<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Insight &#8211; SamarindaNews</title>
	<atom:link href="https://samarindanews.com/category/insight/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://samarindanews.com</link>
	<description>Samarindanews.Com</description>
	<lastBuildDate>Fri, 07 Nov 2025 01:00:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.1</generator>

<image>
	<url>https://samarindanews.com/wp-content/uploads/2026/09/cropped-icon-32x32.png</url>
	<title>Insight &#8211; SamarindaNews</title>
	<link>https://samarindanews.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Perjalanan Mendalam: Dari Calon Taruna Hingga Perwira di Akmil Magelang</title>
		<link>https://samarindanews.com/insight/3861/perjalanan-mendalam-dari-calon-taruna-hingga-perwira-di-akmil-magelang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2025 01:00:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Insight]]></category>
		<category><![CDATA[Akademi Militer]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=3861</guid>

					<description><![CDATA[Mengabdi pada tanah air bukan sekadar pilihan bagi mereka yang mengikuti jejak di Akademi Militer (Akmil) Magelang, itu adalah panggilan hidup. Perjalanan]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Mengabdi pada tanah air bukan sekadar pilihan bagi mereka yang mengikuti jejak di Akademi Militer (Akmil) Magelang, itu adalah panggilan hidup. Perjalanan panjang dari seleksi ketat hingga dilantik sebagai perwira TNI Angkatan Darat menuntut fisik, mental, dan karakter yang tak kalah tangguh. Berikut langkah-langkah yang harus dilalui calon taruna Akmil, berdasarkan data resmi dan publikasi terkait.</p>
<h6>1. Persyaratan Awal &amp; Seleksi</h6>
<p>Calon taruna Akmil harus memenuhi sejumlah persyaratan umum dan khusus: menjadi Warga Negara Indonesia, beriman dan bertaqwa, setia ke NKRI, serta dalam kondisi sehat jasmani dan rohani. Selanjutnya, terdapat tahapan seleksi administratif, kesehatan, jasmani, psikologi, kesehatan mental dan ideologi. Contoh syarat fisik: tinggi badan, usia maksimal saat pembukaan pendidikan, bebas tato dan tindik (kecuali karena agama/adat).</p>
<h6>2. Pendidikan &amp; Masa Taruna</h6>
<p>Setelah lolos seleksi, calon taruna menempuh pendidikan militer di Akmil selama empat tahun di Magelang. Pendidikan mencakup aspek akademik, militer, taktik, kepemimpinan, latihan fisik serta kehidupan barak yang disiplin tinggi.</p>
<h6>3. Lulusan &amp; Gelar</h6>
<p>Para taruna yang lulus menerima gelar Sarjana Terapan Pertahanan (S.Tr.(Han)) serta dilantik sebagai Letnan Dua (Letda) TNI AD. Masa pendidikan dan kurikulum terus diperbaharui untuk menyesuaikan tantangan modern, seperti yang terlihat dalam dokumen revisi standar diklat Akmil.</p>
<h6>4. Ikatan Dinas &amp; Penempatan</h6>
<p>Calon taruna juga bersedia menjalani ikatan dinas dan ditempatkan di seluruh wilayah NKRI. Ini menegaskan bahwa pendidikan di Akmil bukan hanya tentang meraih gelar, tapi juga mengabdikan diri.</p>
<p>Perjalanan menjadi taruna di Akmil Magelang adalah kombinasi antara panggilan pengabdian dan pendidikan intens yang membentuk karakter pemimpin. Dari seleksi awal hingga pelantikan, seluruh proses dirancang untuk memastikan bahwa mereka bukan hanya memiliki kemampuan militer, tetapi juga jiwa nationalism dan integritas tinggi. Lembah Gunung Tidar menyaksikan lahirnya generasi penerus yang siap menjaga kedaulatan bangsa.</p>
<p><strong>Penulis:</strong> Azel</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jejak Sejarah Akademi Militer Magelang: Dari MA Yogyakarta hingga Akmil TNI AD</title>
		<link>https://samarindanews.com/insight/3858/jejak-sejarah-akademi-militer-magelang-dari-ma-yogyakarta-hingga-akmil-tni-ad/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Nov 2025 01:00:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Insight]]></category>
		<category><![CDATA[Akademi Militer]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=3858</guid>

					<description><![CDATA[Akademi Militer (Akmil) Magelang menjadi salah satu lembaga pendidikan tertua dan paling bergengsi di Indonesia. Di sinilah para calon perwira Tentara Nasional Indonesia]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.akmil.ac.id/"><strong>Akademi Militer</strong> </a>(Akmil) Magelang menjadi salah satu lembaga pendidikan tertua dan paling bergengsi di Indonesia. Di sinilah para calon perwira Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) ditempa untuk menjadi pemimpin yang tangguh dan berkarakter.</p>
<p>Namun, tidak banyak yang tahu bahwa cikal bakal Akmil sudah ada sejak awal kemerdekaan Indonesia. Berdasarkan catatan resmi akmil.ac.id, sejarah lembaga ini dimulai pada 31 Oktober 1945 dengan berdirinya Militaire Academie (MA) Yogyakarta atas perintah Jenderal Oerip Soemohardjo.</p>
<p>MA Yogyakarta menjadi wadah pertama bagi pendidikan calon perwira Indonesia setelah kemerdekaan, namun harus berhenti beroperasi pada 1950 karena situasi politik dan keamanan saat itu.</p>
<h5>Dari AMN ke Akmil</h5>
