimalisasi platform <i>Kawal Haji</i> sebagai sistem pelaporan cepat.</li>
<li aria-level="1">Penerapan layanan Fast Track di tiga embarkasi.</li>
<li aria-level="1">Penguatan Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat).</li>
</ol>
<h4><b>Harapan dalam Masa Transisi</b></h4>
<p>Menag Nasaruddin menyampaikan bahwa saat ini tengah berlangsung proses transisi kelembagaan dari Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag ke BP Haji, yang ditargetkan mulai bertugas pada musim haji 2026.</p>
<p>Ia menyampaikan lima harapan utama untuk mendukung kelancaran peralihan ini:</p>
<ol>
<li aria-level="1"><b>Percepatan penyiapan regulasi haji</b>, agar sejalan dengan timeline ketat dari Pemerintah Arab Saudi.</li>
<li aria-level="1"><b>Percepatan proses transisi kelembagaan</b> dari Kemenag ke BP Haji.</li>
<li aria-level="1"><b>Transformasi layanan haji</b> yang lebih responsif dan adaptif di Arab Saudi.</li>
<li aria-level="1"><b>Penguatan komitmen istitha’ah kesehatan</b>, mengingat perhatian serius Arab Saudi terhadap kesehatan jemaah.</li>
<li aria-level="1"><b>Peningkatan dampak ibadah haji</b>, baik secara spiritual, sosial, maupun ekonomi.</li>
</ol>
<p>“Mulai 2026, BP Haji akan mengemban tugas ini. Mari kita bantu, doakan, dan dukung agar penyelenggaraan haji ke depan lebih sempurna,” kata Nasaruddin yang juga menjabat sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal.</p>
<p>Penutupan operasional haji tahun ini juga menjadi momen refleksi atas pelayanan dan capaian yang telah diraih. Kloter terakhir jemaah haji Indonesia diberangkatkan dari Madinah pada 10 Juli 2025, menandai akhir musim haji yang diikuti lebih dari 221.000 jemaah asal Indonesia.</p>
<p>Dengan transisi ini, publik menaruh harapan besar agar Badan Penyelenggara Haji mampu menghadirkan tata kelola yang lebih profesional, terintegrasi, dan memberikan kenyamanan maksimal bagi seluruh jemaah haji Indonesia.***</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menag Nasaruddin Umar Klarifikasi Isu Pemerintah Arab Saudi Minta Maaf, Termasuk Pungutan Liar</title>
		<link>https://samarindanews.com/islampedia/2470/menag-nasaruddin-umar-klarifikasi-isu-pemerintah-arab-saudi-minta-maaf-termasuk-pungutan-liar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Jun 2025 02:16:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Islampedia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=2470</guid>

					<description><![CDATA[Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengklarifikasi isu soal Pemerintah Arab Saudi, “minta maaf” terkait dinamika dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun 2025. Hal ini disampaikannya saat]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://kemenag.go.id/artikel/menteri-agama">Menteri Agama</a> (Menag) Nasaruddin Umar mengklarifikasi isu soal Pemerintah Arab Saudi, “minta maaf” terkait dinamika dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun 2025.</p>
<p>Hal ini disampaikannya saat evaluasi sementara di Mekkah, pada 11 Juni 2025, waktu setempat. Sejauh ini, dia memastikan bahwa pelaksanaan ibadah haji 2025 berjalan lancar dan kondusif — termasuk puncak haji di Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna).</p>
<p>Namun, dia mengakui bahwa ada sejumlah dinamika yang muncul selama operasional haji berlangsung. Salah satunya terkait isu soal Pemerintah Arab Saudi meminta maaf. Nasaruddin mengatakan bahwa bukan Pemerintah Arab Saudi yang meminta maaf, melainkan dirinya lah yang meminta maaf — sebagai penyelenggara dari pihak Indonesia.</p>
<p>“Kalau ada kekurangan dalam pelayanan, saya yang menyampaikan permohonan maaf. Tapi bukan berarti itu pernyataan dari pemerintah Saudi,” ujarnya, dilansir dari laman resmi Kementerian Agama RI.</p>
<p>Dia juga menegaskan bahwa salah satu dinamika yang disorot, yakni terkait kondisi macet yang terjadi Muzdalifah. Nasaruddin menjelaskan bahwa kondisi tersebut bukan hanya dialami oleh jemaah asal Indonesia, “tapi juga jemaah dari negara lain.”</p>
<p>Selain itu, Menag membantah kabar adanya jemaah Indonesia yang terlantar atau tidak mendapatkan tenda saat puncak haji di Arafah. Ia menegaskan bahwa semua jemaah telah difasilitasi, termasuk mereka yang sempat tidak mendapat tempat di tenda utama.</p>
<p>“Tidak benar ada jemaah terlantar. Mereka akhirnya dipindahkan ke tenda cadangan milik Pemerintah Arab Saudi, bahkan diberi sajadah dan termos. Fasilitasnya pun lebih baik dari tenda biasa,” jelasnya.</p>
<p>Sementara terkait isu pungutan liar dalam program Safari Wukuf untuk jemaah lansia, Menag memastikan bahwa hal itu tidak benar. Ia menjelaskan bahwa persoalan tersebut sebenarnya terkait dengan badal haji, yang dikoordinasikan oleh Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH), bukan oleh petugas PPIH.</p>
<p>“Ada paket biaya yang memang harus dibayar jika seseorang ingin dibadalhajikan. Jadi bukan pungli dari petugas. Kami sudah turunkan Inspektorat Jenderal (Itjen) Kemenag untuk melakukan klarifikasi dan memanggil pihak terkait,” tegas Menag.</p>
<p>Menanggapi laporan adanya jemaah yang memilih berjalan kaki dari Muzdalifah ke Mina, Menag menjelaskan bahwa hal itu terjadi karena mereka khawatir kepanasan dan tidak sabar menunggu bus penjemput.</p>
<p>“Petugas sudah beri informasi bahwa bus akan datang. Faktanya, jemaah yang sabar menunggu hingga pukul 08.00 pagi justru tiba lebih dulu di Mina dibanding yang berjalan kaki lebih awal,” katanya.</p>
<p>Ia memastikan bahwa seluruh jemaah Indonesia berhasil diangkut dari Muzdalifah dengan aman. Pada pukul 09.40 waktu Arab Saudi, seluruh jemaah telah diberangkatkan menuju Mina.</p>
<p>Menag juga menegaskan bahwa tidak ada satu pun jemaah asal Indonesia yang diberangkatkan ke Tanah Suci tanpa melaksanakan haji. Bahkan bagi jemaah yang secara fisik tidak mampu mengikuti puncak haji, telah dibadalkan hajinya sesuai ketentuan.</p>
<p>“Kami tidak menutup-nutupi adanya kendala. Tapi semua masalah yang muncul adalah bersifat kasuistik, dan kami selesaikan satu per satu di lapangan,” pungkasnya.</p>
<p>Dengan penyelenggaraan yang dinilai cukup baik dan pengelolaan isu yang terbuka, Kementerian Agama berharap proses pemulangan jemaah ke Tanah Air berjalan lancar hingga seluruh kloter tiba dengan selamat.***</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jemaah Haji 2025 Bakal Diberi Uang Saku Rp3,1 Juta dalam Bentuk Riyal</title>
		<link>https://samarindanews.com/islampedia/2286/jemaah-haji-2025-bakal-diberi-uang-saku-rp31-juta-dalam-bentuk-riyal/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 May 2025 11:12:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Islampedia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=2286</guid>

					<description><![CDATA[Setiap jemaah haji Indonesia pada musim haji tahun 2025 akan menerima uang saku. Uang saku ini diberikan pemerintah untuk biaya hidup atau living cost. Adapun nominal uang]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap jemaah haji <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Indonesia"><b>Indonesia</b></a> pada musim haji tahun 2025 akan menerima uang saku. Uang saku ini diberikan pemerintah untuk biaya hidup atau <i>living cost</i>.</p>
<p>Adapun nominal uang saku yang akan diterima oleh setiap jemaah haji 2025 sebesar SAR 750 atau setara dengan Rp3.187.500.</p>