<p>Tujuh tahun kemudian, semangat membangun lembaga pendidikan militer kembali muncul. Pada 11 November 1957, Presiden Soekarno meresmikan Akademi Militer Nasional (AMN) di Magelang, Jawa Tengah. AMN menjadi tonggak baru dalam sejarah pendidikan militer Indonesia dan menjadi fondasi bagi pembentukan perwira TNI AD modern.</p>
<p>Selama perjalanannya, AMN terus berkembang dan mengalami sejumlah perubahan organisasi. Pada 16 Desember 1965, seluruh akademi angkatan bersenjata digabungkan menjadi satu wadah bernama AKABRI (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia).</p>
<p>Namun, seiring berjalannya waktu, struktur pendidikan militer kembali dipisahkan agar masing-masing matra dapat fokus pada pengembangan karakter dan strategi militernya. Pada 14 Juni 1984, AKABRI Bagian Darat resmi berubah nama menjadi Akademi Militer (Akmil) yang kita kenal hingga saat ini.</p>
<h5>Pusat Pendidikan di Lembah Tidar</h5>
<p>Kampus Akmil terletak di Lembah Gunung Tidar, Magelang, Jawa Tengah sebuah kawasan yang dikenal sebagai “jantung” pembentukan perwira TNI AD. Di sinilah para taruna ditempa dalam aspek akademik, fisik, mental, dan moral untuk menjadi pemimpin masa depan bangsa.</p>
<p>Akmil bukan hanya institusi pendidikan, melainkan juga simbol dedikasi dan pengabdian terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Lembaga ini telah melahirkan banyak tokoh militer penting, mulai dari pejabat tinggi TNI, menteri, hingga presiden.</p>
<h5>Beradaptasi di Era Modern</h5>
<p>Di tengah perkembangan zaman dan tantangan global, Akmil terus berbenah dengan menyesuaikan kurikulum dan metode pembelajarannya. Tujuannya tetap sama: membentuk perwira yang profesional, berintegritas, dan memiliki semangat juang tinggi dalam menjaga kedaulatan bangsa.</p>
<p>Kini, Akmil tak hanya menjadi lembaga pendidikan militer, tetapi juga menjadi bagian penting dalam sejarah panjang pertahanan Indonesia.***</p>
<p><strong>Penulis:</strong> Azel</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kehidupan Taruna Akademi Militer: Disiplin, Tangguh, dan Penuh Makna</title>
		<link>https://samarindanews.com/insight/3855/kehidupan-taruna-akademi-militer-disiplin-tangguh-dan-penuh-makna/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Nov 2025 01:00:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Insight]]></category>
		<category><![CDATA[Akademi Militer]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=3855</guid>

					<description><![CDATA[DI BALIK ketegasan dan wibawa para perwira TNI Angkatan Darat, ada proses panjang yang dimulai sejak mereka menjadi taruna di Akademi Militer (Akmil). Kehidupan sehari-hari]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>DI BALIK</strong> ketegasan dan wibawa para perwira TNI Angkatan Darat, ada proses panjang yang dimulai sejak mereka menjadi taruna di <a href="https://www.akmil.ac.id/">Akademi Militer</a> (Akmil). Kehidupan sehari-hari di Akmil tidak hanya membentuk fisik yang kuat, tetapi juga mental dan karakter yang tangguh sebagai calon pemimpin bangsa.</p>
<p><strong>Bangun Pagi Sebelum Subuh</strong></p>
<p>Hari-hari taruna dimulai jauh sebelum matahari terbit. Sekitar pukul 04.00 WIB, mereka sudah bangun untuk apel pagi dan olahraga fisik seperti lari, push-up, dan latihan dasar militer. Disiplin waktu menjadi fondasi utama dalam kehidupan mereka.</p>
<p><strong>Belajar dan Latihan Militer</strong></p>
<p>Setelah kegiatan fisik dan sarapan, taruna mengikuti kuliah akademik dan latihan taktis militer. Mata pelajaran yang diberikan mencakup ilmu kepemimpinan, strategi perang, sejarah militer, serta keterampilan teknis seperti navigasi, menembak, dan survival di lapangan.</p>
<p>Selain di kelas, pembelajaran juga dilakukan di medan latihan, baik di dalam maupun luar kampus. Tujuannya, agar setiap taruna memahami penerapan ilmu di situasi nyata.</p>
<p><strong>Kedisiplinan dalam Kehidupan Sehari-hari</strong></p>
<p>Setiap aktivitas taruna diatur ketat dalam jadwal yang padat. Mulai dari makan siang, istirahat, apel sore, hingga jam belajar malam. Mereka dituntut untuk menjaga kerapian, ketertiban, serta saling menghormati antar sesama taruna.</p>
<p>Makanan disajikan dengan aturan militer tidak boleh berbicara saat makan, duduk tegak, dan selesai sesuai aba-aba. Nilai-nilai kebersamaan dan tanggung jawab ditanamkan dalam setiap aspek kehidupan.</p>
<p><strong>Latihan Kepemimpinan dan Pembinaan Mental</strong></p>
<p>Kehidupan taruna juga mencakup latihan kepemimpinan di lapangan, kegiatan sosial, serta pembinaan rohani. Mereka dilatih untuk berpikir cepat, mengambil keputusan dalam tekanan, dan memimpin satuan dengan bijaksana.</p>
<p>“Menjadi taruna bukan hanya soal kekuatan fisik, tapi tentang membentuk karakter pemimpin sejati,” ujar salah satu pelatih Akmil dalam wawancara resmi laman akmil.ac.id</p>
<p><strong>Waktu Istirahat yang Terbatas</strong></p>
<p>Menjelang malam, sekitar pukul 22.00 WIB, seluruh taruna wajib istirahat. Waktu tidur hanya sekitar 5–6 jam per hari, karena mereka kembali harus siap sebelum fajar. Kedisiplinan, keuletan, dan semangat pantang menyerah menjadi bagian dari keseharian mereka.</p>
<p><strong>Akmil, Tempat Ditempanya Jiwa Ksatria</strong></p>
<p>Kehidupan taruna di Akmil bukan sekadar rutinitas keras, melainkan proses pembentukan karakter pejuang. Mereka dilatih untuk menjadi perwira yang berani, berintegritas, dan siap mengabdi pada bangsa di medan apa pun.***</p>
<p><strong>Penulis:</strong> Azel</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Deretan Lulusan Akademi Militer Magelang yang Jadi Tokoh Nasional</title>
		<link>https://samarindanews.com/insight/3852/deretan-lulusan-akademi-militer-magelang-yang-jadi-tokoh-nasional/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Nov 2025 01:00:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Insight]]></category>
		<category><![CDATA[Akademi Militer]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=3852</guid>

					<description><![CDATA[Akademi Militer (Akmil) Magelang merupakan lembaga pendidikan tinggi militer yang menjadi kawah candradimuka bagi calon perwira TNI Angkatan Darat. Sejak berdiri tahun 1945,]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="https://www.akmil.ac.id/">Akademi Militer</a> </strong>(Akmil) Magelang merupakan lembaga pendidikan tinggi militer yang menjadi kawah candradimuka bagi calon perwira TNI Angkatan Darat. Sejak berdiri tahun 1945, Akmil telah melahirkan banyak tokoh nasional yang berpengaruh di bidang militer maupun pemerintahan.</p>
<h5>Berikut beberapa lulusan Akmil yang dikenal luas sebagai tokoh nasional:</h5>
<p><strong>1. Jenderal (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)</strong></p>
<p>Lulusan Akmil tahun 1973, SBY merupakan presiden ke-6 Republik Indonesia. Ia dikenal sebagai sosok pemimpin dengan latar belakang militer yang kuat dan berpandangan strategis. Selama kariernya di TNI, SBY pernah menjabat berbagai posisi penting sebelum akhirnya beralih ke dunia politik.</p>
<p><strong>2. Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo</strong></p>
<p>Lulusan Akmil tahun 1982, Gatot pernah menjabat sebagai Panglima TNI pada 2015–2017. Ia dikenal aktif menggaungkan semangat nasionalisme serta menjaga persatuan bangsa melalui berbagai kegiatan kebangsaan.</p>
<p><strong>3. Jenderal (Purn) Andika Perkasa</strong></p>
<p>Lulusan Akmil tahun 1987, Andika Perkasa merupakan Panglima TNI ke-21 (2021–2022). Sebelum menjabat Panglima, ia pernah menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Dikenal tegas dan modern dalam memimpin, Andika membawa semangat transformasi di tubuh TNI.</p>
<p><strong>4. Letjen (Purn) Prabowo Subianto</strong></p>
<p>Lulusan Akademi Militer (Akmil) Magelang tahun 1974, Prabowo menempuh pendidikan militer yang membentuk disiplin, kepemimpinan, dan dedikasi tinggi terhadap negara. Setelah lulus, Prabowo meniti karier di TNI Angkatan Darat dan pernah menduduki berbagai posisi strategis, termasuk sebagai Komandan Jenderal Kopassus. Reputasinya sebagai perwira yang tegas dan visioner membuatnya dikenal publik, hingga kemudian ia terjun ke dunia politik dan menjadi salah satu tokoh berpengaruh dalam perjalanan bangsa Indonesia.</p>
<p><strong>5. Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman</strong></p>
<p>Lulusan Akmil tahun 1988, Dudung pernah menjabat sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad) dan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Ia dikenal dengan pendekatan humanis terhadap prajurit dan masyarakat.</p>
<h5>Akmil, Pencetak Pemimpin Bangsa</h5>
<p>Deretan nama di atas hanyalah sebagian kecil dari ribuan lulusan Akmil yang mengabdikan diri bagi bangsa. Tak hanya menjadi pemimpin di dunia militer, banyak juga yang berkiprah di bidang sosial, politik, dan pemerintahan.</p>
<p>Akademi Militer terus berkomitmen mencetak kader pemimpin masa depan yang berjiwa disiplin, tangguh, dan berintegritas tinggi.***</p>
<p><strong>Penulis:</strong> Azel</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Fakta Unik Akademi Militer Magelang yang Jarang Diketahui Publik</title>
		<link>https://samarindanews.com/insight/3849/fakta-unik-akademi-militer-magelang-yang-jarang-diketahui-publik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 03 Nov 2025 01:00:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Insight]]></category>
		<category><![CDATA[Akademi Militer]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=3849</guid>

					<description><![CDATA[Di lereng Gunung Tidar, berdiri megah sebuah lembaga yang menjadi kawah candradimuka bagi para calon perwira TNI Angkatan Darat: Akademi Militer (Akmil) Magelang. Tak]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Di lereng Gunung Tidar, berdiri megah sebuah lembaga yang menjadi kawah candradimuka bagi para calon perwira TNI Angkatan Darat: <a href="https://www.akmil.ac.id/">Akademi Militer (Akmil)</a> Magelang. Tak hanya menjadi pusat pendidikan militer, Akmil juga menyimpan banyak kisah menarik yang jarang diketahui publik. Berikut sejumlah fakta unik tentang Akmil Magelang.</p>
<h5>1. Terletak di Lembah Lima Gunung</h5>
<p>Akmil berada di Lembah Gunung Tidar, Kota Magelang, Jawa Tengah. Letaknya sangat strategis dan dikelilingi lima gunung besar: Merapi, Merbabu, Sumbing, Sundoro, dan Tidar. Kawasan pendidikan ini mencakup luas sekitar 654 hektar di ketinggian ±400 meter di atas permukaan laut menjadikannya lokasi ideal untuk pelatihan fisik dan mental para taruna.</p>