<p>Dana ini diberikan dalam bentuk mata uang riyal Arab Saudi dan diperuntukkan untuk kebutuhan sehari-hari jemaah selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.</p>
<p>Sebagaimana dilihat dari infografis dalam laporan <i>detikhikmah</i> yang dirilis oleh <i>detikcom</i>, disebutkan bahwa uang saku tersebut terdiri dari satu lembar pecahan SAR 500, dua lembar SAR 100, dan satu lembar SAR 50.</p>
<p>Secara keseluruhan, total dana living cost yang disediakan untuk seluruh jemaah haji Indonesia tahun ini mencapai SAR 152.490.000.</p>
<p>Bantuan ini bertujuan untuk mendukung kenyamanan jemaah selama beribadah, terutama dalam mencukupi kebutuhan makan, transportasi lokal, serta pengeluaran pribadi lainnya selama di Arab Saudi.</p>
<p>Pemerintah juga mengimbau kepada jemaah untuk membawa uang tunai secukupnya saja dan tidak berlebihan demi alasan keamanan. Hal ini penting guna menghindari risiko kehilangan atau menjadi sasaran tindak kriminal selama berada di luar negeri.</p>
<p>Uang saku ini bukan bagian dari ongkos haji utama, melainkan bentuk fasilitas tambahan untuk memastikan kelancaran aktivitas jemaah di luar rangkaian ibadah pokok.***</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ustaz Adi Hidayat Paparkan 5 Amalan Khusus Hari Jumat, Ini Pesan Mendalamnya Bagi Umat Muslim</title>
		<link>https://samarindanews.com/islampedia/2206/ustaz-adi-hidayat-paparkan-5-amalan-khusus-hari-jumat-ini-pesan-mendalamnya-bagi-umat-muslim/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 May 2025 02:27:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Islampedia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=2206</guid>

					<description><![CDATA[Hari Jumat dikenal sebagai hari istimewa dalam Islam, yang disebut sebagai sayyidul ayyam atau penghulu segala hari. Dalam salah satu kajiannya yang diunggah di kanal]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Hari Jumat dikenal sebagai hari istimewa dalam Islam, yang disebut sebagai <i>sayyidul ayyam </i>atau penghulu segala hari. Dalam salah satu kajiannya yang diunggah di kanal YouTube Adi Hidayat Official, <a href="https://www.youtube.com/channel/UC5KW9VowHehb_jHAhDMZpEQ"><b>Ustaz Adi Hidayat</b> </a>menguraikan lima amalan khusus yang sangat dianjurkan untuk dilakukan pada hari Jumat.</p>
<p>Dalam ceramahnya, Ustaz Adi Hidayat menyampaikan bahwa amalan pertama yang sangat dianjurkan adalah memperbanyak membaca Al-Qur’an, khususnya Surah Al-Kahfi. Menurutnya, membaca surah ini pada hari Jumat akan menghadirkan cahaya yang menerangi hidup seorang Muslim dari Jumat ini ke Jumat berikutnya.</p>
<p>Amalan kedua yang tidak kalah penting adalah memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. “Siapa yang membaca satu kali shalawat, Allah akan membalas dengan sepuluh kemuliaan,” ujar Ustaz Adi. Ia menekankan bahwa shalawat bukan hanya bentuk cinta kepada Nabi, tapi juga sarana untuk meraih pertolongan Allah.</p>
<p>Amalan ketiga adalah menjaga dan menyempurnakan pelaksanaan salat Jumat. Dalam penjelasannya, Ustaz Adi mengingatkan pentingnya mandi sebelum salat, memakai pakaian terbaik, dan datang lebih awal ke masjid. “Semakin awal datang, semakin besar pahala yang dijanjikan,” katanya.</p>
<p>Doa juga menjadi amalan utama yang dianjurkan pada hari Jumat. Ustaz Adi menyebutkan adanya waktu mustajab untuk berdoa di hari tersebut, yang menurut sejumlah ulama terjadi pada waktu antara Ashar dan Maghrib. Ia mengajak umat Muslim untuk memperbanyak doa pada waktu-waktu ini, terutama doa-doa yang berkaitan dengan kebutuhan hidup dan ampunan dosa.</p>