<h5>2. Berawal dari Militaire Academie di Yogyakarta</h5>
<p>Sejarah Akmil dimulai pada 31 Oktober 1945, ketika Oerip Soemohardjo menggagas pendirian Militaire Academie (MA) di Yogyakarta hanya dua bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan.</p>
<p>Lembaga ini menjadi cikal bakal sekolah perwira Indonesia. Setelah melalui beberapa fase reorganisasi dan perubahan nama, pada 14 Juni 1984, lembaga ini resmi bernama Akademi Militer (Akmil) dan berkedudukan di Magelang.</p>
<h5>3. Tradisi Unik dan Disiplin Ketat</h5>
<p>Kedisiplinan di Akmil bukan sekadar simbol, tapi gaya hidup. Salah satu tradisi khasnya adalah makan bersama dengan formasi dan komando setiap taruna harus berjajar rapi sebelum memasuki ruang makan dan hanya boleh bergerak setelah aba-aba diberikan.</p>
<p>Bahkan dalam kegiatan pembekalan kabinet yang digelar di Akmil, para peserta dibangunkan pukul 04.00 pagi dengan suara terompet, mencerminkan kedisiplinan khas militer.</p>
<h5>4. Lulusan Bergelar S.Tr.(Han) dan Menyandang Pangkat Letnan Dua</h5>
<p>Selain menjadi prajurit, para lulusan Akmil juga berstatus akademisi. Mereka memperoleh gelar Sarjana Terapan Pertahanan (S.Tr.(Han)) dengan jenjang Diploma IV, serta otomatis menyandang pangkat Letnan Dua (Letda) saat dilantik oleh Presiden Republik Indonesia.</p>
<p>Program studi yang ditempuh pun beragam, mulai dari Teknik Sipil Pertahanan, Teknik Elektronika Pertahanan, Manajemen Pertahanan, hingga Administrasi Pertahanan.</p>
<h5>5. Kerap Jadi Lokasi Kegiatan Strategis Nasional</h5>
<p>Kedisiplinan dan ketenangan suasana Akmil menjadikannya lokasi ideal untuk kegiatan nasional berskala tinggi. Salah satu momen bersejarah adalah retret Kabinet Merah Putih, di mana para menteri berkumpul di Akmil untuk pembekalan bersama Presiden dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.</p>
<p>Momen ini sekaligus menegaskan reputasi Akmil sebagai tempat pembentukan karakter dan kepemimpinan bangsa.</p>
<p>Lebih dari sekadar lembaga pendidikan, Akademi Militer Magelang adalah simbol disiplin, dedikasi, dan cinta tanah air. Dari tempat inilah lahir para pemimpin TNI Angkatan Darat yang menjaga kedaulatan negara, membawa semangat juang dari lembah sejuk Gunung Tidar menuju medan pengabdian di seluruh penjuru Indonesia.***</p>
<p><strong>Penulis:</strong> Azel</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jejak Kepemimpinan Akademi Militer dari Masa ke Masa</title>
		<link>https://samarindanews.com/insight/3846/jejak-kepemimpinan-akademi-militer-dari-masa-ke-masa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 02 Nov 2025 01:00:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Insight]]></category>
		<category><![CDATA[Akademi Militer]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=3846</guid>

					<description><![CDATA[Sejak berdiri pada tahun 1945, Akademi Militer (Akmil) telah menjadi kawah candradimuka bagi para calon perwira TNI Angkatan Darat. Lembaga pendidikan militer tertinggi ini]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak berdiri pada tahun 1945, <a href="https://www.akmil.ac.id/">Akademi Militer</a> (Akmil) telah menjadi kawah candradimuka bagi para calon perwira TNI Angkatan Darat. Lembaga pendidikan militer tertinggi ini tidak hanya melahirkan prajurit tangguh, tetapi juga pemimpin bangsa yang berintegritas. Perjalanan panjang Akmil tak lepas dari peran para gubernur yang memimpin dan membentuk arah pendidikan militer Indonesia.</p>
<h5>Awal Berdirinya: 1945 – 1960-an</h5>
<p>Pada masa awal berdirinya, Akademi Militer masih bernama Sekolah Perwira Angkatan Darat. Gubernur pertamanya, Mayor Jenderal TNI Soewardi (1945–1948), memimpin pada masa sulit pasca-kemerdekaan, saat Indonesia baru membangun sistem pertahanan nasional.</p>
<p>Kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh Kolonel GPH Djatikoesoemo (1948–1950) dan Kolonel Kav R.M. Soerjo Soerarso (1950–1959) yang memperkuat fondasi pendidikan perwira muda</p>
<p>Tahun 1959 hingga 1966, tongkat estafet kepemimpinan berpindah ke Kolonel Inf Sentot Iskandar Dinata, Brigjen TNI Soerono Reksodimedjo, hingga Mayjen TNI Achmad Tahir yang memantapkan kurikulum militer dan nasionalisme di tubuh taruna.</p>
<h5>Masa Penguatan dan Modernisasi: 1970–1990-an</h5>
<p>Era 1970-an menjadi momentum modernisasi pendidikan militer. Di bawah kepemimpinan Mayjen TNI Sarwo Edhie Wibowo (1970–1974), Akmil memperkenalkan berbagai pembaruan dalam sistem pelatihan dan disiplin.</p>
<p>Tongkat kepemimpinan kemudian diteruskan oleh sejumlah tokoh seperti Mayjen TNI R. Wijogo Admodarminto, Goenawan Wibisono, Sudirman Saleh, Untung Sridadi, hingga Toni Hartono, yang memperkuat reputasi Akmil sebagai lembaga militer unggulan.</p>
<h5>Masa Reformasi: 1990–2000-an</h5>
<p>Memasuki era reformasi, kepemimpinan Akmil diwarnai perubahan signifikan untuk menyesuaikan pendidikan dengan tantangan zaman. Tokoh-tokoh seperti Mayjen TNI Yusman Yutam (1993–1995), Mayjen TNI Fachrul Razi (1996–1997), dan Mayjen TNI Djoko Subroto (1997–1998) berperan penting dalam menjaga profesionalisme perwira muda di tengah dinamika nasional.</p>
<p>Setelahnya, Mayjen TNI Syamsul Ma’arif (1999–2000) hingga Mayjen TNI Prabowo Suharto (2002–2003) melanjutkan penguatan nilai kepemimpinan, disiplin, dan karakter kebangsaan.</p>
<h5>Era Milenial: 2000–Sekarang</h5>
<p>Sejak tahun 2000-an, Akmil terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan ilmu pertahanan modern. Sejumlah nama seperti Mayjen TNI Gatot Nurmantyo (2010) yang kemudian menjadi Panglima TNI, serta Mayjen TNI Dudung Abdurachman (2018–2020) yang juga menjabat di posisi strategis TNI, memperlihatkan kiprah besar lulusan dan pemimpin Akmil di tingkat nasional.</p>
<p>Kepemimpinan berlanjut ke Mayjen TNI Totok Imam Santoso (2020–2021), Mayjen TNI Candra Wijaya (2021–2022), Mayjen TNI Legowo W.R. Jatmiko (2022–2023), Mayjen TNI Erwin Djatniko (2023), dan Mayjen TNI Arnold A.P. Ritiauw (Februari–Agustus 2025).</p>
<p>Kini, sejak Agustus 2025, tampuk kepemimpinan Akademi Militer dipegang oleh Mayjen TNI Rano Maxim Adolf Tilaar, sosok prajurit yang dikenal tegas, visioner, dan humanis. Lulusan Akmil tahun 1993 ini merupakan perwira yang meniti karier dari satuan elit Kopassus, dengan pengalaman panjang di dunia operasi dan intelijen.</p>
<p>Dalam kepemimpinannya, Tilaar membawa semangat baru dalam pendidikan militer membentuk perwira muda yang tangguh secara fisik, cerdas digital, dan berkarakter kebangsaan. Ia menekankan pentingnya literasi, kepemimpinan berbasis nurani, dan disiplin moral bagi setiap taruna.</p>
<p>“Perwira masa depan harus paham algoritma, tapi tetap berpegang pada Pancasila,” ujar Tilaar, dikutip dari Bertuahpos.com.</p>
<p>Kehadiran Mayjen TNI Rano Maxim Adolf Tilaar di pucuk pimpinan Akmil menandai era baru pendidikan militer Indonesia yang lebih adaptif terhadap zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai Sapta Marga dan jiwa korsa prajurit sejati.</p>
<p>Selama hampir delapan dekade, Akademi Militer telah melahirkan banyak pemimpin bangsa dan menjadi simbol dedikasi terhadap negara. Perjalanan panjang para gubernurnya menjadi bukti bahwa kepemimpinan visioner dan semangat juang tetap menjadi roh utama dalam mencetak calon perwira masa depan Indonesia.***</p>
<p><strong>Penulis:</strong> Azel</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setya Kita Pancasila: Gerakan Baru Penjaga Jati Diri Bangsa</title>
		<link>https://samarindanews.com/insight/3727/setya-kita-pancasila-gerakan-baru-penjaga-jati-diri-bangsa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 Oct 2025 10:21:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Insight]]></category>
		<category><![CDATA[Setya Kita Pancasila]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=3727</guid>

					<description><![CDATA[Di tengah derasnya arus globalisasi dan riuhnya pertarungan politik identitas, sebuah organisasi kemasyarakatan bernama Setya Kita Pancasila (SKP) perlahan mencuri perhatian. Tak banyak gembar-gembor,]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Di tengah derasnya arus globalisasi dan riuhnya pertarungan politik identitas, sebuah organisasi kemasyarakatan bernama <strong>Setya Kita Pancasila (SKP)</strong> perlahan mencuri perhatian. Tak banyak gembar-gembor, namun langkah mereka nyata — dari aksi sosial di pesisir Papua Barat hingga pelatihan kepemimpinan di Sumatera Barat serta berbagai daerah lainnya.</p>
<p>Di balik gerakan ini, ada semangat sederhana: menjaga Indonesia agar tetap berpijak pada nilai-nilai Pancasila.</p>
<h5>Awal dari Kegelisahan</h5>
<p>Tahun 2020, di tengah pandemi dan kegaduhan politik nasional, sekelompok tokoh masyarakat mendirikan SKP. Mereka resah melihat nilai gotong royong yang mulai luntur, rasa persatuan yang terkikis oleh perbedaan, dan anak muda yang kian jauh dari semangat kebangsaan.</p>
<p>Ketua Umum Andreas Sumual merupakan salah satu yang paling lantang berbicara. “Kita harus mulai dari hal-hal kecil,” ujarnya suatu kali. “Setya Kita Pancasila ini bukan wadah elitis, tapi ruang bagi siapa pun yang ingin berbuat nyata untuk negeri ini.”</p>
<p>Andreas meyakini, menghidupkan kembali semangat Pancasila tidak bisa hanya lewat seremoni. Ia harus turun ke lapangan — hadir di tengah rakyat, membantu mereka, dan memastikan nilai kemanusiaan benar-benar terasa.</p>
<h5>Dari Sumatera Hingga Papua, SKP Bergerak</h5>
<p>Langkah konkret itu terlihat di banyak daerah. Seperti di Tanjungpinang Kepulauan Riau, para relawan SKP turun ke jalan membagikan masker dan makanan ringan kepada warga. Mereka menyebutnya sebagai “aksi kecil penuh makna”. Seorang anggota DPW Kepri mengatakan, “Kami ingin Pancasila tidak hanya dihafalkan, tapi dirasakan.”</p>
<p>Sementara di Manokwari, Papua Barat, para anggota muda SKP ikut menjaga keamanan gereja saat ibadah Natal berlangsung. Mereka bekerja sama dengan aparat dan tokoh agama setempat. “Kami ingin generasi muda di sini tumbuh dengan semangat kebersamaan, bukan perpecahan,” kata Lince Wainarisi, bendahara DPW Papua Barat.</p>
<p>Di Kerinci, Jambi, SKP bersama Polres setempat turun membantu korban banjir. Ratusan paket sembako dibagikan ke warga desa yang rumahnya terendam air. “Tak ada politik, tak ada warna. Yang ada hanya kemanusiaan,” ujar salah seorang anggota lapangan.</p>