<p>Amalan kelima adalah memperbanyak sedekah. “Sedekah pada hari Jumat memiliki nilai yang sangat besar,” jelas Ustaz Adi. Ia menekankan bahwa sedekah tidak harus besar nilainya, namun yang terpenting adalah niat ikhlas dan konsistensi dalam memberi kepada sesama.</p>
<p>Ustaz Adi juga mengingatkan bahwa kelima amalan ini tidak hanya untuk kaum laki-laki, melainkan juga berlaku untuk kaum perempuan. Ia menegaskan bahwa setiap Muslim memiliki peluang yang sama untuk meraih pahala dan keberkahan melalui amalan-amalan tersebut.</p>
<p>Lebih lanjut, ia menyampaikan sebuah doa yang dianjurkan untuk dibaca setelah salat Jumat, yakni “Allahumma akfini bihalalika ‘an haramika wa aghnini bifadhlika ‘amman siwaka,” doa ini bermakna permohonan kepada Allah untuk diberikan rezeki halal dan kecukupan sehingga tidak perlu bergantung kepada selain-Nya.</p>
<p>Melalui penyampaian yang sederhana namun menyentuh, Ustaz Adi Hidayat mengajak umat Islam untuk tidak menyia-nyiakan hari Jumat sebagai momentum memperkuat hubungan dengan Allah SWT. “Jadikan hari Jumat sebagai titik balik dalam memperbaiki kualitas iman,” pesannya.***</p>
<p><b>— Habibie</b></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dirut Garuda Indonesia: Biaya Penerbangan Haji Naik Rp1,1 Juta per Jamaah</title>
		<link>https://samarindanews.com/islampedia/2072/dirut-garuda-indonesia-biaya-penerbangan-haji-naik-rp11-juta-per-jamaah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Apr 2025 08:28:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Islampedia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=2072</guid>

					<description><![CDATA[Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memicu kenaikan biaya transportasi penerbangan bagi calon jamaah haji tahun 2025. Kenaikan ini mencapai sekitar Rp1,1 juta]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memicu kenaikan biaya transportasi penerbangan bagi calon jamaah haji tahun 2025. Kenaikan ini mencapai sekitar Rp1,1 juta per orang, seperti disampaikan Direktur Utama PT <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Garuda_Indonesia">Garuda Indonesia</a> (Persero) Tbk, Wamildan Tsani, dalam Rapat Kerja bersama Komisi VIII DPR RI di Gedung Nusantara II, Kamis, 17 April 2025.</p>
<p>Wamildan menjelaskan, biaya penerbangan awalnya dihitung berdasarkan kurs rupiah sebesar Rp16.000 per dolar. Namun, dalam perjalanannya, nilai tukar rupiah terus melemah dan saat ini telah menembus Rp16.845 per dolar AS.</p>
<p>“Dengan adanya kenaikan nilai tukar sekitar lima persen, maka biaya operasional kami juga ikut terdampak. Kami laporkan bahwa terdapat peningkatan biaya sebesar kurang lebih Rp1,1 juta per penumpang,” ungkapnya di hadapan anggota dewan, Kamis, 17 April 2025.</p>
<p>Untuk mengatasi tekanan keuangan yang dialami perusahaan, Garuda Indonesia mengajukan usulan agar sisa pembayaran biaya penerbangan haji dapat dilakukan dalam bentuk dolar AS. Menurut Wamildan, hal ini akan membantu menstabilkan keuangan maskapai dan menghindari potensi kerugian akibat fluktuasi kurs.</p>
<p>“Saat ini pembayaran Termin I sebesar 40% sudah dilakukan. Namun masih ada 60 persen lagi yang akan dibayarkan dalam tiga termin berikutnya. Kami mengusulkan agar pembayaran di Termin 2, 3, dan 4 bisa dilakukan dengan kurs dolar, agar lebih efisien dan tidak membebani maskapai,” jelasnya.</p>
<p>Langkah ini menjadi bagian dari strategi Garuda Indonesia untuk menjaga stabilitas operasional selama musim haji, di tengah tekanan ekonomi global dan volatilitas nilai tukar. Maskapai pelat merah tersebut juga berharap pemerintah dan DPR RI dapat memberikan pertimbangan atas usulan ini demi kelancaran penyelenggaraan ibadah haji tahun ini.***</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