<p>Sementara di Sumatera Barat, SKP menggelar pelatihan kepemimpinan bersama lembaga pemerintahan. Pun begitu di berbagai daerah lainnya. Fokusnya: menanamkan nilai integritas dan semangat gotong royong pada generasi muda.</p>
<h5>Gerakan Moral, Bukan Sekadar Organisasi</h5>
<p>Andreas Sumual selalu menekankan bahwa SKP bukan sekadar ormas yang menempelkan nama Pancasila. “Kami ini bukan sekadar kumpulan orang, tapi gerakan moral, Tugas kami menjaga api Pancasila agar tidak padam.” katanya tegas.</p>
<p>Ia juga menolak anggapan bahwa ormas harus selalu identik dengan politik. “Kami mendukung program pemerintah, tapi kami bukan alat politik siapa pun,” ujarnya. “Kami hadir untuk masyarakat, untuk bangsa, untuk negara.”</p>
<p>Dalam setiap kesempatan, Andreas mengingatkan anggotanya untuk bekerja dengan hati. “Bersatu itu lebih baik,” katanya. “Kesempatan membangun bangsa jangan disia-siakan.”</p>
<h5>Menyalakan Harapan di Tengah Krisis Identitas</h5>
<p>SKP sadar, tantangan terbesar bangsa hari ini bukan hanya kemiskinan atau ketimpangan, tapi krisis identitas. Di era media sosial, perpecahan sering kali lebih cepat tersebar daripada kabar baik.</p>
<p>Karena itu, SKP menjadikan literasi kebangsaan sebagai salah satu fokus utama. Mereka menggandeng sekolah dan komunitas pemuda untuk mengadakan diskusi dan kegiatan edukatif seputar nilai-nilai Pancasila.</p>
<p>“Kalau anak muda paham arti kemanusiaan dan keadilan sosial, mereka tidak mudah terpecah,” ujar Andreas. “Itulah investasi ideologis bangsa yang sesungguhnya.”</p>
<h5>Menjaga Netralitas, Merawat Nilai</h5>
<p>Meski SKP tumbuh pesat di banyak provinsi, tantangan tetap ada. Mereka harus menjaga netralitas di tengah godaan politik praktis. “Kami tidak mau kehilangan arah,” kata Andreas. Ia menekankan,tugas SKP bukan mencari kekuasaan, tapi menjaga nilai.</p>
<p>SKP juga menyiapkan badan usaha mikro untuk membantu pembiayaan kegiatan sosialnya. Menurut Andreas, langkah itu agar organisasi bisa mandiri tanpa bergantung pada sponsor politik. “Kalau kita ingin berbicara tentang moral, kita juga harus berdiri di atas kaki sendiri,” katanya.</p>
<h5>Harapan dari Lapangan</h5>
<p>Dari jalanan Tanjungpinang hingga desa-desa di Jambi, semangat SKP tumbuh pelan tapi pasti. Tak selalu disorot media, tapi dirasakan oleh mereka yang disentuh langsung oleh aksi kecil mereka.</p>
<p>“Orang boleh lupa slogan, tapi tidak akan lupa siapa yang membantu saat susah. Itulah esensi Pancasila yang kami perjuangkan.” kata Andreas Sumual</p>
<h5>Menjadi Cermin Baru Gerakan Kebangsaan</h5>
<p>Saat ini, Setya Kita Pancasila mungkin bukan organisasi besar dengan sumber daya melimpah. Namun di tengah situasi bangsa yang mudah terbelah, ormas ini menjadi cermin baru: kecil, konsisten, dan berakar di masyarakat.</p>
<p>Bagi Andreas Sumual, perjuangan ini masih panjang.</p>
<p>“Kita tidak sedang mengejar panggung. “Kita sedang menjaga rumah bersama yang bernama Indonesia.” Ungkapnya.***</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bakteri Super Ini Ancam Ekonomi Global, Berpotensi Rugikan Rp34.000 Triliun per Tahun pada 2050</title>
		<link>https://samarindanews.com/insight/2800/bakteri-super-ini-ancam-ekonomi-global-berpotensi-rugikan-rp34-000-triliun-per-tahun-pada-2050/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Jul 2025 06:33:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Insight]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=2800</guid>

					<description><![CDATA[Dunia menghadapi ancaman serius dari resistensi antimikroba (AMR) atau bakteri super, yang diperkirakan dapat menyebabkan jutaan kematian dan kerugian ekonomi global mencapai]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dunia menghadapi ancaman serius dari resistensi antimikroba (AMR) atau bakteri super, yang diperkirakan dapat menyebabkan jutaan kematian dan kerugian ekonomi global mencapai USD 1,7 triliun (sekitar Rp34.000 triliun) per tahun pada 2050. Dilansir dari <i>The Guardian</i>, temuan ini berasal dari <a href="https://www.theguardian.com/society/2025/jul/20/superbugs-could-kill-millions-more-and-cost-2tn-a-year-by-2050-models-show"><b>studi terbaru yang dilakukan Center for Global Development</b></a> dan didanai oleh pemerintah Inggris.</p>
<p>Penelitian tersebut menyebut bahwa tanpa aksi global yang terkoordinasi, tingkat resistensi terhadap antibiotik akan terus meningkat. Negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, dan kawasan Uni Eropa diprediksi akan menjadi yang paling terdampak dari sisi ekonomi dan kesehatan.</p>
<p>“Jika program pengendalian AMR terus mengalami pemotongan dana, kita akan menghadapi skenario terburuk. Ini bukan hanya krisis kesehatan, tapi juga bencana ekonomi,” kata Anthony McDonnell, penulis utama laporan itu.</p>
<p>Menurut proyeksi, resistensi antibiotik dapat menyebabkan kerugian produk domestik bruto (PDB) tahunan sebesar; USD 722 miliar di Tiongkok; USD 295,7 miliar di Tiongkok; USD 187 miliar di Uni Eropa; USD 65,7 miliar di Jepang dan USD 58,6 miliar di Inggris.</p>
<p>Tak hanya itu, jumlah kematian akibat infeksi yang kebal obat diperkirakan melonjak 60% pada 2050, mencapai 1,34 juta kasus di AS dan 184.000 kasus di Inggris per tahun. Peningkatan ini juga akan menyebabkan biaya pengobatan melonjak signifikan karena infeksi bakteri yang resisten membutuhkan perawatan lebih lama dan lebih kompleks.</p>
<p>Misalnya, biaya kesehatan akibat AMR diproyeksikan meningkat menjadi USD 176 miliar per tahun secara global, termasuk lonjakan biaya di Inggris dari USD 900 juta menjadi USD 3,7 miliar dan di AS dari USD 15,5 miliar menjadi USD 57 miliar.</p>
<p>Penurunan produktivitas juga menjadi perhatian. Studi tersebut memperkirakan tenaga kerja akan berkurang hingga: 0,8% di Inggris, 0,6% di Uni Eropa dan 0,4% di AS.</p>
<p>Ironisnya, studi ini dipublikasikan di tengah gelombang pemotongan besar-besaran anggaran bantuan luar negeri. Pemerintah Inggris baru saja menghentikan pendanaan untuk Dana Fleming—program yang mendukung negara berkembang dalam memerangi AMR. Sementara itu, pemerintahan Trump juga memangkas anggaran bantuan luar negeri hingga USD 9 miliar.</p>
<p>Pemotongan tersebut dikhawatirkan memperburuk penyebaran bakteri super di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, yang akhirnya berdampak secara global, termasuk ke negara-negara G7.</p>
<p>“Negara-negara maju pun tidak kebal terhadap ancaman ini. Infeksi yang tadinya bisa disembuhkan bisa berubah menjadi mematikan jika obat-obatan kita tidak lagi bekerja,” ujar Dr. Mohsen Naghavi dari Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME).</p>
<p>Namun, studi ini juga menegaskan bahwa investasi dalam pengembangan antibiotik baru dan peningkatan akses terhadap pengobatan berkualitas dapat membalikkan situasi. Jika dilakukan secara serius, ekonomi AS diproyeksikan akan tumbuh tambahan USD 156,2 miliar per tahun, sementara Inggris bisa memperoleh keuntungan hingga USD 12 miliar per tahun pada 2050.</p>
<p>Pemerintah Inggris sendiri mengklaim telah menyusun rencana kesehatan nasional jangka panjang yang mengakui AMR sebagai salah satu ancaman utama. “Kami telah membuat kemajuan signifikan, termasuk mengurangi penggunaan antibiotik di sektor peternakan dan menerapkan model insentif bagi pengembangan obat baru. Upaya ini kami jalankan bersama mitra internasional,” ujar juru bicara pemerintah Inggris.***</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dua Pedang Romawi Langka Ditemukan di Situs Vila Kuno di Gloucestershire</title>
		<link>https://samarindanews.com/insight/2680/dua-pedang-romawi-langka-ditemukan-di-situs-vila-kuno-di-gloucestershire/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2025 11:11:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Insight]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=2680</guid>

					<description><![CDATA[Dua pedang kavaleri Romawi yang sangat langka berhasil ditemukan oleh seorang pendeteksi logam pemula dalam ekspedisi keduanya di sebuah ladang di Gloucestershire, Inggris.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dua pedang kavaleri <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Roman_Empire"><b>Romawi</b></a> yang sangat langka berhasil ditemukan oleh seorang pendeteksi logam pemula dalam ekspedisi keduanya di sebuah ladang di Gloucestershire, Inggris. Temuan ini memicu penggalian arkeologis besar-besaran yang mengungkap adanya sisa-sisa vila Romawi di atas pemukiman Zaman Besi.</p>
<p>Penemuan penting ini terjadi pada 2023 lalu, hanya sekitar satu inci di bawah permukaan tanah, di kawasan Willersey, dekat perbatasan Gloucestershire dan Worcestershire. Tim dari Cotswold Archaeology yang dipimpin oleh Peter Busby menyebut keberhasilan ini sebagai hasil dari “bintang-bintang yang sejajar,” mengingat lokasi tersebut telah bertahun-tahun disisir oleh pendeteksi logam lainnya tanpa hasil.</p>
<div class="google-auto-placed ap_container"><ins class="adsbygoogle adsbygoogle-noablate" data-ad-format="auto" data-ad-client="ca-pub-3435677365189423" data-adsbygoogle-status="done" data-ad-status="unfilled"></p>
<div id="aswift_1_host">Kedua pedang yang ditemukan diketahui merupakan jenis <i>spatha</i>—senjata panjang yang biasa digunakan oleh pasukan kavaleri Romawi pada abad kedua hingga ketiga Masehi. Salah satu pedang bahkan menunjukkan bukti pengelasan pola dekoratif, menandakan status tinggi pemiliknya, sementara pedang lainnya polos.</div>
<p></ins></div>
<p>“Pedang-pedang ini kemungkinan besar terkubur secara sengaja di halaman vila Romawi untuk menghindari rampasan oleh bangsa Saxon,” ujar Busby. Ia menambahkan bahwa kondisi pedang yang sudah sempat terpotong mesin pertanian membuat penemuan ini semakin krusial. “Jika lebih lama sedikit, mungkin keduanya sudah hancur.”</p>
<p>Penggalian lanjutan yang dilakukan pada Januari 2025, di tengah cuaca hujan deras, mengungkap fondasi bangunan vila termasuk atap keramik, genteng dari sistem pemanas bawah lantai, serta pecahan plester dinding yang dicat. Temuan ini memperkuat bukti bahwa vila Romawi pernah berdiri megah di lokasi tersebut.</p>
<p>Tidak hanya itu, arkeolog juga menemukan sisa-sisa pemukiman yang jauh lebih tua dari awal hingga pertengahan Zaman Besi (800–100 SM), termasuk kerangka manusia dengan pita besi di lengan kanannya dan tengkorak kuda di lubang terdekat.</p>
<p>Pedang-pedang tersebut kini dipamerkan di Museum Corinium, Cirencester, sejak 2 Agustus 2025. Setelah laporan akhir arkeologis diserahkan ke Historic England, pemerintah Inggris akan mempertimbangkan perlindungan situs ini sebagai monumen bersejarah.</p>
<p>Ian Barnes, arkeolog senior di Historic England, menyebut temuan ini memberikan pemahaman penting tentang perubahan pola permukiman dari Zaman Besi ke era Romawi di wilayah Gloucestershire.</p>
<h6>Sementara itu, Glenn Manning, pendeteksi logam yang menemukan pedang, mengaku sudah memiliki firasat sejak pagi hari sebelum ekspedisi dimulai. “Saya merasa akan menemukan sesuatu yang istimewa. Tapi dua pedang sekaligus? Itu benar-benar luar biasa.”</h6>
<h6><b>Sumber: </b>The Guardian</h6>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Potensi Besar Jelantah Indonesia dan Tantangan Menuju Energi Terbarukan</title>
		<link>https://samarindanews.com/insight/2078/potensi-besar-jelantah-indonesia-dan-tantangan-menuju-energi-terbarukan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 19 Apr 2025 08:33:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Insight]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://salisma.com/export/?p=2078</guid>

					<description><![CDATA[Minyak jelantah atau minyak goreng bekas atau minyak jelantah — selama ini kerap dianggap limbah tak bernilai. Namun, siapa sangka, Indonesia justru memiliki potensi jelantah terbaik di]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Minyak jelantah atau minyak goreng bekas atau minyak jelantah — selama ini kerap dianggap limbah tak bernilai. Namun, siapa sangka, <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Indonesia">Indonesia </a>justru memiliki potensi jelantah terbaik di dunia yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku energi terbarukan, seperti <i>Sustainable Aviation Fuel </i>(SAF).</p>
<p>Hal ini diungkapkan oleh Ketua Asosiasi Pengumpul Jelantah untuk Energi Baru Terbarukan Indonesia (APJETI), Matias Tumanggor, dalam Workshop Rantai Pasok Minyak Jelantah Berkelanjutan untuk SAF yang digelar di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Rabu, 16 April 2025, seperti dilansir dari laman resmi <i>BRIN</i>.</p>
<p>Menurut Matias, kualitas jelantah Indonesia menempati peringkat pertama dunia berkat bahan bakunya yang sebagian besar berasal dari minyak nabati, yang digunakan oleh sektor hotel, restoran, dan kafe di dalam negeri. “Karena mengikuti asas halal, 95% bahan yang digunakan berasal dari minyak nabati. Ini juga yang diakui oleh mitra luar negeri,” ujarnya.</p>
<p>Sayangnya, meskipun potensinya sangat besar, pemanfaatan jelantah di dalam negeri masih minim. Sebagian besar jelantah hanya dimanfaatkan untuk produk lokal seperti lilin dan sabun. Padahal bahan ini bisa menjadi komoditas strategis untuk bahan bakar ramah lingkungan. APJETI sendiri telah menginisiasi pengumpulan jelantah sejak 2010. Semakin hari, produksi maupun kesadaran masyarakat terus meningkat.</p>
<p>Matias menyoroti absennya regulasi nasional yang mengatur secara khusus tentang tata kelola minyak jelantah. Ini menyebabkan kegiatan pengumpulan masih dianggap ilegal atau menyalahgunakan bahan limbah. Padahal pengelolaan yang baik berpotensi menyelamatkan lingkungan sekaligus menjadi sumber energi bersih.</p>
<p>“Kami ingin dilibatkan dalam penyusunan regulasi karena ini menyangkut kesehatan, lingkungan, dan masa depan energi,” katanya.</p>
<p>Matias menjelaskan bahwa pengumpulan jelantah dilakukan dari berbagai sektor, mulai dari rumah tangga (melalui bank sampah atau sistem door-to-door), usaha makanan-minuman seperti hotel dan restoran, hingga UMKM, kantin, pedagang kaki lima, serta industri pertambangan. Bahkan, mereka juga menangani limbah penggorengan dari gorengan hingga kerupuk kadaluarsa.</p>
<p>Namun begitu, tantangan yang dihadapi tidak sedikit. Mulai dari tidak adanya kepastian pemanfaatan dalam negeri, belum adanya pembinaan kepada pelaku usaha kecil, hingga masih maraknya pengumpulan oleh pihak yang tidak terorganisir secara legal.</p>
<p>Untuk menjawab tantangan tersebut, APJETI telah menyiapkan sejumlah strategi: mendorong lahirnya pelaku usaha teredukasi dari desa hingga provinsi, melakukan sosialisasi masif ke masyarakat, bekerja sama dengan komunitas dan organisasi lokal, serta menggandeng BUMDes dan pemerintah daerah dalam memperluas wilayah pengumpulan hingga ke pelosok desa.</p>
<p>Workshop ini digelar oleh BRIN melalui Pusat Riset Sistem Produksi Berkelanjutan dan Penilaian Daur Hidup (PRSPBPDH), bekerja sama dengan PT Noovoleum Indonesia Investama, dengan pendekatan analisis <i>Life Cycle Assessment </i>(LCA).</p>
<p>Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir sinergi antara pemangku kepentingan untuk membangun rantai pasok minyak jelantah yang berkelanjutan dan efisien. Dengan begitu, jelantah bukan lagi sekadar limbah, melainkan peluang besar dalam mendorong transisi energi Indonesia menuju masa depan yang lebih hijau.***</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
